
Pagi menjelang. Sang surya pun mulai naik menyinari seluruh sudut di muka bumi ini. Tak ada celah sekecil apapun yang bisa luput dari cahayanya yang terang.
Liana dan Nona Shu nampak sudah bersiap hendak menuju ke gedung perkantoran The Palace.
“Apa kau siap?” tanya Nona Shu.
“Sedikit gugup,” sahut Liana.
Gadis itu terlihat beberapa kali menghela nafas panjang saat tengah bersiap-siap tadi, hingga membuat Nona Shu memahami kondisi psikologis dari rekannya itu.
Nona Shu hanya tersenyum ke arah pantulan Liana yang bisa ia lihat dari cermin. Dia kembali menooles wajahnya dengan bedak padat, dan kemudian mengulas lipstik berwarna peach yang membuat tampilannya segar, dengan rambut hitam pendek sebahu yang digerai begitu saja.
Liana tampak memakai make up tipis sesuai gayanya yang tak terlalu suka berdandan. Rambutnya pun selalu dikuncir satu ke atas, dengan menggendong tas punggung.
Setelah selesai berdandan, Nona Shu meraih tas tangannya menghampiri Liana yang masih duduk di sofa yang ada di dalam kamar mereka.
“Gugup itu wajar. Tapi aku yakin kamu pasti bisa menyelesaikan ini dengan baik,” ucap Nona Shu.
Liana masih terlihat meremaaas jemarinya sendiri, karena rasa gugupnya yang belum bisa ia hilangkan. Namun, bukan Liana namanya, jika ambisinya tak sebesar sang kakek. Dia pun mencoba menghirup nafas dalam-dalam dan sekali lagi menghembuskannya sekaligus.
Kedua tangannya menepuk pipi sedikit kuat, seolah membuatnya bangun dan kembali bersemangat.
“Aku pasti bisa!” serunya pada diri sendiri.
“Sudah siap?” tanya Nona Shu.
“Siap!” sahut Liana.
Kedua gadis itu pun kemudian mengambil berkas yang ada di atas meja. Liana meraih sebagian dan membantu sang senior membawanya keluar kamar.
Sesampainya di lobi hotel, Nona Shu memanggil sebuah taksi yang akan mengantar keduanya menuju ke The Palace.
Mereka tak tau, jika Falcon dan Nine telah bersiap sedari tadi di area parkir depan, menunggu kedua gadis itu turun ke bawah.
Saat taksi pergi, kedua pria itu pun mulai bergerak melajukan kendaraan dan mengikuti Liana hingga ke The Palace.
__ADS_1
Saat sampai di tempat tujuan, Liana dan Nona Shu masuk ke dalam gedung, untuk melakukan pertemuan dengan Tuan Harvey. Sedangkan Falcon, pria itu memilih mencari tempat yang berada di seberang gedung untuk mengintai gadis itu.
Di dalam gedung, Liana langsung di sambut oleh asisten Tuan Harvey, Jack Hudson, yang memang sengaja menunggu kedatangan kedua gadis tersebut.
“Selamat datang, Nona Wu, Nona Shu,” sapa Jack.
“terimakasih atas sambutannya, Tuan Hudson,” sahut Nona Shu.
“Oh, tolong jangan begitu. Panggil aku Jack saja seperti sebelumnya,” pinta Jack.
“Ehm, ku kira kami perlu sedikit sopan saat berada di wilayah Anda,” sanggah Nona Shu.
“Oh, ayo lah,” rengek Jack.
Kedua gadis itu pun nampak tertawa melihat tingkah Jack yang membuat mereka bisa cepat akrab. Pembawaannya yang supel, membuat kesan canggung tak ada sama sekali di antara mereka.
Prinsip di The Palace adalah, semua karyawan dari mulai bawah hingga ke atas, baik karyawan lama maupun baru, tidak ada senioritas dan harus bisa membawa diri agar setiap orang yang datang merasa nyaman dan tidak kapok untuk kembali lagi. Ini pun yang menjadi trik marketing dari The Palace, di mana banyak yang mengantri membeli properti mereka, meski harganya tak bisa dibilang murah lagi.
Semua properti yang dikembangkan mereka merupakan kualitas premium, dimana hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas, namun karena toleransi yang diberikan oleh manajemen The Palace, membuat masyarakat menengah pun bisa memiliki salah satu unit properti yang mereka kembangkan.
Suasana di gedung itu pun begitu terasa nyaman. Lebih mirip cafe atau tempat bersantai dari pada sebuah perusahaan besar, tempat dimana orang bekerja dengan serius setiap hari. Hal inilah yang membuat The Palace memiliki karyawan yang loyal dan berintegritas tinggi kepada perusahaan, karena timbal balik yang diberikan pun sangat sesuai.
Kedua gadis itu pun berjalan di belakang, mengikut arah langkah pria jangkung itu pergi. Lift didesain transparan, dengan dinding kaca tebal yang sangat kuat. Dari dalam lift, pengunjung bisa melihat seisi gedung yang dilewatinya.
Liana lagi-lagi dibuat takjub dengan apa yang ia saksikan di sana.
Ini baru satu gedung, dan aku sudah begitu terpesona. Bagaimana kalau aku pindah ke sini dan melihat semua gedung yang ada di kota ini, batin Liana.
Nona Shu bisa melihat mata Liana yang berbinar, saat melihat apa yang ada di dalam gedung tersebut.
“Tuan Hudson, ehm... Maksudku Tuan Jack. Apa semua ruangan di gedung ini begitu santai seperti ini semua?” tanya Liana.
Matanya terus melihat keluar kaca lift, dan tak melihat ke arah orang yang diajak bicara.
“Tuan Harvey sangat senang memanjakan karyawannya. Beliau tidak ingin menciptakan suasana kerja yang tegang dan kaku,” jawab Jack.
__ADS_1
“Apa mereka bisa bekerja dengan kondusif sesuai target? Sepertinya, ini terlalu santai dan mereka terlihat tidak serius bekerja,” sahut Nona Shu yang juga memperhatikan gerak gerik setiap karyawan yang terlihat.
“Anda salah, Nona. Justru mereka sangat kompetitif dalam mengerjakan setiap tugas yang dibebankan, dan sangat kompeten dalam bidangnya masing-masing. Tak ada satu pun dari mereka yang mengeluh atau keteteran dalam melakukan pekerjaannya,” jawab Jack.
“Benarkah?” tanya Nona Shu tak percaya.
“Ini lebih ke hubungan timbal balik, Kak. Benar begitu kan, Tuan Jack?” sahut Liana.
“Benar, Nona Wu. Ini lebih ke hukum timbal balik. Perusahaan kami berani menjamin kesejahteraan hidup dan kebebasan karyawan untuk berkreasi, mengembangkan berbagai macam ide. Sehingga mereka pun dengan sendirinya akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan,” timpal Jack.
“Wah, saya tak pernah menyangka jika hal seperti ini bisa berjalan seimbang,” sahut Nona Shu.
Jack tidak membalas lagi. Pintu lift telah terbuka dan ketiga orang itu pun melangkah keluar dari sana.
Di lantai tersebut, seluruhnya adalah ruang kerja Tuan Harvey. Begitu keluar lift, bisa terlihat hamparan rumput sintesis yang menjadi karpetnya, dan peralatan mini golf, serta meja biliar. Di salah satu sisinya, terdapat mini bar, kemudian di ujung, ada sebuah meja kerja dan di belakangnya adalah lukisan pemandangan yang didominasi warna biru langit.
Ada sebuah tangga spiral yang berada di salah satu sudut ruangan, yang menghubungkan ruangan di lantai tersebut dengan lantai yang ada di atasnya, yang merupakan tempat istirahat pribadi sang pemilik The Palace. Ruang kerja yang cukup unik, namun hal itu kembali menginspirasi Liana.
Tampak seorang pria tua sedang mengenakan kaus santai dengan celana pendek andalannya, serta topi golf dan berdiri di lintasan bola yang mengarah ke sebuah bendera.
Terlihat pria tersebut mengayunkan stik golf dan memperhatikan saat bola masuk ke dalam lubang. Dia tertawa karena sasarannya tepat.
“Tuan, Nona Wu dan Nona Shu sudah sampai,” ucap Jack.
.
.
.
.
Siang bestie 😁gimana puasanya? udah pada bolong belum nih🤭
kalau jempol kalian buat Liana, jangan ampe bolong dong ya😁🥰
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘