Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Cucuku, Liana.


__ADS_3

Setelah menginterogasi Sid yang berakhir dengan kematian si penghianat itu, Kakek Joseph meminta Nine untuk mempertemukannya dengan bos mereka.


Nine pun mengajak Kakek Joseph dan juga Jimmy untuk masuk ke sebuah ruangan, yang sebelumnya ditempati oleh Liana dan juga Falcon.


Di ruangan tersebut, salah satu dindingnya terbuat dari sebuah kaca satu sisi, di mana hanya bisa terlihat tembus pandang dari ruangan yang sekarang di pakai Kakek Joseph dan Jimmy.


Sedangkan ruang di samping, adalah tempat Falcon dan Liana berada saat ini. Mereka berdua tengah bersiap untuk menyambut kedatangan Jessica yang tidak diketahui Jimmy dan juga Presdir Wang, oleh karena itu kaca tersebut masih tertutup kain tebal yang digunakan sebagai tirai.


Liana yang sempat menyadari sikap Kakek Joseph sedikit melunak pada Jessica belakangan ini, dan membuatnya terpaksa merahasiakan rencananya ini dari mereka berdua.


Dia pun meminta Falcon untuk memancing keduanya ketempat tersebut dengan umpan Sid si penghianat.


“Mohon tunggu di sini sebentar. Bos akan segera datang ke mari,” ucap Nine.


Sang tangan kanan itu pun meninggalkan kedua pria berbeda usia itu di sana, dan mengunci pintunya dari luar.


Sementara di ruangan sebelah, Mike sedang mengikatkan sebuah tali ke tubuh Liana, agar Jessica percaya jika gadis itu telah masuk ke dalam rencana penculikan.


“Apa kau yakin bisa melakukannya sendiri?” tanya Falcon ragu.


“Yah, aku bisa mengatasi pelacur itu sendirian. Sebenarnya, dia bukan apa-apa,” sahut Liana.


“Tapi kali ini, dia bisa saja nekad,” ucap Falcon.


“Hei, Tuan. Kalau kau menemaniku di sini, rencana ini bisa bisa-bisa malah gagal total. Kau mungkin saja akan langsung menyerangnya saat dia melakukan kekerasan sedikit padaku nanti. Lebih baik, kau tunggu saja di ruang samping bersama Paman Jimmy dan Kakek,” sanggah Liana.


Falcon nampak melihat sekeliling ruangan. Hanya ada satu lampu saja di ruangan tersebut. Dia kemudian berjalan ke salah satu sudut ruangan yang begitu gelap dan tak tersentuh cahaya.


“Kalau di sini, aku rasa tidak akan terlihat,” ucapnya.


Liana menoleh ke arah Falcon berjalan. Memang dia tidak bisa melihat keberadaan pria itu, tapi yang dikhawatirkan bukanlah terlihat atau tidak, tapi reaksi Falcon nantinya saat pertunjukan dimulai.


“Tapi kau tetap harus di luar. Aku tidak mau kau mengacaukan rencanaku ini,” Seru Liana.


“Aku janji akan tetap diam, dan hanya bertindak saat keadaan kritis saja,” bujuk Falcon.


Liana hendak mendebat lagi, namun Mike menepuk pundak Liana dan menggelengkan kepalanya, seolah memberi isyarat agar gadis itu sebaiknya menurut.


“Apa kau sedang menasehatiku, Mike?” tanya Liana.


“Bos tau apa yang dia lakukan. Anda cukup percaya saja padanya, Kakak ipar,” jawab Mike.

__ADS_1


“Hah, ya sudah. Kau boleh di dalam, tapi ingat! Jangan mengacau!” seru Liana.


“Memang kapan aku pernah mengacau?” tanya Falcon.


Liana tak menyahut. Dia lebih memilih berhenti berdebat dengan Falcon, karena sejak awal dia tak akan pernah menang melawan kata-kata bos gangster itu.


Mike masih mengikatkan tali ke tubuh Liana. Gadis itu memintanya mengikat dengan kencang, dan memberi simpul kupu-kupu yang menghadap ke dalam, sehingga bisa dengan mudah dilepaskan sendiri oleh Liana nantinya.


Setelah selesai, Liana meminta Mike untuk kembali berjaga di luar, dan menunggu kedatangan Jessica.


Saat Mike sudah keluar, Falcon kembali mendekati Liana. Dia dengan sengaja mengacak-acak rambut gadis itu hingga berantakan.


“Begini lebih meyakinkan. Tidak ada orang yang diculik tapi penampilannya masih bagus dna cantik bukan,” ucapnya.


Liana hanya memutar bola matanya kesal.


Tak berselang lama, terdengar suara dari luar. Jessica telah datang dan Falcon mulai berjalan menuju sisi sebelah kiri, di mana dinding kaca satu arah berada. Dia menarik tirai penutupnya, dan membiarkan orang yang ada di ruangan sebelah melihat semua kejadian yang akan terjadi. Sementara, dia sendiri berdiri tak jauh dari sana.


Kemudian, pintu terbuka dan seorang wanita masuk ke dalam. Dia adalah Jessica.


Jessica mengira jika Liana sudah tak berdaya. Ejekan hingga perlakuan kasar dilakukannya pada gadis yang terikat itu.


Dia tak tau jika semua yang dikatakannya telah disaksikan secara langsung, baik oleh Kakek Joseph dan juga Jimmy.


Namun, Joseph akhirnya sadar jika ini adalah rencana Liana,  untuk mengungkap kebenaran tentang Jessica.


Aku tau kau sedang mencoba memberitahu kami. Tapi kenapa harus seperti ini caranya, Lilian? Apa Jessica benar-benar sejahat itu dan melakukan penyekapan kepadamu? batin Kakek Joseph.


Perdebatan demi perdebatan terjadi. Liana awalnya berakting seolah dirinya ketakutan. Namun, setelah mendapatkan tamparan dari Jessica, dia memilih untuk kembali melakukan serangan secara psikis kepada sepupunya itu.


Benar saja. Cara itu efektif membuat Jessica terpancing dan membongkar sendiri jati dirinya, serta rencana jahat yang telah disusunnya bersama sang ibu.


Dia bahkan menyinggung soal kebol*dohan Joseph dan Jimmy, yang dengan mudahnya percaya dengan sebuah kalung. Hal itu membuat Liana geram dan berteriak ke arah kedua pria, yang saat ini sedang menyaksikan kejadian tersebut.


“DENGAR SENDIRI KAN?! BENAR DUGAAN KU. KALIAN ITU TERLALU B*DOH KARENA PERCAYA BEGITU SAJA DENGAN KALUNG ITU,” teriak Liana tiba-tiba.


Baik Jimmy dan Joseph tau betul, jika gadis itu mencoba bicara pada mereka. Joseph yang mendengar semua itu pun seketika lemas, karena sudah salah membawa pulang orang.


Hatinya kembali hancur, karena cucu yang dicarinya ternyata belum lah ia temukan. Sementara Jimmy, dia masih terus memperhatikan kejadian di dalam sana, sambil berdiri di samping tuannya.


Terlihat jika Jessica mengambil sebuah tongkat kayu, dan hendak memukul Liana dengan benda tersebut. Semua orang yang menyaksikan menjadi panik, terlebih Falcon yang berada di ruangan tersebut.

__ADS_1


Namun, tatapan dan ekspresi Liana sama sekali tidak terlihat ketakutan, malah justru semakin memprovokasi Jessica.


Saat tongkat diangkat ke atas, Liana menarik simpul ikatan dan membuat tali mengendur seketika.


Jessica terkejut akan hal itu, terlebih saat Liana berdiri dan menatapnya dengan begitu tajam. Gadis itu mundur perlahan dengan gemetar, karena tatapan Liana yang begitu mengintimidasi.


Dia bahkan tersandung kakinya sendiri hinga jatuh ke tanah. Sementara Liana, dia terus berjalan mendekat ke arah Jessica.


Liana mengambil sesuatu dari belakang bajunya. Sebuah masker penutup wajah beserta topi appolo, yang diminta dari Long sebelumnya.


“Tadi kau bilang,  kau benci dengan tatapan mataku ini karena teringat dengan gadis itu bukan?” tanya Liana.


Setelah memakai semuanya, Liana berjongkok di hadapan Jessica.


“Sekarang, coba kau lihat baik-baik! Apa kau ingat wajah ini?” tanya Liana.


Seringainya muncul dari balik penutup wajah.


Jessica semakin gemetar. Terlebih saat menyadari jika Liana dan Lilian terlihat begitu mirip, apalagi saat memakai penutup wajah.


“Kau... Kau... Liana? Tidak mungkin. Kau tidak mungkin Liana kan?!” ucap Jessica gemetar.


“Hai, sepupuku sayang. Akhirnya kau mengenaliku,” sahut Liana.


Jimmy dan Joseph terperangah mendengar pengakuan Liana di depan Jessica tadi. Mereka tak percaya jika gadis yang mereka cari selama ini, ternyata begitu dekat namun tak pernah mereka sadari.


Bahkan kemiripannya dengan sang putri, ditepis mati-matian oleh Joseph dan menganggap jika wajah Liana hanyalah hasil operasi face off.


Bulir bening pun turun dari mata tua Joseph, saat melihat sang cucu yang selama ini harus berusaha seorang diri, untuk membuka matanya tentang kebenaran ini.


Cucuku, Liana.


.


.


.


.


Udah 2 bab ya, bestie😁tinggal satu lagi nanti sorean kalo nggak ya malem lah🤭

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2