Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kamar baru


__ADS_3

“Tempatilah kamar ibumu, Nak. Kamu pantas berada di sana,” ucap Kakek Joseph.


Liana terkejut mendengar pekataan dari sang kakek. Dia tak percaya jika kamar sang ibu yang selama ini tertutup, justru diberikan padanya.


“Kakek serius? Bukankah di sana banyak sekali kenangan Ibu yang Kakek simpan selama  ini?” tanya Liana.


“Kakek sudah memindahkan semua barang-barang ibumu ke tempat yang lebih baik. Sekarang kamar itu kosong, dan kakek berika  padamu. Isilah kamar itu dengan kenangan mu dan buat rumah ini ceria lagi,” jawab Kakek Joseph.


“Jadi, apa Kakek meminta ku untuk tinggal menetap di sini?” tanya Liana.


“Kakek tidak mau memaksamu. Tapi kalau kau bersedia, kakek akan sangat senang dengan hal itu,” sahut Kakek Joseph.


“Baiklah. Mungkin aku tidak bisa setiap hari pulang kemari, tapi setidaknya aku akan datang tiap akhir pekan dan menemani Kakek di sini. Bagaimana menurut Kakek?” tanya Liana.


“Begitu juga bagus. Lakukan sesuka mu saja, Nak. Kakek tetap merasa senang apapun yang kamu putuskan,” ucap Kakek Joseph.


Setelah mengantarkan sang kakek untuk beristirahat, Liana pamit keluar. Gadis itu sangat senang karena bisa menempati kamar ibunya, namun di sisi lain dia mendadak sedih saat matanya melihat ke arah kamar yang bertahun-tahun kosong itu.


Liana pun memilih turun dan pergi ke kamar seniornya, Ella, untuk beristirahat. Kebetulan, tasnya pun ia titipkan di sana. di tengah jalan, dia tak sengaja berpapasan dengan Debora. Sang kepala pelayan itu pun menghampiri Liana.


“Apa Anda hendak istirahat, Nona?” tanya Debora.


“Tolong jangan se formal itu padaku. Panggilah aku seperti biasanya, Nyonya. Aku masih orang yang sama,” seru Liana.


“Meski Anda masih orang yang sama, namun Anda bukan lah si pelayan yang berada di bawah arahan saya lagi. Anda adalah cucu dari tuan besar. Saya tidak bisa memperlakukan Anda dengan sembarangan seperti dulu lagi,” sahut Debora.


“Hah, padahal aku sangat suka dengan sikap Anda dulu. Tolong jangan terlalu berubah pada ku, Nyonya, atau aku tidak akan merasa nyaman lagi di rumah ini,” ucap Liana.


“Tidak akan, Nona. Kami semua akan selalu membuat Anda nyaman dan ingin terus kembali ke mari,” sahut Debora.


Liana tersenyum mendengar perkataan Debora, wanita yang selama ini selalu tegas padanya, dan jarang bersikap ramah. Apalagi setelah kejadian di ruang kerja kakek, saat dia dengan sembarangan melihat cetak biru yang ada di balik lemari buku.


Namun meskipun begitu, dia selalu profesional dan tak pernah bertindak semena-mena hanya karena dia adalah kepala pelayan di rumah besar itu. Liana tahu, semuanya dilakukan wanita itu hanya untuk ketertiban di dalam kediaman Joseph Wang tersebut.

__ADS_1


“Saya punya sesuatu yang ingin diperlihatkan. Ini sesuatu yang tuan besar siapkan untuk Anda,” ucap Debora.


“Apa itu?” tanya Liana.


“Mari ikuti saya,” seru Debora.


Kepala pelayan itu pun kemudian berjalan ke arah depan, di mana paviliun tamu berada. Sesampainya di sana, dia berdiri di depan pintu sebuah ruangan. Dengan sebuah kunci yang ia simpan di saku bajunya, kepala pelayan itu pun membuka pintu tersebut.


“Kamrilah, Nona,” seru Debora.


“Ruangan apa ini, Nyonya? Apa ini kamar ku?” tanya Liana.


“Tuan pasi sudah memberitahukan di mana kamar Anda bukan? Ini juga milik Anda. Masuklah,” jawab Debora.


Liana mendekat dan melihat ke dalam dari ambang pintu. Debora masuk terlebih dahulu dan menyalakan lampu di ruangan tersebut.


Seperti familiar, Liana pun melangkah masuk. Dia melihat satu persatu benda yang ada di dalam sana. Seperti pernah melihat sebelumnya, dan sebuah foto besar di atas ranjang seketika kembali membuat hatinya berdegup kencang.


“Ini adalah tempat kami memindahkah semua barang-barang milik Nona Lilian. Kami menatanya sama persis seperti sebelumnya,” ucap Debora.


Liana megedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Sebelumnya, dia tidak sempat melihat dengan jelas semua sudut ruangan tersebut. Karena perhatiannya langsung tertuju pada potret seseorang yang begitu mirip dengan dirinya. Ditambah, foto Vivian dan Lilian yang membuat Liana segera pergi ke Metropolis waktu itu.


Kini, dia bisa melihat dengan jelas, bagaimana kondisi kamar sang ibu sebenarnya. Dia berjalan menuju salah satu sisi, di mana terdapat banyak sekali figura yang terpajang di atas sebuah meja dan juga rak, yang berada di sebelah meja tersebut.


Liana mengamati potret tersebut. Tampak betapa cerianya wajah sang ibu di setiap foto yang terpajang di sana. Senyum cerah selalu menghiasi wajah cantik yang kini entah terbaring di mana.


Di antara semua foto, perhatiannya tertuju pada sebuah gambar sang ibu, di mana di belakangnya berdiri seorang pria yang berjarak agak jauh, namun sedikit bisa terlihat wajahnya dengan cukup jelas. Itu adalah satu-satunya foto yang di beri bingkai dengan bentuk hati.


Dia mengambilnya dan membuat Debora ikut melihat foto tersebut.


“Dia adalah ayahmu, Peter,” ucap Debora.


Liana seketika menoleh ke arah Debora, akan tetapi sekejap kemudian, dia kembali menatap foto yang berada di tangannya. Dia berusaha melihat dengan jelas rupa pria yang disebut sebagai ayahnya itu.

__ADS_1


“Dia adalah seorang arsitek jenius, sama seperti Anda. Sepertinya, bakat itu Anda peroleh dari dia,” ucap Debora lagi.


Jari Liana terulur mengusap lembut foto kedua orang tersebut. Dia berjalan ke arah meja rias yang berada tak jauh dari sana, dan duduk di kursi.


“Apa Kakek tidak setuju dengan hubungan mereka sejak awal?” tanya Liana tanpa memalingkan pandangannya dari foto tersebut.


“Maaf, Nona. Tapi sebaiknya, Anda tanyakan langsung pada tuan besar mengenal hal tersebut. Yang jelas, ayah dan ibu Anda saling mencintai satu sama lain. Foto itu diambil, saat Nona Lilian sedang berada di taman, dan Peter berada tak jauh dari sana. Dia sengaja meminta saya untuk mengambil fotonya dengan peter sebagai latar belakang. Meski dari kejauhan, Anda bisa melihat jika Peter tersenyum dan memandang penuh cinta ke arah ibu Anda,” jelas Debora panjang lebar.


Memang benar yang diucapkan Debora. Pria bernama Peter itu tengah tersenyum melihat Lilian yang dengan cerianya berfoto jauh di depannya.


Tak terasa, lengkungan ke atas terukir di bibir Lianaiana, ketika membayangkan betapa bahagianya sang ibu dan ayahnya saat itu. Namun, sejurus kemudian, hatinya kembali merasa nyeri, saat mengingta kembali isi surat yang ditinggalkan Lilian untuknya.


Betapa tragisnya kisah cinta mereka, dan harus berakhir dengan kemalangan yang bertubi-tubi.


Setetes air mata seketika jatuh di atas frame tersebut. Dadanya kembali sesak saat mengingat betapa beratnya perjuangan sang ibu mengandung dan melahirkannya di tengah kekurangan dan kelemahannya. Betapa berat hidupnya yang harus bertahan seorang diri sejak usia yang sangat muda.


Bahkan, saat ini dia pun tak tau dimana ayahnya berada dan bagaimana kondisinya. Hidupnya benar-benar hancur hanya karena ulah seseorang yang berusaha menjatuhkan kakeknya, dan berakhir dengan kemalangan semua orang.


Liana mendekap foto tersebut dengan linangan air mata yang sudah tak terbendung. Rasa rindu menyergap relung hatinya. Kerinduan yang teramat kepada kedua orang tua yang mungkin tak bisa lagi ia dapatkan.


Debora hanya bisa menatap pilu semua itu. Dia pun memutuskan untuk meninggalkan Liana sendirian di sana, menumpahkan semua beban dihatinya yang selama ini selalu ia abaikan dan pikul seorang diri.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2