
Seusai berganti pakaian, gadis itu turun ke meja makan dan duduk di sana. Seorang pelayan mendatanginya dan menawarkan sesuatu untuk dimakan.
“Nona, apa Anda butuh sesuatu?” tanya pelayan tersebut.
“Kak, bisakah kau buatkan aku segelas susu hangat?” pinta Liana.
“Baik, Nona. Tolong tunggu sebentar,” sahut pelayan itu
Liana tak pernah memperlakukan pelayan di rumah kakeknya seperti bawahan. Dia lebih memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri, sejak dia bekerja di sini sebagai pelayan biasa waktu dulu.
Tak berselang lama, segela susu hangat lengkap dengan roti lapis daging dan telur, tersaji di hadapannya.
“Silakan dinikmati, Nona. Jika butuh apa-apa lagi, silakan bisa panggil saya,” ucap si pelayan.
“Terimakasih, Kak,” sahut Liana ramah.
Gadis itu pun kemudian menyantap sarapan menjelang makan siangnya.
Saat menyantap makanannya, matanya mengedar ke sekeliling ruangan, seolah tengah memperhatikan sesuatu.
Suasana hati gadis itu entah kenapa kembali suram, setelah sebelumnya terlihat begitu ceria, seolah sedang ada yang mengganjal di pikirannya.
Liana bahkan memakan sandwich lezat itu dengan ekspresi datar dan dingin, seolah tak menikmati kelezatan roti lapis yang baru tadi ia puji.
Semua makanan dan minuman telah dihabiskan oleh gadis itu. Dia kemudian berjalan ke arah danau, bermaksud berolah raga sebentar dengan menunggang kuda milik sang kakek.
Siapa sangka, di sana dia justru melihat seseorang yang sejak kemarin ingin sekali ia temui.
Liana kemudian berjalan mendekat dan mengurungkan niatnya untuk menunggang kuda yang yadi sempat ia inginkan.
__ADS_1
Dia berdiri di tepi danau, bersebelahan dengan seorang wanita yang juga sedang menatap permukaan air bening yang tenang itu.
“Pemandangan di sini begitu tenang, bukan?” tanya Liana.
Wanita berpakaian pelayan, dengan sebuah kaca mata berframe bundar nampak bertengger di hidungnya, menoleh ke arah Liana yang baru saja berdiri di sampingnya.
“Benar sekali, Nona. Tuan besar juga sangat senang berlama-lama berada di dekat danau ini,” sahut wanita yang tak lain adalah Debora itu.
“Yah, kau benar. Tapi, sepertinya kau juga sangat suka berada di sini. Aku beberapa kali pernah melihatmu sedang berdiri menatap ke depan dengan pandangan kosong,” ucap Liana.
“Itu karena sejak dulu suasan di sini yang begitu tenang, hingga membuat siapapun merasa damai,” jawab Debora.
“Ah...jadi begitu rupanya. Oh iya, Sudah berapa lama Anda bekerja untuk keluarga ini, Nyonya?” tanya Liana.
“Sudah dua puluh tiga tahun, Nona,” jawab Debora cepat.
“Wah... Bahkan Anda bisa menjawabnya dengan cepat. Sepertinya, Anda benar-benar menghitung masa kerja Anda. Apa Anda kira kakekku akan menggelapkan uang gajimu?” tanya Liana sinis.
“Anda ini tidak...,” ucap debora.
“Atau... Kau sedang menghitung berapa banyak dosa yang sudah kau lakukan pada kakekku?” sela Liana penuh penekanan.
Tatapan matanya melihat tajam langsung ke arah wajah wanita dewasa itu.
Debora yang awalnya masih bersikap biasa saja dan sopan, kini seketika berubah dingin. Wajahnya datar dan tatapan matanya benar-benar lain.
“Jadi, begitu rupanya. Nona kecil kita sudah tahu semua,” ucap Debora.
“Apa kau tidak penasaran siapa yang memberitahuku?” tanya Liana.
__ADS_1
“Tidak perlu. Karena hanya ada dua orang yang tahu identitas ku yang sebenarnya, dan aku sudah bisa menebaknya,” ucap Debora.
Wanita itu kembali menatap lurus ke depan. Namun, Liana terus melihat wajah wanita yang selama ini melayani sang kakek, berubah seketika menjadi orang lain.
“Jadi, seperti ini rupamu yang sebenarnya, Nyonya? Benar-benar sangat mengerikan,” sahut Liana.
Debora terbahak mendengar ucapan dari Liana.
“Gadis kecil manja seperti mu masih belum bisa mengerti apapun,” ucap Debora.
“Siapa yang Anda bilang manja, Nyonya? Apa Anda lupa bagaimana hidupku yang sejak kecil sengaja dijauhkan dari keluarganya? Aku yakin Anda sangat paham bagaimana rasanya menjadi yatim piatu hingga usia remaja,” sanggah Liana.
“Ah... Benar. Aku lupa,” sahut Debora entengnya.
Liana membuang pandangannya ke arah depan, melihat jernihnya air di danau tersebut.
“Entah apa aku harus benci atau berterimakasih padamu. Di satu sisi, selama ini kau sudah menjaga kakekku dengan baik. Namun disisi lain kau juga yang sudah membuat kami terpisah sangat lama, terlebih perbuatanmu yang hampir membunuh ibuku dengan racun sialanmu itu,” ucap Liana.
Debora nampak tersenyum tipis mendengar sindiran dari Liana.
“Aku sangat tersentuh atas ucapanmu, Nona,” sahut Debora.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘