Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Stop, please!


__ADS_3

Melihat gadisnya bersikap aneh, pria itu pun mendekat dan memeluk pinggang ramping Liana dari belakang.


“Sweety, tadi kita baru saja melepas kepergian Paulo. Bukankah harusnya saat ini kau sedang sedih? Tapi, kenapa aku merasa mau tengah kesal, Hem?” tanya Falcon.


Pria itu mendekap erat tubuh kecil Liana dalam pelukannya, dan membuat punggung gadis itu bersandar di dada bidang sang kekasih.


“Tidak ada. Aku hanya sedang merasa kesal saja dengan seseorang,” sahut Liana ketus.


“Ehm... Siapa yang sudah berani membuatmu kesal? Katakan padaku, maka aku akan memukulnya,” ucap Falcon.


“Bagus. Kalau begitu, pukul saja dirimu sendiri!” sahut Liana kesal.


Mendengar gadisnya mengatakan hal itu, Falcon pun mengendurkan pelukannya dan meraih pundak Liana. Dia mengarahkan gadis itu agar menghadap ke arahnya.


“Apa kau sedang kesal denganku?” tanya Falcon dengan wajah bingungnya.


“Ku kira kau akan sedikit lebih peka. Ternyata sama sekali tak memikirkannya. Benar-benar menyebalkan,” gerutu Liana.


“Ada apa, Sweety? Katakan dengan jelas padaku!” seru Falcon.


“Aku kesal padamu. Apa kau tahu, aku ini gadis normal. Aku juga memimpikan sebuah pernikahan yang megah, mewah, dengan berbagai hiasan bunga-bunga yang indah dan mengenakan gaun cantik. Menjadi berita teratas di seluruh media bahkan hingga keluar negeri.”


“Tamu-tamu undangan yang hadir pun dari kelas atas. Bukankah kau ini cucu Tuan Harvey? Kenapa malah mengajakku menikah di kantor catatan sipil begini?” keluh Liana panjang lebar.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Falcon benar-benar gemas dengan gadisnya. Dia pun mencubit dengan keras hidung Liana hingga berubah warna.


“Sakit, Honey. Kau menganiaya aku lagi,” gerutu Liana.


Tangannya terus mengusap hidung yang terasa panas akibat ulah jahil Falcon.


“Lihat nanti setelah menikah, kau akan tahu bagaimana aku akan menganiayamu, bahkan aku yakin kau akan memintanya lagi dan lagi,” ucap Falcon lirih, tepat di depan telinga Liana.


Gadis itu meremang karena merasakan hembusan nafas sang kekasih di permukaan kulitnya.


Dia pun cepat-cepat mendorong Falcon karena wajahnya sudah memerah.


“Mesum!” pekik Liana.


Pria itu hanya terkekeh melihat gadisnya merona karena malu. Dia pun memeluk Liana dan mengusap lembut surai hitamnya.


“Kau yang katakan sendiri. Jangan ingkar janji ya,” sahut Liana.


“Tidak akan. Aku sudah berjanji di depan makam ibumu, bahwa aku akan selalu membahagiakanmu,” ucap Falcon.


Liana mendongak melihat wajah tampan kekasihnya. Falcon semakin mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir ranum itu dalam-dalam.


“I love you,” ucap Falcon.

__ADS_1


“Yah, aku tau,” sahut Liana.


“Jawaban macam apa itu?” tanya Falcon tak senang.


“Itu jawaban versiku,” sahut Liana biasa saja.


Pria itu sedikit kesal dengan kelakuan Liana, yang selalu saja merusak momen romantis yang dia buat. Otak jahilnya bekerja, dan dia pun menggelitik Liana hingga gadis itu tertawa terpingkal-pingkal.


“Aaaa.... Honey, stop! Stop! Maaf aku salah. Hahahaha... Honey, stop please! Aaaa...,” teriak Liana.


“Kau memang sekali-kali harus dihukum. Hah... Rasakan ini,” sahut Falcon.


Liana terus berteriak kegelian, namun Falcon tak peduli dan terus menggelitiki Liana hingga lemas.


Mereka sama sekali tak peduli bahwa ada orang lain yang duduk di kursi kemudi, dan melihat semua kekonyolan yang dilakukan oleh mereka berdua.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2