
Debora menoleh ke arah Liana dan memberikan kode dengan matanya, untuk meminta gadis itu masuk ke dalam.
Liana sempat bingung, terlihat dari matanya yang sedikit memicing, dengan kerutan yang jelas terlihat di kening.
Namun, Debora kembali memberi perintah tanpa kata, melainkan hanya dengan membuka lebih lebar daun pintu ruangan tersebut.
Liana pun paham dan dia dengan ragu-ragu menuruti perintah atasannya itu.
Setelah Liana masuk, Debora kembali menutup pintu dengan dirinya yang juga ke luar dari sana.
“Kemarilah!” seru Joseph.
Liana pun berjalan mendekat ke arah meja, yang ada di tengah kursi kayu di ruangan tersebut. Di sana sudah ada Jimmy dan juga Kakek Joseph, serta sebuah drafting tube panjang yang berada di atas meja tersebut.
“Kau duduklah! Ada sesuatu yang akan Jimmy sampaikan padamu,” ucap Joseph.
Cepat sekali kakek tua ini meminta Nyonya memanggilku? Kapan ketemunya? Perasaan paman itu baru saja sampai kemari, batin Liana.
Gadis itu pun menurut dan duduk di salah kursi kayu tersebut.
“Ada apa, Kek?” tanya Liana.
Joseph pun kemudian meminta Jimmy untuk membuka tabung, tersbeut dan terlihatlah gulungan kertas yang ada di dalamnya.
Pria itu mengeluarkan semuanya dan menggelar kertas-kertas itu di atas meja.
“Ini kan ...,” gumam Liana.
“Ini memang gambar mu. Aku yang menyuruhnya untuk membawa gambar hasil rancangan mu ini ke perusahaan di kota, dan meminta mereka untuk mengoreksinya,” sela Joseph.
“Ada beberapa bagian yang masih perlu diperbaiki, terutama lantai yang dikhususkan untuk galery toko brand terkenal dunia, seperti di lantai sembilan hingga sebelas. Untuk semuanya sudah sesuai, dan bahkan design kamu untuk manfaatkan setiap ruang kosong di gedung tersebut untuk area hijau, sangat bagus,” jelas Jimmy sambil menunjukkan beberapa bagian yang disebutkannya tadi.
Liana nampak memperhatikannya secara serius, dengan mata yang begitu tajam seolah hendak menembus kertas-kertas tersebut.
“Beri aku waktu tiga hari. Tidak, cukup dua hari. Akan ku perbaiki semuanya,” sahut Liana mantap, dengan mata yang tak lepas dari lembaran cetak biru di atas meja.
__ADS_1
Jimmy menoleh ke arah Joseph, sedangkan pak tua itu justru terlihat tersenyum puas. Dia pun beranjak dan berjalan menuju ke meja kerjanya. Di sana ia membuka salah satu laci, dan mengambil sesuatu dari dalamnya.
“Kau ambillah ini. Pikirkan perbaikannya dan besok kamu mulai lagi bekerja di ruangan ini,” seru Joseph.
Liana membola dengan mata yang berbinar. Dia begitu senang melihat benda miliknya yang telah sekian lama disita, akhirnya berhasil ia dapatkan kembali.
Gadis itu pun segera berjalan dan menghampiri Joseph, untuk segera mengambil kembali notebook miliknya, sebelum kakek tua itu berubah pikiran.
“Notebook ku,” ucap Liana senang.
“Sekarang kau boleh pergi. Ingat, selesaikan semua tugasmu hari ini, karena besok kamu sudah harus bekerja di ruangan ini lagi,” seru Joseph.
“Siap, Bos!” sahut Liana, sambil tangannya terangkat seraya memberi hormat. .
Gadis itu pun pergi dari ruangan tersebut.
“Benarkan, Jim. Kurang dari sepuluh persen koreksi untuknya. Kali ini, aku menang lagi,” ujar Joseph pada sang asisten.
Jimmy tak menimpali. Dia masih belum bisa menerima keputusan dari tuannya, karena belum percaya sepenuhnya dengan Liana.
...👑👑👑👑👑...
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, yang berarti satu jam lagi si pemilik rumah akan segera sampai di mansion besar itu.
Namun, Liana terlihat masih serius dengan pekerjaannya. Dia sudah menjanjikan bahwa semua akan selesai dalam waktu dua hari. Hanya tersisa hari ini yang tinggal beberapa jam lagi.
“Sedikit lagi selesai. Kita lihat, apa rencana kakek tua itu setelah ku selesaikan kan gambar ini. Tapi tunggu, kenapa aku langsung ambil tantangan ini lagi sih? Beg* bener deh! Bagaimana kalo habis ini ternyata kakek memang cuma manfaatin aku? Tapi, kalau tidak di selesaikan, sayang juga. Hah, sudah lah. Tinggal sedikit lagi. Tidak usah terlalu berharap. Cukup bangga saja kalau memang gambar ini benar-benar dibangun olehnya nanti,” ucap Liana yang berdialog dengan dirinya sendiri.
H*sratnya di bidang arsitektur dan bangunan, membuatnya selalu kalap dan tertantang jika disuguhkan sesuatu mengenai hal-hal tersebut.
Joseph yang memang jeli dalam menilai seseorang, dan mulai mengenal sifat itu dari diri Liana pun semakin ingin mencoba menggali potensi, yang selama ini disembunyikan dari semua orang.
Hingga menjelang pukul sembilan, Joseph sampai di rumah besarnya. Dia segera naik ke lantai dua, diikuti oleh Jimmy yang memang sengaja diajak untuk melihat hasil kerja Liana.
Sesampainya di sana, mereka mendapati gadis belia itu tertidur dengan kepala yang bersandar di meja gambar teknik, dengan kedua tangan sebagai bantalan.
__ADS_1
“Apa aku terlalu mengerjainya?” gumam Joseph.
Pria tua itu pun kemudian meminta Jimmy, untuk mengangkat tubuh kurus Liana dan membawanya ke paviliun belakang, di mana kamar gadis itu berada.
Saat Jimmy telah membawa Liana keluar, Joseph maju ke depan dan berdiri tepat di depan gambar hasil rancangan Liana, yang baru saja selesai diperbaiki.
Dia kemudian mengambil remote di dalam laci, kemudian menekan tombol biru, dan mengucapkan sebuah pesan suara kepada kepala pelayan rumahnya.
Alat itulah yang membuat Debora segera membawa Liana ke atas, untuk menemui Joseph dan Jimmy tempo hari, meski mereka tak bertemu.
Terlebih, karena di rumah tersebut, siapapun tidak diperbolehkan menggunakan ponsel atau pun telepon. Hanya ada satu telepon di sana, dan itu hanya digunakan untuk keperluan darurat saja.
...👑👑👑👑👑...
Keesokan harinya, Liana kejutkan dengan Debora yang pagi-pagi sekali sudah mengetuk pintu kamarnya.
Saat itu, Liana baru saja bangun dan mendapati dirinya ternyata sudah sangat kesiangan, karena kelelahan mengerjakan tugas dari Kakek Joseph. Dia sampai tak sadar jika dirinya sudah berpindah tempat secara ajaib.
“Liana!” panggil Debora dari luar, sembari mengetuk pintu semakin keras.
Gadis itu pun kalang kabut. Dia bangun begitu saja, sehingga membuat kepalanya pusing dan mengikat rambutnya cepol ke atas dengan anak rambut yang berantakan. Dia bahkan tak sadar, jika masih mengenakan pakaian kemarin.
Dengan terburu-buru, Liana segera membuka pintu dan menemui Debora.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1