Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Maaf, aku berbohong


__ADS_3

“Kebetulan kalian bicara di sini, sehingga aku bisa meluruskan sesuatu pada kalian semua,” sahut Liana.


“Apa itu, Nak?” tanya Kakek Joseph.


“Wanita itu bukan hanya membunuh ibu dengan racun yang membuatnya lemah dan membunuhnya pelan-pelan. Tapi, dia juga membunuh nyonya ketiga keluarga Harvey dan membuang putra satu-satunya yang dilahirkan di keluarga itu.”


“Tuan Bob Harvey juga sebenarnya sudah lama menyelidiki hal ini, dan akhirnya dia mencari kembali keberadaan cucunya untuk ia bawa pulang, dan memintanya maaf serta menebus semua kesalahan yang telah ia lakukan pada cucunya itu,” ungkap Liana.


“Sweety, apa yang kau katakan?” tanya Falcon.


Pria itu terkejut karena gadisnya tiba-tiba saja mengungkit perihal dirinya.


Liana meraih tangan sang kekasih dan mengenggenggamnya erat.


“Honey, kakek mu sejak awal tak bersalah. Dia benar-benar tak tahu apapun yang sudah dilakukan ibu tirimu itu. Dia sangat menyesal saat Jack berhasil mendapatkan informasi mengenai laporan tes DNA, yang dilakukannya secara diam-diam padamu. Itulah sebabnya beberapa tahun terakhir, kakekmu selalu mengincarmu dan ingin membawamu kembali pulang ke rumah,” ungkap Liana.


Falcon menggeleng pelan. Dia tak tahu apa yang baru saja dikatakan oleh Liana.


“Bagaimana kau bisa yakin dengan semua itu?” tanya Falcon.


“Kau ingat perjanjian ku dengan kakekmu? Ada bagian dimana aku berbohong, Honey. Maafkan aku. Sebenarnya kakekmu sejak awal tidak ingin membebanimu dengan jabatan apapun di Lunar Group, karena dia tahu bahwa kau sudah terbiasa hidup bebas tanpa kekangan. Namun, dia hanya pria tua yang biasa bersikap otoriter sehingga tak tahu cara untuk membujuk mu dengan halus."


"Hari itu, dia hanya memintaku untuk membuat mu tetap tinggal di dekatnya, agar dia bisa menebus semua kesalahan yang dulu pernah ia lakukan padamu dan juga ibumu. Jika aku bisa melakukan hal tersebut, barulah dia bisa yakin bahwa aku adalah orang yang tepat untuk mendampingi mu.”

__ADS_1


“Hanya saja, aku mengatakan jika aku bisa membuatmu melakukan apapun bahkan menjadi penerusnya sekalipun, selama kita bisa selalu bersama. Maafkan aku, Honey. Aku lah yang sudah mendorongmu menjadi dirimu yang sekarang ini,” ungkap Liana.


Falcon diam. Dia tak tahu harus bereaksi seperti apa saat mendengar penjelasan yang sangat panjang dari Liana.


Sementara itu, Kakek Joseph nampak kebingungan dengan semua pembicaraan antara Liana dan Falcon.


“Tunggu, Nak. Apa maksud penjelasan mu tadi? Apa hubungan si gangster ini dengan Tuan Harvey?” tanya Kakek Joseph.


Liana menoleh ke arah sang kakek.


“Kek, dia adalah cucu laki-laki satu-satunya yang dimiliki Lunar Group. Anak yang telah dibuang oleh Bob Harvey, karena hasutan dari Amber Callister. Dia adalah bukti bahwa Tuan Harvey tak terlibat, karena penerusnya pun sudah difitnah hingga dibuang karena wanita itu, agar posisinya bisa tetap aman di keluarga besar Harvey,” jawab Liana.


“Jadi... Kau...,” tanya Kakek Joseph terbata.


“Benar Kek. Dia adalah tuan muda kelima Harvey, Alexander Harvey, pria yang sangat kucintai,” ucap Liana.


Falcon masih diam. Dia masih belum bisa percaya sepenuhnya akan apa yang baru saja dikatakan oleh Liana. Pria itu merasa jika kakeknya tidak akan mungkin merasa bersalah padanya. Bahkan caranya memintanya pulang pun seolah ingin menangkap buronan yang kabur.


Liana terus menggenggam erat tangan prianya. Sementara Kakek Joseph, pria tua itu melihat interaksi aneh antara kedua anak muda di hadapannya.


Seolah tahu apa yang terjadi, dia pun memutuskan pergi dan memberi ruang kepada keduanya untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di antara mereka berdua.


“Sepertinya kau memang baik-baik saja. Kalau begitu, aku keluar dulu. Aku ingin menemui pria pengecut itu,” ucap Kakek Joseph.

__ADS_1


Pria tua itu pun meminta Jimmy untuk membawanya keluar dan menuju ke kamar pria yang sudah menghamili putrinya.


“Kek!” panggil Liana tiba-tiba.


Jimmy pun berhenti, membiarkan Liana dan kakeknya kembali berbicara.


“Kek. Tolong jangan terlalu keras padanya. Kasihanilah dia. Ini semua juga bukan keinginannya,” pinta Liana.


Terdengar helaan nafas berat dari mulut pria tua yang duduk di kursi roda itu. Dia kemudian meminta Jimmy untuk melanjutkan langkahnya tanpa menjawab permintaan dari Liana.


Melihat kakeknya pergi tanpa berkata-kata, Liana pun kembali memohon padanya.


“Kek, aku mohon. Demi aku... Dan juga ibuku,” ucap Liana kemudian.


“Baiklah. Baiklah. Kau membuatku seolah menjadi orang yang jahat. Istirahat lah. Kakek akan kemari lagi nanti,” sahut Kakek Joseph.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2