Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Berkunjung ke Dream Hill


__ADS_3

Di jalanan Golden City, tepatnya di jalur searah yang menuju ke arah bukit sebelah timur negara bagian A, tepatnya yang mengarah ke Dream Hill, sebuah mobil mercedes-benz hitam dan dua buah mobil lainnya nampak melaju dengan kecepatan sedang.


Jalan yang berkelok dan naik turun seiring dengan perbukitan di sekitarnya, membuat pengendara tak bisa sembarangan untuk menambah kecepatan.


Di samping itu, pemandangan yang begitu sejuk membuat siapa pun betah berlama-lama, untuk menikmati suasana di sekitar tempat tersebut.


Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit dari pusat kota Golden City, kini Falcon dan Liana telah tiba di depan gerbang kediaman keluarga Wang.


Pria itu membuka dashboard dan mengambil sebuah remote dari dalam sana. Dia menekan tombol biru, dan seketika gerbang terbuka dengan sendirinya.


"Wah... sejak kapan kau menduplikat benda itu?" tanya Liana saat melihat remote eksklusif yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu di lingkungan keluarganya.


"Coba tebak kapan itu?" tanya Falcon balik.


"Ish! Kau ini!" keluh Liana, karena gadis itu tak mendapatkan jawaban dari prianya.


Falcon hanya tersenyum mendengar sahutan dari Liana.


Ketiga mobil itu pun melaju memasuki halaman depan mansion dream hill milik kakek Joseph.


Sesampainya di depan rumah, Falcon keluar dari mobil, dan membukakan pintu untuk gadisnya. Sementara seorang pengawal keluar dari salah satu mobil dan menghampiri mobil yang dikemudikan bosnya.


Dia membuka pintu mobil belakang di mana terdapat dua buah kotak makan, yang telah disiapkan oleh Liana.


“Bawakan ke dalam!“ seru Falcon.


Liana menoleh ke arah prianya, dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Seperti biasa, Liana akan mengetuk pintu terlebih dahulu, sebagai tata krama yang sudah menjadi aturan tak tertulis di rumah tersebut.


Satu kali ketukan, pintu seketika terbuka dan nampak seorang pelayan, yang menyambut kedatangan kedua orang tersebut.


Liana nampak tersenyum lebar saat melihat siapa pelayan yang menyambutnya.

__ADS_1


“Kak Ella!” sapa Liana.


“Liana... Oh maaf, maksudku, Nona muda,” ucap pelayan bernama Ella.


Dia adalah pelayan yang dulu menjadi teman sekamar Liana, saat gadis itu masih bekerja sebagai pelayan di rumah kakeknya sendiri.


“Ish! Kakak, tidak usah seperti itu. Panggil saja aku seperti biasa. Tidak ada yang dengar juga kan,” keluh Liana.


Ella tersenyum mendengar perkataan gadis yang kini telah menjadi cucu tuan besarnya.


Liana merentangkan tangan dan memeluk pelayan itu.


“Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini? Apa ada hal buruk?” cecar Ella.


Liana mengurai pelukannya dan menjauhkan diri selangkah ke belakang.


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukan tempat ini dan orang-orangnya saja. Oh iya, di mana Kakek?” tanya Liana.


“Tuan besar ada di dekat danau. Masuklah,” ucap Ella.


“Aku ada makanan yang ku masak sendiri. Bisakah kakak memanaskannya untuk makan siang nanti?” tanya Liana.


“Baiklah. Serahkan padaku,” sahut Ella.


Pengawal yang sedari tadi mengikuti Liana dan Falcon pun, menyerahkan kotak makan tersebut kepada Ella, dan kemudian pelayan itu membawanya menuju ke dapur.


Sementara itu, Liana terus berjalan ke arah belakang dan menuju danau, di mana menurut Ella kakeknya sedang berada saat ini.


"Jadi, itu tadi masakanmu, hem?" sindir Falcon.


Liana hanya menyikut pelan perut prianya, karena sudah berkata bohong tadi pada Ella.


Mereka terus di kawal oleh seorang anak buah Falcon, yang memang sejak tadi ikut masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Sesampainya di dekat kandang kuda, Liana melihat dari kejauhan, sang kakek yang tengah berdiri memandangi luasnya danau di Dream Hill.


Liana melepaskan rangkulannya dari lengan Falcon, dan berlari ke arah kakeknya.


“Kakek!” panggil Liana.


Kakek Joseph menoleh dan melihat cucu perempuannya tengah berlari ke arahnya. Senyum seketika mengembang di bibir keriput pak tua itu.


“Liana!” sahut Kakek Joseph.


Tangannya terentang menyambut kedatangan cucunya yang memang sedang ia tunggu.


Liana semakin mendekat dan serta merta memeluk tubuh renta sang kakek.


“Aku merindukan mu, Kakek,” ucap Liana dengan manjanya.


“Anak nakal. Sejak kapan kau jadi se manja ini, hah?” sindir Kakek Joseph.


Liana mendongak dan menatap wajah kakeknya.


Mungkin sejak aku bertemu dengan ayah, batin Liana.


.


.


.


.


Ayo vote... ayo vote... yang masih disimpen votenya kasih ke liana yuk😁


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2