Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Si kecil Paulo


__ADS_3

Malam hari di tengah laut, di sebuah pantai kecil yang diselimuti oleh tebing batu karang yang menjulang bak bukit, sebuah rumah panggung yang begitu nyaman berdiri di sana.


Pantainya yang berpasir putih, dan air lautnya yang begitu jernih, membuat mata tak henti-hentinya berdecak kagum memandangi alam sekitar.


Setelah makan malam bersama, semua orang melakukan aktifitasnya masing-masing. Q terlihat tengah mengotak atik laptopnya sambil sesekali melakukan panggilan keluar, begitu pun Kenny yang nampak sedang mengedit sebuah berita yang harus segera ia kirimkan malam ini juga. sedangkan Falcon, Liana dan si kecil Paulo, terlihat sedang duduk di bean bag sambil melihat tayangan yang ada layar televisi.


Namun sesungguhnya, Liana tak benar-benar sedang menikmati siaran televisi, melainkan terus menatap tajam ke arah anak kecil yang duduk tak jauh di depan Liana.


“Hei, anak kecil!” panggil Liana.


Akhirnya, rasa ingin tahunya menang dan Liana pun mulai mengajak bicara anak kecil tersebut.


Si kecil Paulo pun menoleh sekilas, namun kembali memalingkan wajahnya ke arah benda kotak dengan layar datar di depannya.


“Hei, Bocah! Sopan sedikit lah kalau dipanggil oleh orang yang lebih tua darimu,” seru Liana kesal.


Anak itu pun tak menyahuti dan hanya ber hem ria, membuat Liana semakin kesal dibuatnya. Sebuah bantal duduk yang tergeletak di sekitar mereka pun melayang mengenai kepala anak itu.


“Hei, Nona!” pekik si kecil Paulo.


“Apa? Kau yang mulai terlebih dulu!” sela Liana cepat.

__ADS_1


Gadis itu bahkan sampai menegakkan duduknya yang sedari tadi bersandar nyaman di bean bag.


“Ada apa kau memanggilku?” tanya si kecil itu ketus.


Dia mengusap-usap kepalanya yang masih terasa pusing karena dilempar dengan bantal.


“Dari mana asalmu? Lahir di mana kau dulu? Siapa nama ayahmu?” cecar Liana seketika.


Anak kecil itu pun mengerutkan kedua alisnya karena tak paham dengan maksud pertanyaan Liana tadi.


“Untuk apa kau bertanya hal pribadi padaku? Seingat ku, kita belum cukup dekat untuk membahas hal tersebut,” sanggah si kecil Paulo.


“Hei, Anak kecil. Aku hanya bertanya saja. Apa susahnya kau menjawab semua itu?” keluh Liana kesal.


“Bukan urusan mu!” sahut si kecil Paulo tak kalah ketus.


“Kau ini...,” ucap Liana terhenti.


Dia sadar jika suaranya sudah terlalu keras, dan bisa mengganggu istirahat sang ayah di dalam sana. Bahkan, Kenny dan juga Q yang sedari tadi fokus dengan pekerjaan mereka pun menoleh, karena berisiknya Liana saat beradu debat dengan Paulo.


“Ehem! Bisakah kalian diam?” tanya Falcon menengahi kedua orang yang terus berdebat sejak tadi.

__ADS_1


“Ini bukan salah ku. Tapi kekasihmu yang b*doh ini yang mengajakku berdebat dari tadi,” sahut si kecil Paulo kesal.


"Apa? B*doh katamu!?" tanya Liana tak percaya dengan ucapan anak kecil itu.


Falcon meraih tangan gadisnya agar dia berhenti bicara.


Sementara si kecil Paulo, dia seolah tak peduli dan kembali berbalik lalu fokus pada layar datar di depannya.


Falcon, sedikit mendekat ke arah gadisnya yang memang ada di sampingnya. Liana nampak masih bersungut-sungut karena perkataan Paulo tadi.


“Kenapa kau ingin tahu sekali tentang anak ini? Apa dia mengingatkanmu pada mantan calon suami mu dulu, hah?” tanya Falcon.


.


.


.


.


Met pagi bestie 🥰sarapan datang😁

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2