Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Peluk


__ADS_3

“Kau!?” Pekik Liana.


Gadis itu begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Namun, orang itu justru tersenyum ke arah sang gadis, dan merentangkan ibu jari dan kelingkingnya, kemudian mendekatkan ke telinganya sendiri, seolah tengah mengingatkan jika Liana sedang menerima sambungan telepon.


Gadis itu pun seketika tersadar, dan kembali berbincang dengan sang kakek.


“Ehm... Kek, mobilku sudah sampai. Nanti aku akan meneleponmu lagi. Jaga kesehatan selama aku tidak ada ya, Kek. Ku tutup dulu,” ucap Liana.


Gadis itu pun kemudian memutuskan sambung dan segera menyimpan kembali ponselnya. Pandangannya seketika langsung tertuju pada sosok yang sedang duduk di sampingnya sedari tadi.


“Hei, Tuan muda kelima. Bagaimana kau bisa ada di sini? Apa kau melarikan diri lagi dari kakek mu yang kaya raya itu?” cecar Liana pada pria yang ternyata adalah Falcon.


Pria itu kemudian memutar tubuhnya sedikit agar bisa berhadapan dengan Liana. Dia agak mendekatkan wajahnya hingga membuat gadis itu menjauhkan diri.


“Apa begini caramu menyapa orang yang sudah lama tidak kau temui? Paling tidak, tanyakan kabar atau katakan 'Hai'! Kalau seperti ini, jangankan sebuah pelukan, sepertinya aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Hei, Nona. Kau ini perempuan. Kenapa tidak bisa sedikit berperasaan sih?” gerutu Falcon.


Masih banyak kalimat yang diucapkannya di belakang, yang semua adalah keluhan, karena sikap Liana yang terkesan tak acuh dan tak peduli dengan momen pertemuan kembali mereka.


Namun, gadis itu justru merasa geli melihat sikap Falcon yang seperti ini, dan berusaha untuk menahan senyumnya. Dia terus mendengarkan ocehan Falcon yang seolah tak ada ujungnya, hingga ia berinisiatif maju dan...

__ADS_1


CUP!


... Sebuah kecupan mendarat dengan manis di bibir pria itu, yang seketika membuyarkan kalimat yang masih entah berapa alinea lagi di dalam otaknya, yang siap meluncur keluar.


Liana menjauhkan lagi wajahnya, dan dengan lembut membelai pipi pria yang masih tertegun itu.


“Kau ini cerewet sekali,” sindir Liana.


Falcon pun tersadar, namun wajahnya sudah nampak memerah. Pria itu terlihat gugup  hingga harus berdehem sebelum kembali bicara, untuk menghilangkan kegugupannya.


“Ehem... Kau curang! Itu serangan mendadak,” keluh Falcon.


“Hei, Nona. Jangan samakan aku dengan si germo itu ya,” sahut Falcon tak Terima.


Dia tak mau disamakan dengan Long yang selalu saja banyak berpikir dan mengutarakan pendapatnya. Berbeda dengan Nine yang selalu banyak bertindak dan sedikit bicara. Sekalinya bicara, sang tangan kanan selalu bisa membuat orang mendapat pencerahan.


Liana terkekeh karena melihat sisi berbeda dari Falcon yang menurutnya sangat lucu. Pria itu pun ikut tersenyum melihat gadisnya begitu ceria hari ini.


Tangannya terentang lebar, seolah meminta Liana untuk mendekat dan masuk ke dalamnya. Tanpa berucap, Liana pun paham dan segera melingkarkan lengannya di pinggang pria itu.

__ADS_1


Falcon dengan lembut mengusap surai hitam Liana yang kali ini ia biarkan terurai, sambil sesekali mencium puncak kepala gadis itu, seraya menikmati aroma wangi yang keluar dari tubuh Liana.


“Aku sangat merindukanmu,” ucap Falcon lirih.


.


.


.


.


Nungguin ya 🤭 cieeee yang seneng babang falcon nongol 🤭


kebetulan banget aku sibuk jadi beneran up date sore 😅🙏 ini juga nyicil nggak bisa sekaligus 😊 nanti nunggu bocil udah bisa dikondisikan baru ku up lagi, oke bestie 😉😘


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2