
Di sebuah restoran rooftop, yang terletak di puncak gedung Emerald Hotel, nampak tiga orang tengah duduk bersama dan berbincang santai.
Mereka tengah menunggu kehadiran seseorang yang penting, dan sudah pasti sangat dinanti oleh Liana. Terlebih, karena taruhannya dengan Kakek Joseph.
Jack meminta ijin membalas pesan sebentar, sehingga perbincangan mereka pun terhenti. Di sela-sela jeda itu, Nona Shu nampak berkata lirih kepada Liana.
“Apa dia tidak jadi datang?” Bisik Nona Shu.
“Entahlah, Kak. Lebih baik, kita fokus saja untuk yang di sini. Terserah dia mau datang atau tidak,” Sahut Liana.
“Tapi, bagaimana kamu menjelaskannya kepada Tuan Wang? Bukankah beliau memintamu untuk mengajaknya?” tanya Nona Shu lagi
“Urusan dia, biar aku yang tangani. Yang jelas, saat ini urusan dengan klien lebih penting,” ucap Liana.
“Baiklah. Aku mengandalkanmu,” sahut Nona Shu.
Setelah membalas pesan, Jack kembali berbincang dengan kedua wanita di hadapannya.
“Tuan sedang menuju kemari. Sebentar lagi, beliau akan hadir di tengah-tengah kita,” ucapnya.
“Baiklah. Kami sudah tak sabar untuk menemui King of real estate seperti beliau ini,” ucap Liana yang diselipi pujian.
“Yah, Tuan kami memang senang untuk menanam modalnya di bisnis seperti itu. Nanti Anda berdua bisa kenal lebih dekat dengan beliau,” ucap Jack.
Ketiganya terlihat begitu akrab bercakap-cakap, sambil menikmati suasana restoran yang sangat indah di malam hari yang cerah ini.
Namun tiba-tiba, dari arah pintu masuk restoran, terdengar sebuah kegaduhan. Jack nampak melihat ke arah tersebut, hingga Liana dan juga Nona Shu pun ikut menoleh ke arah pandangan mata pria tersebut.
Benar saja. Di sana telah berkerumun beberapa pengunjung, seperti sedang menyaksikan sesuatu. Sayup-sayup terdengar seorang wanita tengah marah-marah kepada seseorang.
“Ada apa di sana?” tanya Nona Shu.
“Entahlah,” sahut Liana.
Namun, dari celah orang-orang yang berkumpul, dia seolah melihat Jessica berada di pusat kerumunan tersebut.
Gadis itu pun segera bangkit dan menghampiri keramaian, diikuti oleh Jack dan Nona Shu.
Liana tak bisa melihat ada apa di sana, karena beberapa pengunjung yang menyaksikan menghalangi pandangannya.
“Kenapa kau malah mengurusi hal seperti ini?” tegur Nona Shu saat telah menyusul Liana.
“Aku seperti melihat Jessica,” sahut Liana.
Jack pun sudah ikut berada di sana. Dia yang paling tinggi di antara mereka bertiga, dan mencoba melihat apa yang terjadi di tempat tersebut.
Dia begitu terkejut, saat melihat tuannya tengah berdebat dengan seorang gadis cantik dan seksi.
Begitu pun Liana, yang tak habis pikir saat melihat dengan jelas saat Jessica tengah marah-marah, terlebih dengan seorang pria tua. Dia lebih terkejut lagi, ketika menyadari jika yang dimarahi oleh penipu itu adalah Tuan Harvey, si klien potensial yang sedang coba mereka ajak bekerja sama.
Sebuah senyum tipis terbit dari bibirnya, namun sekejap kemudian, dia maju menerobos kerumunan orang-orang tersebut, diikuti oleh Jack yang memang sudah melihat jika tuannya tengah terlibat masalah.
“Permisi! Permisi!” seru Liana pada orang-orang itu.
Saat telah menembus keramaian, Liana segera pasang badan di depan tuan Harvey, dan berhadapan dengan Jessica.
“Apa yang terjadi?” tanya Nona Shu yang kebingungan, saat dia melihat Jessica di sana bersama Tuan Harvey.
“Tuan Jack, sebaiknya Anda ajak Tuan Harvey ke tempat duduk kita tadi. Biar Nona ini saya yang urus,” ucap Liana.
Jessica terkejut bukan main, saat Liana dengan sopannya berkata kepada pria tua tadi, yang dikiranya adalah seorang pria miskin biasa.
Dia bahkan hendak meraih lengan Liana, namun segera ditepisnya sebelum berhasil diraih.
Dia tak mau kedua pria itu melihat, jika Liana dan Jessica saling mengenal.
“Nona Shu, tolong kau temani tamu kita sebentar. Aku akan mengurus gadis kurang ajar ini dulu,” ucap Liana ketika Jack dan Harvey telah berlalu pergi dari sana.
“Baiklah,” sahut Nona Shu.
Wanita itu memandang kesal ke arah Jessica, dan kemudian berbalik menyusul kedua pria tadi.
“Apa dia Tuan Harvey, si klien potensial itu?” tanya Jessica yang masih tak percaya.
Tanpa berkata-kata, Liana segera menarik paksa Jessica agar pergi dari tempat tersebut. Dia menyeretnya menuju ke dalam lift, dan menekan tombol paling bawah di mana tempat parkir berada.
Liana menghempaskan lengan Jessica, hingga gadis itu masuk dan hampir membentur dinding lift.
“Bisa halus sedikit tidak sih? Kasar sekaki!” keluh Jessica yang merasa jika tangannya terasa sakit, karena genggaman erat Liana tadi saat menariknya.
Beruntung, lift sedang dalam keadaan sepi. Tak ada orang lagi selain mereka berdua.
“Kau sendiri bagaimana? Apa tidak bisa sopan sedikit saat berbicara dengan orang lain?”cecar Liana.
“Dia sudah menabrak ku, dan membuat pakaianku kusut. Apa tidak boleh kalau aku merasa kesal?” sanggah Jessica.
“Apa harus dengan menghinanya di depan umum seperti tadi? Apa kau ini sama sekali tidak punya etika, hah? Setidaknya cukup mengalah kepada orang yang lebih tua, terlebih dia adalah klien kita. Kenapa kau malah menghinanya dan mengatakan jika dia adalah pria miskin? Apa kau sudah tak waras?” cecar Liana.
“Mana ku tahu kalau dia adalah klien kita. Pakaiannya saja seperti itu,” elak Jessica.
“Oh, jadi hanya karena penampilan. Sekarang ku tanya, kau sendiri tidak sadar kalau penampilanmu seperti apa? Di sana adalah restoran bertema kebun yang sangat berkelas. Tempat orang-orang datang untuk makan, sambil menikmati suasana santai layaknya di alam terbuka. Tapi kau, lihat dirimu. Apa ini pantas untuk datang ke tempat seperi itu? Kau lebih cocok datang ke tempat hiburan malam, dan menjajakan tubuhmu di sana. Apa kau sadar itu, hah?” tutur Liana.
__ADS_1
Jessica seperti tertampar oleh perkataan Liana. Dia lagi-lagi dihina oleh gadis itu, akan tetapi tak bisa melawan sedikit pun.
Liana maju mendekat ke arah Jessica, hingga membuat gadis itu mundur dan punggungnya menyentuh dinding lift.
Liana menatap tajam ke arah Jessica, hingga membuat si gadis seksi berusaha mengalihkan pandangan dari intimidasi gadis di depannya itu
“Katakan padaku, apa maksudmu datang malam ini? Aku sangat yakin kau punya tujuan lain, hingga kau memutuskan untuk berdandan seperti ini...” terka Liana.
Gadis itu melipat kedua lengannya di depan dada, sambil memandang rendah ke arah Jessica.
“...Atau mungkin, sebutan pelacur memang sudah mendarah daging pada mu, hah?” lanjutnya.
“Kau...” Jessica geram dan mengangkat tangannya hendak menampar Liana.
Namun, dengan gesit, Liana menangkap tangan Jessica dan berbalik memukulnya dengan keras, hingga suara pukulannya menggema di dalam lift tersebut.
Terdengar pekik kesakitan dari mulut Jessica. Gadis itu segera menoleh dan hendak menyerang Liana kembali, namun, Lagi-lagi gerakannya kurang cepat hingga Liana bisa dengan mudah menangkapnya dan memberinya pukulan kedua.
“Apa masih mau lagi? Kemari lah, biar kau cepat menyadari kesalahanmu,” ucap Liana.
Jessica nampak begitu kesal. Namun, belum sempat dia bergerak, pintu telah terbuka. Mereka telah sampai di basement, tempat di mana mobil masing-masing terparkir.
“Pulanglah! Kau sudah tak bisa menemui Tuan Harvey lagi. Jika dia sampai tau kau adalah bagian dari Wang Construction, dia mungkin akan memilih membatalkan kerja sama, dan sudah pasti Kakek akan marah besar padamu,” seru Liana.
Tangannya terus menghalangi pintu lift untuk tertutup, sampai Jessica keluar dari sana.
Karena sudah sangat kesal dan tak bisa berbuat apapun lagi di tempat itu, Jessica dengan menahan marah dan malu pun akhirnya pergi.
Liana menarik lengannya dan membiarkan pintu itu tertutup untuk kemudian membawanya naik ke atas. Di dalam lift, dia mundur dan menyandarkan punggungnya ke dinding.
Helaan nafas yang terdengar begitu berat, keluar dari mulut gadis itu.
Tuhan, apa aku sudah begitu kejam? Apa aku salah karena ingin membalas mereka? Rasanya, jika langsung mengusir keduanya, tidak akan cukup untuk membalas semua rasa sakit hatiku selama ini, atas apa yang telah mereka lakukan padaku, batin Liana meratap.
.
.
.
.
Malem kan😄maaf ya beneran malem🙏😊 semoga masih keburu buat up 2 bab lagi😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
Di sebuah restoran rooftop, yang terletak di puncak gedung Emerald Hotel, nampak tiga orang tengah duduk bersama dan berbincang santai.
Mereka tengah menunggu kehadiran seseorang yang penting, dan sudah pasti sangat dinanti oleh Liana. Terlebih, karena taruhannya dengan Kakek Joseph.
Jack meminta ijin membalas pesan sebentar, sehingga perbincangan mereka pun terhenti. Di sela-sela jeda itu, Nona Shu nampak berkata lirih kepada Liana.
“Apa dia tidak jadi datang?” Bisik Nona Shu.
“Entahlah, Kak. Lebih baik, kita fokus saja untuk yang di sini. Terserah dia mau datang atau tidak,” Sahut Liana.
“Tapi, bagaimana kamu menjelaskannya kepada Tuan Wang? Bukankah beliau memintamu untuk mengajaknya?” tanya Nona Shu lagi
“Urusan dia, biar aku yang tangani. Yang jelas, saat ini urusan dengan klien lebih penting,” ucap Liana.
“Baiklah. Aku mengandalkanmu,” sahut Nona Shu.
Setelah membalas pesan, Jack kembali berbincang dengan kedua wanita di hadapannya.
“Tuan sedang menuju kemari. Sebentar lagi, beliau akan hadir di tengah-tengah kita,” ucapnya.
“Baiklah. Kami sudah tak sabar untuk menemui King of real estate seperti beliau ini,” ucap Liana yang diselipi pujian.
“Yah, Tuan kami memang senang untuk menanam modalnya di bisnis seperti itu. Nanti Anda berdua bisa kenal lebih dekat dengan beliau,” ucap Jack.
Ketiganya terlihat begitu akrab bercakap-cakap, sambil menikmati suasana restoran yang sangat indah di malam hari yang cerah ini.
Namun tiba-tiba, dari arah pintu masuk restoran, terdengar sebuah kegaduhan. Jack nampak melihat ke arah tersebut, hingga Liana dan juga Nona Shu pun ikut menoleh ke arah pandangan mata pria tersebut.
Benar saja. Di sana telah berkerumun beberapa pengunjung, seperti sedang menyaksikan sesuatu. Sayup-sayup terdengar seorang wanita tengah marah-marah kepada seseorang.
“Ada apa di sana?” tanya Nona Shu.
“Entahlah,” sahut Liana.
Namun, dari celah orang-orang yang berkumpul, dia seolah melihat Jessica berada di pusat kerumunan tersebut.
Gadis itu pun segera bangkit dan menghampiri keramaian, diikuti oleh Jack dan Nona Shu.
Liana tak bisa melihat ada apa di sana, karena beberapa pengunjung yang menyaksikan menghalangi pandangannya.
“Kenapa kau malah mengurusi hal seperti ini?” tegur Nona Shu saat telah menyusul Liana.
“Aku seperti melihat Jessica,” sahut Liana.
__ADS_1
Jack pun sudah ikut berada di sana. Dia yang paling tinggi di antara mereka bertiga, dan mencoba melihat apa yang terjadi di tempat tersebut.
Dia begitu terkejut, saat melihat tuannya tengah berdebat dengan seorang gadis cantik dan seksi.
Begitu pun Liana, yang tak habis pikir saat melihat dengan jelas saat Jessica tengah marah-marah, terlebih dengan seorang pria tua. Dia lebih terkejut lagi, ketika menyadari jika yang dimarahi oleh penipu itu adalah Tuan Harvey, si klien potensial yang sedang coba mereka ajak bekerja sama.
Sebuah senyum tipis terbit dari bibirnya, namun sekejap kemudian, dia maju menerobos kerumunan orang-orang tersebut, diikuti oleh Jack yang memang sudah melihat jika tuannya tengah terlibat masalah.
“Permisi! Permisi!” seru Liana pada orang-orang itu.
Saat telah menembus keramaian, Liana segera pasang badan di depan tuan Harvey, dan berhadapan dengan Jessica.
“Apa yang terjadi?” tanya Nona Shu yang kebingungan, saat dia melihat Jessica di sana bersama Tuan Harvey.
“Tuan Jack, sebaiknya Anda ajak Tuan Harvey ke tempat duduk kita tadi. Biar Nona ini saya yang urus,” ucap Liana.
Jessica terkejut bukan main, saat Liana dengan sopannya berkata kepada pria tua tadi, yang dikiranya adalah seorang pria miskin biasa.
Dia bahkan hendak meraih lengan Liana, namun segera ditepisnya sebelum berhasil diraih.
Dia tak mau kedua pria itu melihat, jika Liana dan Jessica saling mengenal.
“Nona Shu, tolong kau temani tamu kita sebentar. Aku akan mengurus gadis kurang ajar ini dulu,” ucap Liana ketika Jack dan Harvey telah berlalu pergi dari sana.
“Baiklah,” sahut Nona Shu.
Wanita itu memandang kesal ke arah Jessica, dan kemudian berbalik menyusul kedua pria tadi.
“Apa dia Tuan Harvey, si klien potensial itu?” tanya Jessica yang masih tak percaya.
Tanpa berkata-kata, Liana segera menarik paksa Jessica agar pergi dari tempat tersebut. Dia menyeretnya menuju ke dalam lift, dan menekan tombol paling bawah di mana tempat parkir berada.
Liana menghempaskan lengan Jessica, hingga gadis itu masuk dan hampir membentur dinding lift.
“Bisa halus sedikit tidak sih? Kasar sekaki!” keluh Jessica yang merasa jika tangannya terasa sakit, karena genggaman erat Liana tadi saat menariknya.
Beruntung, lift sedang dalam keadaan sepi. Tak ada orang lagi selain mereka berdua.
“Kau sendiri bagaimana? Apa tidak bisa sopan sedikit saat berbicara dengan orang lain?”cecar Liana.
“Dia sudah menabrak ku, dan membuat pakaianku kusut. Apa tidak boleh kalau aku merasa kesal?” sanggah Jessica.
“Apa harus dengan menghinanya di depan umum seperti tadi? Apa kau ini sama sekali tidak punya etika, hah? Setidaknya cukup mengalah kepada orang yang lebih tua, terlebih dia adalah klien kita. Kenapa kau malah menghinanya dan mengatakan jika dia adalah pria miskin? Apa kau sudah tak waras?” cecar Liana.
“Mana ku tahu kalau dia adalah klien kita. Pakaiannya saja seperti itu,” elak Jessica.
“Oh, jadi hanya karena penampilan. Sekarang ku tanya, kau sendiri tidak sadar kalau penampilanmu seperti apa? Di sana adalah restoran bertema kebun yang sangat berkelas. Tempat orang-orang datang untuk makan, sambil menikmati suasana santai layaknya di alam terbuka. Tapi kau, lihat dirimu. Apa ini pantas untuk datang ke tempat seperi itu? Kau lebih cocok datang ke tempat hiburan malam, dan menjajakan tubuhmu di sana. Apa kau sadar itu, hah?” tutur Liana.
Jessica seperti tertampar oleh perkataan Liana. Dia lagi-lagi dihina oleh gadis itu, akan tetapi tak bisa melawan sedikit pun.
Liana maju mendekat ke arah Jessica, hingga membuat gadis itu mundur dan punggungnya menyentuh dinding lift.
Liana menatap tajam ke arah Jessica, hingga membuat si gadis seksi berusaha mengalihkan pandangan dari intimidasi gadis di depannya itu
“Katakan padaku, apa maksudmu datang malam ini? Aku sangat yakin kau punya tujuan lain, hingga kau memutuskan untuk berdandan seperti ini...” terka Liana.
Gadis itu melipat kedua lengannya di depan dada, sambil memandang rendah ke arah Jessica.
“...Atau mungkin, sebutan pelacur memang sudah mendarah daging pada mu, hah?” lanjutnya.
“Kau...” Jessica geram dan mengangkat tangannya hendak menampar Liana.
Namun, dengan gesit, Liana menangkap tangan Jessica dan berbalik memukulnya dengan keras, hingga suara pukulannya menggema di dalam lift tersebut.
Terdengar pekik kesakitan dari mulut Jessica. Gadis itu segera menoleh dan hendak menyerang Liana kembali, namun, Lagi-lagi gerakannya kurang cepat hingga Liana bisa dengan mudah menangkapnya dan memberinya pukulan kedua.
“Apa masih mau lagi? Kemari lah, biar kau cepat menyadari kesalahanmu,” ucap Liana.
Jessica nampak begitu kesal. Namun, belum sempat dia bergerak, pintu telah terbuka. Mereka telah sampai di basement, tempat di mana mobil masing-masing terparkir.
“Pulanglah! Kau sudah tak bisa menemui Tuan Harvey lagi. Jika dia sampai tau kau adalah bagian dari Wang Construction, dia mungkin akan memilih membatalkan kerja sama, dan sudah pasti Kakek akan marah besar padamu,” seru Liana.
Tangannya terus menghalangi pintu lift untuk tertutup, sampai Jessica keluar dari sana.
Karena sudah sangat kesal dan tak bisa berbuat apapun lagi di tempat itu, Jessica dengan menahan marah dan malu pun akhirnya pergi.
Liana menarik lengannya dan membiarkan pintu itu tertutup untuk kemudian membawanya naik ke atas. Di dalam lift, dia mundur dan menyandarkan punggungnya ke dinding.
Helaan nafas yang terdengar begitu berat, keluar dari mulut gadis itu.
Tuhan, apa aku sudah begitu kejam? Apa aku salah karena ingin membalas mereka? Rasanya, jika langsung mengusir keduanya, tidak akan cukup untuk membalas semua rasa sakit hatiku selama ini, atas apa yang telah mereka lakukan padaku, batin Liana meratap.
.
.
.
.
Malem kan😄maaf ya beneran malem🙏😊 semoga masih keburu buat up 2 bab lagi😁
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘