
Falcon meminta Liana untuk terlebih dulu mandi. Meski awalnya menolak dan hanya ingin menemani ayahnya saja, namun dengan segala bujukan Falcon, akhirnya gadis itu pun menurut dan pergi ke kamar mandi.
Di rumah panggung tersebut, terdapat sebuah kamar mandi umum dan dapur di bagian belakangnya.
Rumah itu benar-benar memiliki fasilitas yang tak kalah mewah dibandingkan dengan resort di tempat lain. Kamar mandinya dilengkapi kran air panas, pancuran dan juga bak mandi. Kondisinya pun sangat bersih.
...anggap aja atapnya tertutup ye🤭...
Bagian dapur pun memiliki kitchen set yang cukup lengkap. Microwave, oven bahkan lemari pendingin pun tersedia di sana.
Semua itu tak lepas dari pengaruh geng Jupiter, sebagai penyokong keuangan Q selama ini. Itulah sebabnya, saat Falcon melihat tempat tersebut, ia seolah tak asing dengan rumah panggung di tempat terpencil itu.
Dia teringat akan cerita Long yang meminjam sejumlah uang kepadanya, untuk sang adik yang ingin membangun sebuah tempat liburan eksklusif di suatu tempat. Dia bahkan pernah melihat foto tempat itu dari Long, saat rumah pantai ini baru saja selesai dibangun.
Terlebih, saat melihat lonceng angin di depan teras, Falcon pun melihat simbol di papan bagian paling bawah benda tersebut. Sebuah inisial yang menjadi nama sang dokter di dunia bawah, Q.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, Liana telah selesai mandi dan sudah berganti pakaian. Seorang istri nelayan meminjaminya baju bersih dan juga jaket tebal untuk dipakai di malam hari yang sangat dingin.
“Kau mandilah. Kau juga perlu mengganti baju dengan yang lebih tebal,” ucap Liana pada kekasihnya itu.
__ADS_1
Falcon tersenyum dan mengusap puncak kepala Liana, sebelum meraih handuk yang sudah tergeletak di dekatnya.
Pria itu pun mengambil baju ganti dan membawanya sekaligus ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Liana, dia duduk di salah satu bean bag yang ada di ruang depan, ditemani oleh si kecil Paulo.
“Apa di sini ada pengering rambut?” tanya Liana.
Si kecil itu tak menjawab, akan tetapi dia bergegas bangkit dan pergi menuju ke kamar yang berada di seberang kamar Peter.
Tak berselang lama, anak itu kembali dan menyodorkan sebuah hair dryer ke pada Liana.
“Di sana ada sumber listrik. Kau bisa sedikit menepi ke sisi sebelah sana,” seru anak kecil itu.
Dia menunjuk ke sebuah arah, di mana terdapat sebuah stop kontak yang bisa digunakan untuk menyalakan alat pengering rambut tersebut.
Dia pun mulai mengeringkan rambutnya dengan alat tersebut. Pandangannya terus tertuju pada anak kecil itu, dengan tatapan menyelidik.
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Liana, namun yang jelas, gadis itu seolah tertarik dengan sosok si kecil pemberani, yang dengan piawainya menjalankan kapal bermesin diesel seorang diri di lautan lepas.
Tak berselang lama, Falcon pun telah selesai mandi dan berganti pakaian. Semuanya sudah berkumpul dan Kenny telah selesai memanaskan makanan yang dikirim oleh pria nelayan tadi.
“Makan malam sudah siap,” ucap Kenny.
Semuanya mulai duduk mengelilingi makanan yang sudah terhidang di depan mereka. Liana masih terlihat tidak berselera makan, hingga Falcon harus mengambilkan makanan untuk gadisnya.
__ADS_1
“Makanlah. Aku yakin kau ingin terus merawat ayahmu hingga sembuh, bukan?” bujuk Falcon.
“Benar, Kakak ipar. Kau harus tetap sehat agar bisa menjadi asisten ku untuk merawat ayahmu itu,” timpal Q.
Helaan nafa panjang terdengar dari mulut gadis itu, sebelum akhirnya dia pun mau meraih piring yang di sodorkan oleh Falcon padanya.
Pria itu pun tersenyum, saat melihat bahwa semangat Liana masih ada dan belum padam, meski hatinya pasti begitu terpukul setelah melihat kondisi ayahnya yang begitu buruk.
.
.
.
.
ada yang masih bingung nyebut namanya Q kah? bacanya versi londo alias Inggris yes🤭
Q dibaca Kyu
tapi aku yakin, bestie semua pasti pinter-pinter khaaaaannnn🥰😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘