Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Akhirnya ketemu


__ADS_3

Golden City, kota maju yang berada di negera bagian A. Kota yang lebih kaya dan besar dibandingkan ibu kota negara bagian A sendiri, Grey Town.


Sebuah helikopter melintas di atas kota tersebut, membawa seorang gadis yang terus menatap datar ke arah luar, di mana gedung-gedung tinggi menjulang terlihat begitu dekat.


Di sebuah helipad yang berada di atas gedung pencakar langit, burung besi itu tengah melakukan ancang-ancang untuk mendarat.


Gedung tersebut adalah puncak teratas dari Emerald Hotel, yang dikhususkan untuk tamu VVIP yang datang dengan menggunakan kendaraan udara.


Sedangkan di bawahnya, terdapat restoran rooftoop tempat pertemuan antara Liana dengan Tuan Harvey tempo hari.


Nampak di sana Nine dan Long telah menunggu kedatangan Liana. Setelah helikopter mendarat, seorang awak membukakan pintu untuk gadis tersebut dan menuntunnya untuk turun serta menjauh dari burung besi itu.


“Selamat datang kembali, Kakak ipar,” sapa Long berteriak.


Suaranya hampir tak terdengar karena baling-baling helikopter yang terlalu berisik dan memekakan telinga.


Liana hanya tersenyum simpul mendengar sapaan dari germo nyentrik itu.


Burung besi itu pun segera pergi setelah Liana diserahkan kepada kedua anak buah Falcon.


“Nona Wu, Aku diminta untuk mengantar Anda kembali ke apartemen,” ucap Nine.


Liana mengangguk dan membiarkan Nine menuntun jalannya. Long berjalan di samping Liana sementara Nine di depan mereka.


Mereka turun menggunakan lift hingga sampai ke basement. Nine memarkirkan kendaraannya di sana, dan menempatkan beberapa anak buahnya untuk berjaga-jaga di sekitar.


Sesampainya di bawah, mereka segera naik ke mobil. Nine di kursi kemudi dan long duduk di kursi penumpang depan, sedangkan Liana duduk di kursi belakang seorang diri.


Gadis itu terlihat lebih pendiam setelah pergi dari Sky Escape. Seolah hatinya masih tertinggal di sana, dan hanya raganya yang kembali ke Golden City.


Nine dan Long pun bisa melihat hal itu. Keduanya saling bertukar pandang, seolah bertanya apa yang terjadi.


Akhirnya, Long pun membuka suara untuk mencairkan suasana.


“Bagaimana liburanmu di sana, Kakak ipar?” tanya Long.


Liana awalnya diam sambil terus melihat ke arah jalanan. Dia seketika menoleh saat mendengar Long bertanya padanya.


“Ehm, yah menyenangkan. Di sana sangat tenang dan terpencil. Cocok untuk aku sembunyi dari dunia sejenak,” jawab Liana.


“Benarkah? Sepertinya kau sangat senang tinggal di sana. Mungkin lain kali kita bisa ke sana bersama-sama. Aku akan membawamu untuk turun tebing dan berenang di laut. Kau pasti tidak merasakan air laut saat di sana bukan?” tanya Long.


“Apa kita bisa melakukannya? Dia hanya mengajakku berkeliling di atas pulau saja. Padahal air laut begitu jernih di sana,” sahut Liana.

__ADS_1


“Tentu saja. Kalau ada kesempatan lagi, aku akan ikut dan mengajakmu ke laut. Aku juga punya yak untung berkeliling pulau lho,” ucap Long.


“Wah, sepertinya seru. Baiklah. Kalau ada lain kali, aku akan mengajak kalian bedua ikut,” sahut Liana.


“Itu ide yang bagus kan?” ucap Long.


Liana tersenyum. Perbincangan singkat itu membuat mereka tak sadar jika mobil telah berhenti tepat di depan apartemen Liana.


“Kita sudah sampai, Nona. Kami akan mengantarmu sampai ke atas,” ucap Nine.


“Tidak usah, Nine. Kau kembalilah. Kecuali jika kalian mau minum kopi sebentar di tempatku,” sahut Liana.


“Terimakasih, Nona Wu. Tapi, kami harus segera kembali. Mungkin lain kali kami bisa menerima tawaran baik Anda,” ucap Nine.


“Baiklah. Kalau begitu, cukup antar aku sampai di sini saja. Kalian kembalilah. Hati-hati di jalan,” sahut Liana.


Long turun dan membukakan pintu untuk Liana.


“Ini kunci mobilmu, Kak. Tasnya juga ada di dalam mobil,” ucap Long sambil menyerahkan benda tersebut kepada Liana.


“Terimakasih atas bantuan kalian semua. Aku masuk dulu ya,” sahut Liana pamit.


Gadis itu kemudian berjalan memasuki lobi apartemen, dan menghilang di balik pintu. Long kembali ke dalam mobil dan bergabung dengan Nine.


“Kenapa mereka berdua begitu ya?” tanya Long.


“Apa maksudmu?” tanya Nine balik.


“Kau pasti ingat ekspresi wajah Falcon saat kembali dari tempat itu. Dia seolah sedih dan merasa jiwanya tertinggal disana. Seharian dia bahkan akan terus diam dan mengurung diri di tempat rahasianya,” ungkap Long.


“Bukankah itu karena dia teringat dengan ibunya lagi? Kau tahu sendiri bagaimana masa lalunya. Dia sangat merindukan ibunya dan ingin terus bersamanya di sana,” sahut Nine.


“Lalu menurutmu? Kenapa Kakak ipar juga seperti itu?” tanya Long.


Nine nampak berpikir sejenak, kemudian dia kembali ke kesadarannya dan menyalakan mesin mobil.


“Mungkin saja jiwanya juga ketinggalan di sana,” gumam Nine asal.


“Apa maksudmu?” tanya Long yang bisa mendengar gumaman temannya itu


“Jangan tanya aku. Sudahlah, ayo kita pulang. Jangan sampai kita kena marah karena bisnis kacau selama ditinggal oleh bos,” seru Nine.


Keduanya pun kembali ke Grey Town dan ke rutinitas dunia gelap mereka masing-masing.

__ADS_1


...👑👑👑👑👑...


Keesokan harinya, mentari menyapa dunia dengan sinarnya yang cerah. Gedung-gedung pencakar langit Golden City pun memantulkan kilauannya.


Liana kini tengah bersiap untuk kembali ke rutinitasnya semula. Dia seperti biasa akan menyempatkan diri melihat proses akhir pembangunan gedung apartemen warga, setelah itu baru akan meninjau lokasi pembangunan Golden Hospital yang akan segera berjalan.


Dia memandang dirinya di cermin. Beberapa kali helaan nafas berat terdengar dari bibir gadis itu. Matanya terpejam seolah tengah mengumpulkan kekuatan. Dia masih ragu apakah bisa menghadapi kakeknya serta Jimmy, setelah kejadian terakhir kali.


Setelah beberapa kali menarik nafas dalam dan menghembuskannya, Liana membuka mata dan meraih kunci mobil yang ada di atas meja rias. Dia keluar dari apartemen dan turun dengan lift menuju ke parkiran basement.


Sesampainya di sana, dia menekan tombol callback dan seketika itu, mobilnya mengeluarkan respon. Liana pun berjalan menuju mobil sport tersebut.


Chevrolet melaju membelah jalanan kota maju itu di pagi hari yang cerah. Banyak kendaraan berlalu lalang membuat sedikit kepadan di ruas jalan utama.


Butuh sekitar setengah jam lebih untuk sampai ke lokasi proyek aparteme warga di Bronze District. Liana memarkirkan mobilnya di seberang jalan, di dekat kedai kopi langganannya.


Liana meraih tas dan mencoba melihat isi di dalamnya. Dari semalam, dia lupa mengambilnya karena perasaan yang terus berkecamuk di dalam hati, membuatnya malas untuk melakukan apapun.


Dia menyalakan ponselnya, namun rupanya benda tersebut kehabisan daya. Liana pun menyambungkan kabel charger untuk mengisi kembali baterai ponselnya.


Sementara itu, dia memilih untuk keluar dan melihat pekerjaan para tukang bangunan di sana. Namun, baru saja dia menutup pintu mobilnya, seseorang meraih tangannya dari belakang dan tiba-tiba memeluknya dengan erat.


“Akhirnya ketemu,”


.


.


.


.


Pagi bestie 😁apa kabar cemuaaahhhh😘🤭


Masih pada penasaran sama identitas Falcon alias Alexander? yang kemarin ikutan liana nyangka si falcon vampir, sini kopinya, kalian sudah tertipu😅😅😅


Othor akan kasih spoiler nih, habis ini akan muncul satu orang yang diawal muncul tapi tidak terlihat lagi sampai sekarang. Dia yang nanti akan jadi kuman(kata salah satu reader) yanga bakal ngerecokin hidup liana, Christopher dan juga falcon. Siapakah dia??? yang bisa nebak pertama kali, othor kasih pulsa 25k, serius✌tapi cuma buat 3 orang aja sih yang pertama nebak bener 😇


so, yuk cepet-cepetan😁othor tunggu jawaban kalian di kolom komentar🥰


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2