
Setelah melewati jalanan bukit di bagian timur Negara bagian A, kini mereka berdua menuju ke sebuah lokasi yang terdapat di pinggiran utara kota Golden City, di mana terdapat pemukiman nelayan di sepanjang pesisir utara.
Tempat ini tidak terlalu jauh dari dermaga dan juga jembatan penghubung antar pulau. Di sana, para nelayan mendirikan rumah apung di atas permukaan laut, dan sebagian ada pula yang masih berdiri di atas pantai berbatu.
Pantai di sekitar sana bukanlah pantai berpasir, melainkan pantai batu karang yang terjal, namun seiring waktu berjalan, air laut mengikis permukaannya secara perlahan, dan membuatnya bisa untuk di tinggali masyarakat nelayan tersebut
Di sebuah tempat tak jauh dari sana, saat ini tinggal seorang pria yang tengah terbaring lemas dengan badan penuh luka. Pria malang itu kini hanya bisa berbaring sambil mengandalkan kebaikan orang lain untuk mengurusnya sampai dia bisa kembali pulih.
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, dari perbukitan di sisi timur Negara bagian A, hingga akhirnya mereka tiba di tepi laut sisi utara negara bagian tersebut. Kini keduanya telah sampai di pemukiman nelayan yang ditunjukkan lewat sebuah pesan dari sang kakek.
Liana juga telah mendapatkan nomor ponsel Kenny dari Christopher, dan dia pun segera menghubungi wartawan senior itu.
Beberapa kali percobaan, namun panggilan tak juga diangkat. Saat ini, kedua orang itu tengah berhenti di sekitar pantai berkarang. Liana nampak berdiri di depan mobil sambil terus mondar-mandir tak tenang, sementara Falcon bersandar pada cap depan mobilnya.
Pria itu terus mendampingi Liana dan hanya memperhatikannya dalam diam, sambil memastikan kondisinya tetap aman.
Beberapa kali Liana berdecak kesal, karena lagi-lagi panggilannya tak dijawab.
“Apa belum tersambung juga?” tanya Falcon.
“Tersambung. Tapi ia tak juga mau menjawabnya,” keluh Liana kesal.
Gadis itu kembali mencoba menghubungi wartawan itu yang kesekian kalinya, dan ingin segera mengetahui kondisi ayahnya.
Melihat gadisnya terus saja cemas dan tak bisa tenang, Falcon pun akhirnya bertindak. Dia maju mendekat dan meraih ponsel Liana.
__ADS_1
“Hei, kenapa kau ambil ponselku?” pekik Liana.
Gadis itu mencoba meraih kembali ponselnya, sementara Falcon terlihat mengutak atik sesuatu. Tiba-tiba, pria itu mengarahkan kamera ponsel tersebut ke depan wajah Liana, dan mengambil potretnya.
Liana pun kebingungan dengan ulah pria itu.
Kemudian, Falcon menunjukkan sebuah pesan chat yang menunjukkan sebuah foto dirinya dengan caption “Aku ada di sini. Angkat teleponnya!” kepada Wartawan Liem.
Falcon kemudian menyerahkan kembali ponsel gadisnya itu.
“Mungkin saja, saat ini dia takut untuk menerima panggilan dari nomor asing. Jadi, sebaiknya kita beri dia petunjuk dan biarkan dia menghubungi kita lagi nanti,” ucap Falcon.
Liana nampak diam. Dia mencoba memahami apa yang baru saja dilakukan oleh kekasihnya itu.
Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Falcon. Aku harus sedikit bersabar dan bisa mengendalikan diri, batin Liana.
Pria itu pun kembali ke tempatnya dan menemani Liana menunggu.
“Apa aku sangat terlihat panik sekarang? Pasti kondisi ku saat ini membuatmu tidak nyaman, bukan? Aku tidak seperti gadismu yang selalu terlihat tangguh dan angkuh. Aku terlihat lemah dan menyedihkan,” ucap Liana.
Falcon melipat kedua lengannya di depan dada. Pandangannya lurus menerawang jauh ke ujung lautan.
“Aku memang baru melihat sisi mu yang seperti ini. Tapi, itu tak membuatku terganggu sama sekali. Aku hanya merasa tak tau apa yang harus ku lakukan untuk membantu mu meringankan kecemasanmu ini. Aku hanya bisa berusaha tetap bersama mu, di saat terlemah dalam dirimu muncul,” sahut Falcon.
“Apa aku bisa menganggapnya sebagai keberuntungan?” tanya Liana.
__ADS_1
“Kau lah keberuntungan dalam hidupku. Apapun yang membuatmu bahagia, pasti akan ku usahakan meski sesulit apapun itu. Jadi, lakukan apapun yang kau mau, dan jadilah dirimu sendiri. Jangan pernah tutupi sisi lemah ini dari ku, kau tahu bahwa aku ingin selalu bisa diandalkan oleh mu,” ucap Falcon.
Liana tersenyum. Dia perlahan menyandarkan kepalanya di pundak Falcon, seolah meletakkan semua beban pikiran yang selama ini ia pikul seorang diri.
“Pinjami aku bahumu saat aku merasa lelah. Pinjami aku dadamu saat aku merasa butuh sandaran. Pinjami aku hatimu saat aku kesepian. Pinjami aku dirimu saat aku ingin pulang,” ungkap Liana.
Falcon meraih tangan gadisnya, dan menggenggam jemari lentik yang sedikit kasar dari gadis itu.
“Aku milik mu, Sweety. Gunakan aku semaumu. Tak perlu pinjam lagi,” sahut Falcon.
Seketika, senyum tergambar di bibir Liana, setelah mendengar kata-kata Falcon yang cukup membuat hatinya menjadi sejuk dan tenang, di tengah kecemasannya akan nasib sang ayah
.
.
.
.
Met pagi besties 🥰semoga hari ini menyenangkan untuk kalian semua🤭
Jangan lupa jempolnya 😁yang votenya masih nganggur, hayuk kasih sini🥰😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘