Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kamar di sayap kanan


__ADS_3

...📢Mohon maaf sebelumnya, othor harus mengganti cover novel ini, karena peraturan hak cipta yang bisa mengenai othor yg asal comot foto artis Korea🙏...



...Cover lama...



...Cover baru...


...Semoga tidak mengurangi kenyamanan pembaca sekalian. Terimakasih🙏...


...👑👑👑👑👑...


“Aku ingin kau masuk ke dalam sana,” seru Joseph.


Liana semakin mengerutkan keningnya, hingga kedua alisnya seolah menyatu. Belum habis keterkejutan Liana, Joseph kembali melanjutkan kata-katanya.


“Aku sudah sangat lama mencarinya, tapi sampai sekarang pun belum berhasil ku temukan,” ucap Joseph.


Liana melihat gurat kesedihan di wajah tua itu. Dia pun berjongkok di hadapan Kakek Joseph, dan menggenggam tangan keriputnya.


“Terkahir kali, aku mendengar jika pelayannya berada di Metropolis dan dia membawa cucuku serta. Bukan kah kau berasal dari sana juga?” ucap Joseph.


“Apa? Benarkah itu, Kek?” pekik Liana yang semakin terkejut.


“Yah, itu benar. Aku sudah tak tau lagi harus berbuat apa. Bukankah kau berasal dari sana?” tanya Kakek Joseph memastikan.


“Yah, aku memang berasal dari sana. Apa kakek memintaku untuk mencari pelayan yang membawa pergi cucu kakek itu?” tanya Liana.


“Apa mungkin?” tanya Joseph memastikan.


“Entahlah. Aku sudah lama tidak ke sana, dan bahkan aku juga hilang ingatan. Tapi jika memang kakek mau, aku bisa mencobanya, Kek,” jawab Liana.


Dia memang sangat ingin membantu Kakek Joseph untuk menemukan cucunya, tapi dia pun tak boleh lupa jika saat ini, dia masih berpura-pura hilang ingatan.


“Aku akan meminta Debora mengajakmu masuk ke sana. Ada sebuah foto yang memperlihatkan saat putriku bersama pelayannya,” ucap Joseph.


“Kenapa tidak minta Nyonya Debora untuk mengambilkannya saja, Kek? Kenapa aku harus yang masuk ke sana?” tanya Liana bingung.


“Aku tidak ingin ada barang-barangnya yang dilihat oleh orang lain tanpa ijinku. Jadi, aku memintamu untk masuk dan melihatnya sendiri di sana,” jawab Joseph.

__ADS_1


Hah, baiklah. Aturan di rumah ini adalah mutlak milik Kakek Joseph yang aneh, gerutu Liana dalam hati.


Melihat Liana hanya diam, Joseph kembali meneruskan kata-katanya.


“Kenapa? Apa kau takut masuk ke sana? Apa pelayan-pelayan itu menceritakan kisah hantu di kamar sebelah?” ejek Kakek Joseph.


“Tidak... Tidak! Tentu saja tidak. Mana ada hantu di dunia ini? Aku sama sekali tak percaya. Baiklah, aku akan masuk ke sana, tapi kakek yang bilang ke Nyonya Debora yah. Soalnya, dia selalu galak jika berbicara dengannku,” keluh Liana.


“Baiklah,” sahut Joseph.


Garis bibirnya melengkung ke atas. Tak disangka, Kakek Joseph tersenyum menatap Liana. Bahkan, tangannya pun menepuk-nepuk tangan Liana yang juga menggenggam tangan kakek tua itu.


“Terimakasih,” ucap Joseph.


...👑👑👑👑👑...


Setelah berbincang dengan Kakek Joseph, Liana berjalan menuju ke taman belakang dan duduk bersantai di tepi danau yang sepi.


Suasana alami yang begitu dirindukannya, selama kesibukan yang terus dijalani di Golden City.


Nampak di kejauhan, Morgan tengah merawat kuda-kuda milik kakek tua itu. Sejurus kemudian, kenangan Liana saat diajak berkuda olehnya pun kembali berkelebat


Alangkah bahagianya menjadi cucu kakek. Apa aku mulai serakah, karena menginginkan hal yang bukan milik ku? batin Liana.


Lumut dan alga, serta tumbuhan air lainnya, turut menjadi hiasan alami di sana. Liana selalu senang mencelupkan kedua kakinya, dan bermain sambil menendang-nendang air di danau.


Angin berhembus sejuk menerpa kulitnya, dan udara pun begitu segar saat terhirup oleh indra pembauannya.


Gadis itu menumpukan kedua tangannya ke belakang untuk menyangga badannya, dengan mata yang tertutup rapat. Perlahan, dia hirup udara nan sejuk di sana dalam-dalam, dan menghembuskannya sekaligus.


Betapa damai perasaan Liana saat itu, hingga Debora akhirnya datang, dan membuatnya harus menyudahi relaksasi singkatnya.


“Tuan memintaku untuk membawa mu ke suatu tempat,” ucap Debora.


Liana pun menoleh dan melihat kehadiran kepala pelayan wanita di sana. Dia mendengar perkataan Debora tadi, dan gadis itu pun memutuskan untuk menarik kembali kakinya ke atas, lalu mengambil sepatu yang ada di sampingnya.


“Iya, saya sudah tau, Nyonya,” sahut Liana.


Debora pun berbalik dan berjalan menuju ke rumah utama, diikuti Liana di belakangnya, yang berjalan tanpa alasan kaki.


Gadis itu bermaksud untuk menggunakannya nanti saat di dalam rumah, setelah mencuci kakinya terlebih dulu.

__ADS_1


Namun, nampaknya Debora tidak memberi Liana waktu untuk melakukan hal tersebut. Dia terus berjalan dan naik ke lantai dua. Akhirnya, Liana pun menaruh sepatunya di luar, di dekat dapur dan hendak memakainya nanti.


Gadis itu berjalan menuju ke ujung kanan lantai dua, di mana menurut pelayan yang ada di mansion besar tersebut, kamar itu tak pernah tersentuh oleh siapa pun kecuali tiga orang, yaitu Kakek Joseph, Jimmy dan Debora. Namun kali ini, dia akan masuk dan melihat rahasia di balik pintu kayu itu.


Debora nampak sudah berdiri di depan pintu, dengan tangan yang bersiap memutar gagangnya. Entah kenapa, perasaan Liana begitu tegang saat hendak masuk ke dalam sana. Seolah ada perasaan takut.


"Apa aku sudah termakan gosip soal hantu di kamar ini? Hah, yang benar saja," gumam Liana lirih.


Dia bahkan memegangi dadanya, dengan degupan jantung yang berpacu semakin kencang, saat jaraknya sudah semakin dekat dengan pintu.


“Bisakah kau cepat sedikit?” seru Debora.


“Maaf,” sahut Liana.


Gadis itu kini telah berada di depan pintu. Debora pun mulai memutar handle nya dan pintu itu terbuka.


Gelap. Pertama kali yang dirasakan oleh Liana adalah gelap dan dingin. Gadis itu pun masuk ke dalam, dan mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Secercah cahaya sang matahari yang mengintip dari balik tirai, membuat dia bisa sedikit melihat apa yang ada di dalam sana.


Debora kemudian menekan saklar lampu, dan membuat ruangan tersebut terang benderang.


Nampak lah sebuah kamar yang begitu terlihat seperti ruang pribadi seorang putri, dengan warna-warna pastel yang begitu dominan memenuhi ruangan tersebut.


Meski jarang dimasukin orang, namun ruangan tersebut terlihat begitu bersih dan rapi, karena Kakek Joseph selalu meminta Debora merawatnya setiap hari.


Ranjangnya begitu besar, dengan sebuah foto seorang gadis belia yang tersenyum ceria tepat di atasnya. Dada Liana berdegup begitu kencang, saat melihat kemiripan di antara mereka berdua.


“Ini ...,” tanya Liana tertahan.


.


.


.


.


Seperti yang sudah othor sampaikan di awal, kalau setiap hari sabtu, minggu dan tgl merah, othor cuma bisa up 1 bab saja sehari, jadi minum obatnya mulai senen lagi ya 😁🙏


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar juga yah😘


__ADS_2