Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kau rupanya


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian setelah puas menangis, Falcon mengajak Liana untuk pulang ke rumah sebelum mencari makam sang ibu. Namun Liana menolak.


“Kita sudah sampai di sini. Sebaiknya kita ke sana sekarang saja,” ucap Liana.


Kali ini, Falcon hanya bisa menurut. Karena bagaimanapun juga saat ini gadis itu sedang ingin mengetahui semua tempat terakhir sang ibu.


Sesuai petunjuk dari Nyonya tua Mo, mereka pun berjalan ke arah barat. Tak berapa lama, sebuah sungai nampak di ujung mata. Di dekat sungai, terdapat sebuah gundukan batu yang sangat besar, seolah itu adalah buatan manusia.


Liana dan Falcon pun menuju ke tempat tersebut. Di sana tak ada apapun yang bisa di jadikan petunjuk. Liana melihat ke sekitar. Tiba-tiba, ia tak sengaja menginjak sebuah papan kayu yang sudah lapuk, tergeletak di tanah dekat gundukan batu tersebut.


Gadis itu pun berjongkok dan mengambil papan itu. Falcon ikut berjongkok di depan Liana, dan meraih benda di tangan gadisnya.


Pria itu kemudian memperhatikan dan menemukan jika papan tersebut memiliki sebuah ukiran di atasnya. Dia pun kemudian mengusap lumut serta debu dari papan tersebut.


Ukirannya sudah sangat tua dan hampir tak bisa di kenali. Namun, seolah dejavu, Liana seperti pernah melihat tempat dan ukiran di papan yang seperti ini.


Kemudian dia teringat tentang mimpinya yang dulu sering muncul setiap malam, saat Vivian mengajaknya ke hutan dan berdiri di depan sebuah makam. Saat itu, Liana masih belum tahu jelas makam siapa itu, dan saat membaca tulisan di nisannya, rupanya di sana tertulis nama Lilian Wang.


Saat ini, dia memperhatikan sekitarnya dan nampak jelas jika tempat tersebutlah yang selalu muncul di dalam mimpinya.


Kemudian dia mencoba membaca ukiran yang ada di papan tersebut dan terbaca lah tulisan yang hampir hilang itu.


Seketika, air mata kembali mengalir di pipi si gadis cantik. Dia memeluk papan tersebut dengan hati-hati, seolah tengah memeluk sesuat yang sangat berharga.


Ibu. Ternyata selama ini kau sendirian di sini. Maafkan anakmu ini yang tak berbakti, Ibu, batin Liana.


Dia kembali menangis pilu di depan makam batu sang ibu. Liana benar-benar sudah tak punya tenaga lagi untuk berdiri. Hatinya benar-benar sakit melihat apa yang sudah dialami oleh sang bunda.

__ADS_1


“Bahkan, hingga akhir pun kau selalu sendiri. Harusnya aku lebih cepat menemukanmu. Maafkan aku, Bu. Maafkan aku,” gumam Liana.


Kali ini, Falcon tak bisa berbuat apapun untuk Liana. Yang dia mampu hanyalah memeluk gadis itu dan menunggu hingga tenang.


...👑👑👑👑👑...


Malam hari, Falcon mengantarkan Liana yang telah kelelahan menangis seharian kembali ke Dream Hill.


Sesuai janjinya pada sang kakek, bahwa gadis itu akan mulai tinggal di sana hari ini.


Sesampainya di rumah besar keluarga Wang, Liana masih nampak tertidur pulas, sehingga membuat Falcon harus menggendongnya masuk.


Tuan Wang yang sejak siang hari menunggu cucunya pulang, tampak masih duduk di ruang tamu pada jam yang terbilang sudah cukup malam.


Dia melihat jika Falcon tengah menggendong cucunya yang sedang tertidur. Dia pun bangkit berdiri dan menghampiri pria tersebut.


“Benar, Tuan. Dia sangat kelelahan,” jawab Falcon.


“Kelelahan?” tanya Kakek Joseph.


“Bisa saya membawanya ke kamar terlebih dulu?” tanya Falcon balik.


Kakek Joseph pun kemudian menunjukkan kamar Liana yang berada di lantai dua. Dia meminta salah seorang pelayan untuk mengantarkan pria itu ke kamar Liana.


Sesampainya di sana, Falcon membaringkan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Baru kali ini dia masuk ke kamar sang gadis di rumah besar tersebut.


Aura nona besar sangat terasa di sana. Berbeda dengan tempat tinggalnya di apartemen Golden City atau pun asrama Empire State.

__ADS_1


Falcon dengan pelan melepaskan sepatu Liana, dan menutup tubuhnya dengan selimut. Lalu, pria itu mengusap puncak kepala gadisnya dengan tatapan penuh kasih. Dikecupnya kening gadis itu sejenak dan kemudian ia berjalan keluar dari sana.


Saat baru saja menuruni anak tangga, Falcon berpapasan dengan seorang wanita yang berpakaian sedikit berbeda dari pelayan yang tadi.


“Maaf, apa Anda Tuan muda kelima Harvey?” tanya wanita itu.


"Benar. Lalu Anda?" tanya Falcon.


"Saya kepala pelayan di rumah ini. Tuan sudah menunggu Anda di ruangannya," ucap Debora, sang kepala pelayan.


"Baiklah. Tolong tunjukkan jalannya," seru Falcon.


Wanita itu pun berjalan di depan, dengan Falcon yang terus menatap tajam ke arah wanita tersebut.


Jadi kau rupanya, batin Falcon.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2