
Bulan berganti, kini kehamilan Liana telah memasuki akhir trimester ketiga dan hampir mendekati waktu melahirkan.
Falcon berusaha mengatur semuanya agar bisa mengosongkan jadwal ketika waktu bersalin Liana datang. Dia ingin menjadi suami siaga dan mendampingi sang istri saat momen-momen mendebarkan itu tiba.
Namun, rencana tetap rencana. Hari perkiraan lahir yang harusnya masih beberapa hari lagi, ternyata tidak tiba tetap waktu.
Hari ini, Liana yang berdiam di rumah merasa bosan dan akhirnya memilih berjalan-jalan di halaman depan rumah sang ayah, dimana terdapat sebuah kolam air mancur yang dihuni beberapa ikan maskoki. Saat sedang berada di taman, dia merasa nyeri di sekitar perutnya, namun sebentar kemudian hilang.
Liana yang sudah terbiasa dengan kontraksi palsu yang sering terjadi akhir-akhir ini pun tak terlalu menganggap serius hal tadi.
Dia kembali berjalan-jalan mengelilingi kolam kecil, dan tiba-tiba nyeri itu datang kembali kemudian beberapa saat menghilang.
Namun, nyeri itu datang secara terus menerus dan teratur. Semakin lama semakin semakin terasa sakit. Peluh mulai keluar dari pelipis Liana, hingga wanita itu tak bisa berdiri dengan tegak.
Dia berusaha berjalan ke arah rumah, saat nyeri telah kembali menghilang. Namun, belum juga ia sampai, nyeri itu datang dan terasa semakin sakit hingga Liana merintih.
Seorang anak buah geng Jupiter yang ditugaskan Falcon untuk menjaga rumah sang mertua, melihat bahwa Liana sedang meringis kesakitan. Dia pun segera berlari menghampiri istri bosnya.
“Kakak ipar. Apa yang terjadi?” tanyanya panik.
Dia melihat peluh bercucuran dari kening Liana, ditambah remasan kuat tangan Liana yang memegangi lengan sang anak buah Jupiter tersebut.
“To... long... bawa... ke... dalam...,” seru Liana terbata di sela rasa sakitnya.
Orang itu pun mencoba memapah Liana ke dalam dan mendudukkannya di ruang tamu.
“Ada yang kau butuhkan lagi?” tanyanya.
Liana nampak kembali tenang. Wanita itu mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal sebelum kontraksi datang kembali.
Wanita itu mencoba tetap tenang, meskipun ini adalah pengalaman melahirkan pertamanya. Akan tetapi, wanita pintar itu mencoba mempraktikan apa yang sebelumnya telah diajarkan oleh sang dokter saat menghadapi proses persalinan.
“Siapkan mobil sekarang dan minta pelayan untuk mengambil tas yang berisi perlengkapan bersalin di dalam kamarku. Cepatlah!” seru Liana.
“Baik, Kakak ipar,” sahutnya.
Seperginya penjaga tadi, Liana meraih telepon rumah yang ada di dekat sofa yang ia duduki. Dia mencoba menghubungi seseorang dengan benda tersebut.
Telepon tersambung, namun tidak langsung mendapat jawaban. Disaat menunggu, nyeri kembali menyerangnya. Liana pun kembali meringis kesakitan, dengan sebelah tangan yang meremas pinggiran sofa dengan kuat.
Wanita itu mencoba bernafas dengan benar untuk mengurangi rasa nyerinya. Saat itu, sahutan terdengar dari seberang.
__ADS_1
“Halo,” sapa suara itu yang tak lain adalah Falcon.
“Ssshhh! Honey... Aku... Eehhhmmm...,” ucap Liana terbata.
Dia tak bisa meneruskan kata-katanya karena rasanya semakin sakit dari sebelumnya. Falcon yang mendengar ada yang aneh dengan suara istrinya pun merasa khawatir.
“Sweety, kamu kenapa?” ranya Falcon.
“Honey, sa... kit...,” rintih Liana.
“Ada apa? Kenapa bisa sakit?” cecar Falcon.
Nyeri kembali menghilang. Liana kembali mengatur nafas sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya.
“Ada apa, Sweety?” tanya Falcon lagi, karena Liana tak juga menjawab pertanyaannya tadi.
“Sepertinya aku akan melahirkan,” jawab Liana.
“Apa?! Sekarang? Bukannya masih beberapa hari lagi? Kenapa bisa begini?” cecar Falcon.
“Honey, bukankah dokter sudah pernah mengatakan bahwa perhitungan itu bisa tepat, bisa maju atau mundur. Dari tadi aku merasa nyeri datang dan hilang. Semakin lama semakin sakit dan panjang. Aku akan ke rumah sakit. Kita bertemu di sana saja ya,” ucap Liana.
“Baiklah. Aku akan segera ke rumah sakit sekarang. Kau hati-hati, Sweety,” Seru Falcon.
“Baiklah,” sahut Falcon.
Setelah itu, Liana ditemani oleh seorang pelayan pergi ke rumah sakit. Selama perjalanan, nyeri berkali-kali datang dan membuat semua orang panik. Namun, wanita itu mencoba tetap tenang, setidaknya agar semuanya tidak terlalu khawatir.
Sesampainya di rumah sakit, nampak Falcon telah menunggunya di sana bersama dengan Q. Kebetulan, sejak mengetahui Liana hamil, Falcon memerintahkan dokter itu untuk dipindah tugaskan ke Empire State, agar bisa membantunya saat ada kondisi darurat seperti ini.
Tampan juga dua orang perawat telah siaga dengan sebuah brangkat untuk membawa masuk Liana.
Falcon segera berlari ke arah mobil dan membantu sang istri keluar dari sana.
“Sweety, kau tak apa?” tanga Falcon.
Pria itu melihat bahwa istrinya terlihat pucat dan lemah. Dia pun segera menggendongnya dan meletakkan di atas brangkar. Kedua perawat kemudian mendorongnya masuk ke ruang UGD.
Dokter kandungan yang menangani Liana datang dan melakukan pemeriksaan. Sementara Falcon diminta untuk menunggu di luar terlebih dahulu.
“Sudah bukaan lima. Ambilkan alat USG dan juga pendentaksi detak jantung janin,” seru sang dokter.
__ADS_1
Dia kemudian memeriksa kondisi janin di dalam perut dan juga detak jantungnya. Saat itu, kontraksi kembali datang. Dokter menyarankan Liana untuk miring ke kiri dan berpegangan pada pembatas ranjang.
“Tarik nafas, keluarkan. Tarik lagi, keluarkan lagi. Yak bagus. Terus seperti itu. Bagus. Tarik, hembuskan,” seru sang dokter mengarahkan.
Liana pun mencoba mengikutinya, hingga nyeri kembali hilang.
“Anda yakin akan melahirkannya secara normal?” tanya dokter tersebut.
“Iya, Dok. Jika memungkinkan, saya ingin melahirkan secara normal,” jawab Liana di sela nafasnya yang terengah-engah.
“Kalau begitu, kita tunggu sampai sudah bukaan penuh. Tolong ditahan, karena semakin lama akan semakin sakit danpanjang. Anda akan dipindahkan ke ruang perawatan terlebih dahulu sambil menunggu waktunya tiba. Saya akan panggilkan suami Anda untuk menemani di sini,” seru sang dokter.
Dokter itu kemudian keluar dan berbicara pada Falcon. Dia menyampaikan keputusan istrinya untuk tetap melahirkan secara normal. Dia pun memberitahukan bahwa saat ini masih perlu menunggu hingga bukaan sempurna, dan meminta Falcon untuk masuk dan menemani sang istri.
Setelah mendengar hal tersebut, Falcon masuk meninggalkan Q yang masih menunggu kedatangan Peter di depan ruang UGD.
Saat baru saja masuk, dia melihat Liana yang sudah dipasang selang infus dan juga oksigen.
“Sweety, apa kau yakin ingin melahirkan secara normal? Aku tidak tega melihatmu kesakitan seperti ini,” ucap Falcon.
“Honey, aku tak apa. Semua wanita juga akan mengalami hal semacam ini. Apa lagi, ibuku dulu juga melaluinya seorang diri. Biarkan aku merasakannya juga, hem,” bujuk Liana.
“Tapi...,” sanggah Falcon.
Belum sempat ia melanjutkan, Liana kembali meringis kesakitan, dengan tangan yang meremas kuat pinggiran ranjang pasien.
Falcon yang baru melihat hal itu pun panik dan berteriak memanggil perawat. Seseorang pun datang dan melihat kondisi Liana yang tengah mengalami kontraksi kembali.
Perawat tersebut mencoba membimbing Liana agar tetap tenang dan mengambil nafas supaya bisa mengurangi rasa sakit yang teramat. Falcon yang tak tahu pun geram, karena perawat itu hanya diam dan meminta Liana untuk terus bernafas.
“Apa yang kau lakukan? Cepat lakukan sesuatu! Istriku sangat kesakitan, apa kau b*doh?” pekik Falcon.
.
.
.
.
Tegang ya bund🤭
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘