Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Dah, Kakek!


__ADS_3

Keesokan harinya, Liana pun bersiap menuju bandara Golden Airport dan bertolak ke Bandara Internasional Platina di Empire State.


Dia baru saja kembali dari rumah pantai Q dini hari tadi, dan langsung meluncur ke bandara. Liana telah menyiapkan semuanya sebelum berkunjung ke pulau itu, sehingga dia bisa langsung pergi tanpa packing lagi.


Saat ini, dia sedang menunggu pesawat di area tunggu bandara. Gadis yang selalu berpakai santai itu terlihat tengah memainkan ponsel pintarnya.


Tak jauh dari tempatnya berada, sekitra lima orang anak buah Falcon yang membaur dengan pengunjung bandara, terus memberikan pengawalan kepada Liana. Sedangkan tiga orang lagi bersiap untuk ikut naik ke pesawat sebagai penumpang.


Semua ini atas perintah sang bos yang begitu mengkhawatirkan keselamatan Liana, terlebih karena sikap arogan gadisnya ketika di pesta malam itu, yang mungkin juga menjadi penyebab hilangnga Nyonya tua Mo, sang informan.


Sejak resmi menjadi kekasih sang ketua gangster sekaligus calon penerus The Pelace, Liana sudah terbiasa dengan kehadiran para pengawal tersebut. Meski terasa ruang geraknya tak bisa bebas dan terus diawasi oleh sang kekasih, namun Liana sadar jika semua ini semata-mata hanya untuk melindunginya.


Dari kejauhan, nampak serombongan pria berpakaian formal, mengikuti seorang pria tua yang duduk di atas kursi roda. Seorang pria paruh baya yang mendorong kursi roda tersebut tampak familiar, dan terlihat berjalan menuju ke arah Liana berada.


“Dasar anak nakal! Apa kau tidak ingin menemui kakekmu dulu sebelum pergi, hah?” ucap pria tua itu.


Liana pun menoleh karena mendengar suara sinis yang sangat ia kenal itu. Seketika senyumnya mengembang. Dia bangkit dan menyambut kedatangan orang tua itu.


“Kakek!” panggil Liana.


“Jadi, kau masih ingat kakekmu ini?” sindir Kakek Joseph.


Liana menghampiri sang kakek dan memeluknya dari samping.


“Kenapa Kakek datang kemari?” tanya Liana.


Seketika itu, Liana mendapatkan pukulan yang cukup keras di lengannya.


“Aaaaww! Kenapa Kakek memukulku?” keluh Liana.


Gadis itu mengusap usap-usap lengannya yang sakit akibat ulah sang kakek.

__ADS_1


“Kau masih bertanya kenapa aku datang kemari? Apa kakekmu ini tidak lebih penting dari si Chen itu? Kau pergi ke sana menemuinya dan tidak datang padaku. Aku sangat kecewa,” rengek sang kakek.


Liana pun tersenyum sambil menahan tawanya. Dia kembali memeluk kakeknya yang sedang merajuk.


“Bukankah akhir pekan lalu, aku juga sudah menginap di rumah Kakek? Apa itu tidak masuk hitungan?” tanya Liana.


“Itu kunjungan rutinmu!” sahut Kakek Joseph ketus.


“Ayolah, Kek. Jangan cemburu seperti itu. Aku hanya ingin berpamitan padanya. Bukankah dia juga ayahku. Lagipula, aku sudah pernah mengatakan kapan akan pergi kepada Kakek bukan?” bujuk Liana.


Kakek Joseph tampak melunak. Dia mengusap-usap lengan Liana yang masih memeluknya dari samping.


“Apa kau harus tetap pergi ke sana? Apa tidak cukup berada di sini saja?” tanya Kakek Joseph.


“Bukankah Kakek ingin aku belajar dan berkembang? Anak burung saja harus belajar terbang sendiri agar bisa mencapai awan, pohon pisang pun harus dipisah dari indukannya agar bisa tumbuh dengan baik. Jadi, bukankah seorang anak manusia akan lebih mandiri dan berkembang jika dia pergi jauh dari orang tuanya?” ucap Liana.


“Tapi, kau sudah sejak dulu jauh dari orang tuamu, Nak. Baru kali kau dekat dengan keluargamu. Kakek masih begitu berat untuk melepasmu,” sahut Kakek Joseph.


Tak bisa dipungkiri jika pencariannya selama  lebih dari dua puluh tahun, dia baru bisa berkumpul kembali dengan sang cucu kurang dari setahun sejak dia mengetahui bahwa Liana adalah cucunya sendiri.


Gadis itu melepas pelukannya dari sang kakek. Dia kemudian berjongkok di samping kakeknya dan meraih tangan keriput itu.


“Aku hanya pergi ke sana untuk berkarir, tidak untuk selamanya di sana. Aku bisa pulang ke rumah Kakek setiap sebulan sekali atau Kakek tinggal minta aku pulang, maka akan ku usahakan untuk pulang. Bukankah kita sudah sepakat? Lagi pula, rumahku tetaplah di Dream Hill. Benar kan, Kek?” bujuk Liana.


Joseph melihat tekad yang begitu kuat di mata Liana. Dia tak tahu jika saat ini kekhawatiran gadis itu adalah meninggalkan keluarganya di tengah masalah ini.


Namun, Liana harus ke Empire State dan menyelesaikan masalahnya dengan musuh, jauh dari keluarganya. Dia berharap agar mereka semua terhindar dari efek yang ditimbulkan dari masalah ini.


Mau tak mau, dia pun harus rela pergi dan menyerahkan semua keamanan  di Golden City kepada geng Jupiter dan juga Jimmy.


Bagian informasi bandara telah mengumumkan, bahwa pesawat yang menuju Empire State akan segera lepas landas. Semua penumpang diminta untuk segera masuk ke pintu pemeriksaan.

__ADS_1


“Aku sudah harus pergi, Kek. Jaga diri Kakek baik-baik. Jangan lupa dengan penyakit Kakek. Jangan terlalu memikirkan hal-hal berat. Istirahat yang banyak, makan yang bergizi, berhenti melamun di luar karena cuaca semakin dingin...,” pesan Liana.


“Apa kau mau terus mengoceh di sini?” sela Kakek Joseph.


Liana kembali memeluk sang kakek untuk terakhir kali sebelum dia pergi.


“Aku akan sangat merindukan Kakek,” ucap Liana.


“Pergilah! Nanti kau bisa ketinggalan pesawat,” seru Kakek Joseph.


Liana pun mengurai pelukannya dan meraih tas punggung kesayangannya.


“Aku pergi dulu, Kek. Jaga diri baik-baik! Paman Jimmy, aku serahkan Kakek padamu. Laporkan kalau dia tidak mau menurut, oke! Dah Kakek!” ucap Liana.


Gadis itu melambaikan  tangan sambil menarik kopernya menuju ke pintu pemeriksaan. Kakek Joseph pun membalas lambaian tangan gadis itu.


Saat Liana sudah masuk, tampak samar-samar Kakek Joseph mengusap sudut matanya yang berair.


“Ayo kita pulang! Anak nakal itu sudah pergi,” seru Kakek Joseph.


“Baik, Tuan!” sahut Jimmy.


.


.


.


.


Hari ini segini dulu ya bestie ☺🙏othor update nya maraton, nggak di jeda😁besok udah mulai babak empire state ya, tungguin lanjutannya besok besties 😘

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2