
Tiga hari berlalu sejak rapat virtual dengan yayasan Xing Ping, namun mereka belum memberikan kabar kepada Liana.
Saat ini, gadis tersebut tengah berada di cafetaria perusahaan bersama Nona Shu, untuk membahas perjalanan mereka ke Empire State menemui Tuan Harvey.
Mereka terlihat sangat serius dalam pembahasan mengenai beberapa poin yang sudah direvisi oleh kedua belah pihak.
“Ini revisi terakhir. Aku sudah mengirimkan surel kepada Tuan Harvey, dan menurutnya ini sudah sesuai. Aku pun sudah mendiskusikannya dengan Tuan Jimmy. Kata beliau ini sudah benar. Jadi, kita bisa segera melakukan perjalanan ke Empire State untuk penandatanganan kontrak,” ucap Nona Shu.
“Ehm, baiklah. Mungkin perjalanan kita akan sedikit tertunda, paling tidak sampai masalah dengannya yayasan Xing Ping selesai,” sahut Liana.
“Apa kau yakin kalau mereka akan memberikan jawaban hari ini?" tanya Nona Shu.
“Boleh jujur?” tanya Liana.
Nona Shu tak menjawab. Dia meminum cappucino hangatnya sambil melirik ke arah Liana sebagai jawaban ya.
“Tidak tau juga apa mereka akan menjawab hari ini atau tidak. Tapi satu hal yang jelas, semakin lama ditunda, kerugian untuk mereka pun akan semakin banyak. Aku sudah menghentikan semua pekerja di sana hingga mereka menghubungiku tentang bagaimana kelanjutannya,” ucap Liana.
“Ehm, seperti yang Xinbi katakan, kalau kau itu sangat hebat dalam perang psikologis. Lawan mu selalu gentar di akhir perang meski mereka begitu jumawa diawal, dan justru kau yang berdiri dengan senyum kemenangan,” sahut Nona Shu.
“Kau terlalu memuji mu, Kak. Aku bisa sombong lho,” ujar Liana.
Mereka berdua pun tertawa karena perkataan Liana terakhir kali. Nona Shu kembali menyesap minumannya sementara Liana, gadis itu mengaduk aduk manggo smoothie ice miliknya.
“Perusahaan kita baru pertama kali bekerja sama dengan yayasan ini, tapi sepertinya kamu begitu paham dengan mereka. Apa kau pernah berhubungan dengan yayasan itu sebelumnya?” tanya Nona Shu.
Liana menghentikan gerakan tangannya mendengar pertanyaan dari rekan kerjanya itu.
__ADS_1
Mungkin aku sekarang tidak perlu untuk terus berpura-pura hilang ingatan lagi. Toh sekarang kakek juga sudah tau siapa aku, ditambah aku tidak perlu lagi sembunyi dari Bibi Carol, batin Liana.
Helaan nafas panjang terdengar dari gadis itu. Dia pun kembali mengaduk minumannya dan menyedotnya sedikit untuk di cicipi.
“Ehm, aku dulu pernah kuliah dengan mengandalkan beasiswa dari mereka,” jawab Liana.
“Oh, ya? Di mana itu?” tanya Nona Shu.
“Universitas Negeri Metropolis, sebelum aku pindah ke Golden City dan melanjutkan kuliah di sini,” jawab Liana.
“Benarkah? Lalu, seperti apa mereka?” tanya Nona Shu.
“Aku tak yakin. Yang ku tau, pemilik yayasan itu adalah orang tua dari salah satu mahasiswi di sana. Dia sangat sombong dan selalu menggangguku. Setiap kali dia mencari gara-gara denganku, selalu berakhir dengan mengancam akan menghentikan beasiswaku,” ungkap Liana
“Hanya begitu?” tanya Nona Shu.
“Benarkah? Semudah itu menilai orang? Tidak ku sangka,” ucap Nona Shu.
“Itu sangat mudah terbaca, Kak. Karena orang yang punya pendirian kuat, tidak akan mungkin goyah sedikit pun hanya karena rengekan dari seorang anak manja,” sahut Liana.
Nona Shu mengangkat sebelah sudut bibirnya, ketika mendengar penilaian singkat Liana tentang orang-orang di sekitarnya.
“Kau benar. Aku setuju dengan mu. Kau memang gadis yang punya mata tajam,” puji Nona Shu.
“Hish! Sudah ku bilang jangan puji aku, nanti kepalaku membesar,” elak Liana.
Keduanya kembali tertawa. Namun, tak berselang lama, sebuah dering darin ponsel Liana mengalihkan fokus mereka berdua.
__ADS_1
Gadis itu pun meraih ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Garis bibirnya melengkung ke atas ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel.
“Sepertinya, kita bisa pergi ke Empire State minggu depan, Kak,” ucap Liana.
Gadis itu memperlihatkan pangilan masuk tersebut kepada Nona Shu. Wanita itu pun paham apa yang dimaksud oleh Liana.
“Angkatlah! segera selesaikan urusan mu itu,” seru Nona Shu.
Liana pun menggeser tombol hijau ke kanan, dan menempelkannya ke depan telinga.
“Hallo,”
.
.
.
.
Udah 3 bab ya bestie ku tercinta 😁besok sambung lagi😊
oh iya, pemenang Quizz kemarin tinggal 1 orang lagi yg belum kasih nomer hpnya, ditunggu segera ya🙏😊
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1