Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Hilangnya Nyonya tua Mo


__ADS_3

“Bos, gawat! Nyonya tua Mo tiba-tiba menghilang tadi malam,” lapor Long dari balik telepon.


“Bagaimana bisa? Cepat temukan dia!” seru Falcon.


“Chip saat ini sedang melacak keberadaannya. Menurut informasi, dia lah yang terakhir kali menemui wanita itu sebelum menghilang. Bahkan sejak bertemu dengan Chip, Nyonya Mo belum pulang ke rumahnya sama sekali,” tutur Long.


“Ada apa, Honey?” tanya Liana yang saat itu sedang berada di samping kekasihnya.


Baru saja Falcon mengatakan jika akan mengajak Liana pergi menemui seorang informan, akan tetapi informan itu justru menghilang seketika.


Wajah pria itu benar-benar terlihat serius, hingga Liana pun tak bisa menahan rasa penasarannya.


Falcon tak bisa mengatakan apapun kepada gadisnya sekarang. Dia masih fokus pada pembicaraannya dengan sang tangan kiri lewat sambungan telepon.


“Minta Chip untuk tetap selidiki apa yang ku minta, sambil dia terus mencari keberadaan  Nyonya Mo. Kalian semua geledah setiap sudut kota, dan pastikan untuk menemukan jejak keberadaan nenek tua itu!” seru Falcon.


“Baik, Bos!” sahut Long.


Sambungan terputus. Tatapan Falcon masih terus menerawang ke depan dengan urat kening yang begitu tegang.


Liana mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi sang kekasih. Kehangatan itu membuat Falcon kembali sadar, jika saat ini Liana sedang berdiri di depannya.


Dia pun meraih tangan sang gadis dan mengecupnya sekilas.


“Hem... Kita sebaiknya duduk dulu. Aku akan mengatakan sesuatu padamu,” ucap Falcon.


Keduanya pun kemudian berjalan menuju ke sofa ruang depan dan duduk di sana. Setelah itu, Falcon mengambil berkas yang disembunyikan Liana di bawah meja, atau lebih tepatnya tidak sengaja disimpan di sana.


“Bagaimana kau bisa menyadarinya?” tanya Liana saat melihat prianya mengambil benda tersebut.

__ADS_1


“Aku tak sengaja menemukannya. Tapi jika aku tak melihat semua ini, mungkin aku akan langsung menghampiri kalian berdua dan memukul pria itu di tempat karena kesal,” ucap Falcon.


“Jadi, kau langsung pergi setelah melihat ini? Kenapa?” tanya Liana.


“Karena aku udah tahu sedikit rencana mu tadi malam. Jadi meskipun aku kesal setengah mati melihatmu terus lengket dengan pria lain, tapi aku berusaha untuk tetap menahannya. Tapi kemudian aku berpikir, kenapa aku tidak membalasmu saja dengan mendekati targetmu,” ungkap Falcon.


“Ah... Rupanya kau sepicik itu. Br*ngsek! Tapi bukankah Moses Jung itu ketua geng mu yang dulu? Kau dan gadis centil itu pasti sudah dekat sejak lama bukan?” terka Liana.


Matanya memicing menatap Falcon dengan penuh kecurigaan.


“Tentu saja. Kami sangat dekat saat itu. Dia selalu menempel padaku dan tak mau jauh-jauh dariku,” ucap Falcon dengan entengnya.


Dia tak tahu jika kekasihnya itu geram sampai ke ubun-ubun. Namun melihat hal tersebut, Falcon justru menarik sang gadis masuk ke dalam pelukannya.


“Lepas! Kau belum mandi kan! Jangan sentuh aku. Kau masih kotor! Badanmu bau si j*lang itu,” ucap Liana kasar.


Dia semakin mengeratkan pelukannya pada sang gadis. Liana awalnya masih meronta, namun tiba-tiba dia teringat dengan tujuan mereka duduk di tempat tersebut.


“Tadi kau bilang ada yang mau kau katakan. Apa itu!” tanya Liana.


Falcon terdengar menghela nafas panjang sebelum memulai mengatakan masalahnya. Dia melepaskan pelukannya pada Liana, dan duduk bersandar di sofa.


“Setelah melihat dokumen itu, aku segera meminta Chip untuk menyelidiki apa yang sedang kau coba selidiki itu. Di kota kami, ada seorang wanita tua yang suka bergosip, dan sering terlihat di sekitar casino kami. Chip tak sengaja bertemu dengannya semalam, dan mengetahui sesuatu tentang Ketua Jung,” tutur Falcon.


Liana melihat raut wajah kesal, kecewa, khawatir dan marah bercampur menjadi satu di diri pria itu.


Seolah memiliki ikatan batin, dia merasakan ada sesuatu yang gawat yanga memang sedang terjadi.


Falcon menoleh ke arah Liana, dan menatapnya lekat.

__ADS_1


“Hari ini aku ingin membawamu menemuinya. Tapi dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak, setelah bertemu dengan Chip. Anak itu sampai panik mencari si nenek tua karena khawatir terjadi sesuatu padanya,” lanjut Falcon.


Pria itu meraih tangan kekasihnya dan menatapnya lekat-lekat.


“Hari ini juga kau harus ikut aku ke Empire State. Aku tak bisa membiarkanmu jauh dariku dalam kondisi seperti ini. Aku khawatir ini semua berkaitan dengan apa yang sudah kau lakukan di pesta tadi malam,” seru Falcon.


Liana nampak ragu. Dia masih harus berada di sini, setidaknya untuk berpamitan dengan sang kakek, dan memastikan semuanya aman.


“Liana,” panggil Falcon.


“Aku sudah memulainya. Jadi aku juga harus menghadapinya dan mengakhirinya. Aku akan ke Empire State sesuai rencana semula, setelah Golden Hospital rampung dikerjakan. Tapi tidak hari ini. Aku ingin memastikan semua yang ku tinggalkan di sini aman selama aku pergi,” ucap Liana.


Gadis itu balas menatap Falcon dan tersenyum tipis ke arah pria tersebut.


“Kau bisa bantu aku kan, Honey?” tanya Liana kemudian.


Falcon mengangguk. Keduanya pun kembali berpelukan, meski dalam hati mereka, kecemasan muncul karena kejadian menghilangnya sang informan secara tiba-tiba.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2