
Meski awalnya menggerutu dan terkesan kecewa, bahkan Liana sempat menyinggung identitas Falcon yang hanya orang terbuang di keluarganya, namun pria itu cukup mengenal Liana dengan baik, dan tahu jika gadis itu tak bermaksud mempermalukannya.
Falcon pun mengajaknya untuk masuk dan menikmati wahana di taman hiburan tersebut.
Di sana, Liana benar-benar menunjukkan sisi lain dari dirinya. Gadis yang biasanya selalu tegas, berprinsip, keras kepala, pemberani, siapa sangka memiliki sisi kekanakan, manja dan penakut.
Falcon sampai tak henti-hentinya terkekeh karena tak tahan dengan sikap gadis itu. Berkali-kali pipi Liana menjadi sasaran kegemasan Falcon, hingga memerah dan panas.
Jika diingat, wahana yang dipilih Liana semuanya sama sekali bukan wahana ekstrim seperti bayangan Falcon, mengingat sifat Liana yang bar-bar.
Komedi putar, istana boneka, untang anting, naik perahu, dan wahana santai lainnya. Bahkan gadis itu berkali-kali meminta dibelikan pernak pernik lucu dan juga camilan manis kepada Falcon.
“Apa aku bagus memakai ini?” tanya Liana.
Gadis itu sedang berada di depan stand pedagang bandana. Dia tengah mencoba sebuah bando dengan hiasana telinga kelinci berwarna merah muda, dan meminta pendapat Falcon mengenai hal tersebut.
Falcon nampak mengusap dagunya sambil memperhatikan penampilan Liana. Pria itu menggeleng pelan. Dia kemudian mengambil sebuah bando lain, yang berbentuk telinga kucing dengan warna yang sama.
Dia memakaikannya ke kepala Liana menggantikan bando yang tadi.
“Kenapa kucing?” tanya Liana.
“Ini lebih bagus. Lebih pas untuk gadis dengan karakter sepertimu?” sahut falcon.
__ADS_1
“Maksudmu aku ini nakal dan liar seperti kucing, begitu?” tanya Liana kesal.
Falcon maju dan mendekatkan wajahnya ke telinga Liana. Dia membisikkan sesuatu di sana.
“Nakal, liar, dan menggoda,” ucap Falcon lirih.
Liana seketi merona. Dia secara tiba-tiba melayangkan pukulan keras ke pundak Falcon karena kesal dan malu.
Pria itu mengaduh sakit, namun kemudian dia terkekeh melihat wajah Liana yang semerah tomat.
“Aku tidak mau pakai ini! Menyebalkan,” keluh Liana.
Gadis itu hendak membuka bando tersebut, namun ditahan oleh Falcon.
“Jangan dilepas. Ini sangat lucu dipakai olehmu,” ucapnya.
“Kau temani aku pakai ini berkeliling saja,” ucap Liana.
Falcon menegakkan tubuhnya dan menghadap cermin untuk melihat pantulan dirinya di sana.
“Ehm... Tidak buruk juga. Aku semakin terlihat tampan,” puji Falcon pada dirinya sendiri.
“Cih! Narsis,” sindir Liana.
Falcon membayar untuk kedua bando tersebut. Dia kemudian meraih tangan Liana, dan mengajaknya uuntuk kembali berkeliling.
__ADS_1
Semua orang di sana memperhatikan pasangan yang terlihat menikmati waktu kebersamaan mereka itu.
Meski kadang Liana berbicara seenaknya dan membuat sedikit cekcok, namun tetap saja mereka terlihat bahagia.
Semburat merah jingga di ufuk barat, terlihat begitu hangat. Sang surya seolah tengah mengucapkan perpisahan pada hari ini. Sinar yang jatuh di atas air laut, memantulkan kilau keemasan yang menciptakan suasana yang romantis.
Falcon mengajak Liana untuk naik ke atas sebuah bianglala raksasa yang ada di taman bermain tersebut. Namun, saat sudah sampai di depan benda tersebut, Liana berhenti melangkah dan menarik tangan Falcon hingga pria itu pun berhenti dan menoleh.
“Ada apa? Kau tidak mungkin takut ketinggian bukan. Setahuku hobimu itu naik turun gedung dengan mesin crane,” tanya Falcon.
“Naik yang lain saja. Aku takut kalau nanti mesinnya tiba-tiba mati dan kita terjebak di atas, seperti di film-film,” ucap Liana.
Falcon nampak tak percaya dengan apa yang dikatakan Liana tadi. Dia pun hanya geleng-geleng kepala menghadapi gadis di depannya.
.
.
.
.
Ku kasih sarapan dikit dulu ya, ntar siang atau sore kalau udah sempet ku kasih banyak-banyak 😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘