Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kelelahan


__ADS_3

Liana telah keluar dari ruang kerja Kakek Joseph. Dia membawa map pemberian pria tua itu dengan cara mendekap nya di depan dada.


Pikirannya berputar dan terus memikirkan perkataan pria tua itu.


Kenapa kakek Joseph memintaku melakukan hal ini? Apa aku sudah ketahuan? Tapi, dia bersikap seperti biasa saja? Apakah karena, dia hanya tertarik dengan kemampuan ku dalam hal rancang bangun? Batin Liana.


Dia terus berjalan dan bertemu dengan Debora. Kepala pelayan itu kemudian berhenti tepat di depan Liana.


“Tuan besar sudah memberitahuku tentang tugas barumu. Aku harap, kali ini kamu bisa menggunakan kebaikan tuan besar dengan sepatutnya. Jika sampai aku menemukan kecurangan yang dilakukan oleh mu, akan ku pastikan kamu pergi dari tempat ini dan jangan pernah berpikir untuk bisa kembali lagi. Mengerti?” seru Debora.


“Baik, Nyonya,” sahut Liana datar.


Gadis itu masih berdiri ditempatnya, sedangkan Debora kembali berjalan menuju ke ruangan sang majikan. Barulah setelah itu, Liana pergi menuju ke taman, dan duduk di Gazebo.


Gadis itu nampak meletakkan map di atas meja, dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Sejenak dia menarik nafas dalam dan menghela nya sekaligus.


Tangannya kemudian terulur dan meraih sekumpulan kertas, yang tersusun rapi di dalam sebuah map plastik berwarna merah.


Dibacanya lembar demi lembar berkas tersebut, dan seketika fokusnya hanya tertuju pada setumpuk kertas di tangannya.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di ruang kerja Joseph, Jimmy nampak masih mempermasalahkan soal tugas yang diberikan oleh Joseph kepada Liana.


“Tuan, proyek Grande mall itu adalah next project kita. Kenapa Anda malah memberikannya kepada gadis yang tak jelas itu? Bukankah kita sudah menunjuk seseorang untuk mengambil tugas ini?” cecar Jimmy, sesaat setelah semua pria yang dibawanya keluar.


“Kau lihat notebook di atas meja kerjaku?” tanya Joseph.


Jimmy pun menoleh ke belakangnya dan melihat ada sebuah notebook kecil, tepat di atas sebuah figura yang membingkai sebuah cetak biru.


Jimmy terlihat hampir menyatukan kedua alisnya karena terlalu bingung.


Inikan cetak biru yang dibuat oleh pria itu. Kenapa tuan mengeluarkannya? Bukankah benda ini selalu disembunyikannya hingga berdebu di balik lemari? batin Jimmy.


Dia pun mendekat dan mengambil notebook tersebut. Matanya seketika melebar dengan pupil nya yang ikut membesar. Dia begitu terkejut dengan isi dari notebook tersebut.


Jimmy pun berbalik dan berjalan mendekat ke arah Joseph.


“Ini ... Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang membuat sketsa dan menyelesaikan rancangan ini, Tuan?” cecar Jimmy, seraya menyodorkan notebook Liana ke depan Joseph.


Tepat saat itu, Debora masuk dan membantu Joseph untuk menjawab.


“Gadis itu yang membuatnya,” jawab Debora.


“Apa? Gadis amnesia itu? Bagaimana bisa? Atau jangan-jangan, dia selama ini hanya pura-pura polos tapi ternyata adalah mata-mata dari pesaing bisnis kita?” terka Jimmy.

__ADS_1


“Deb,” panggil Joseph.


Wanita itu seakan tahu apa yang hendak diminta oleh tuannya. Debora pun kembali angkat bicara dan menjelaskan semua yang berhasil dia temukan mengenai Liana.


“Dia bersih. Tak ada yang mencurigakan darinya. Selama beberapa bulan dia tinggal disini, jangankan menghubungi orang luar, bahkan menyentuh alat komunikasi pun tidak,” ungkap Debora.


“Apa kau yakin?” tanya Jimmy.


“Sudah ku pastikan. Aku meminta Ella untuk menggeledah barang pribadi gadis itu di kamarnya, tapi tak ada satu pun yang mencurigakan. Bahkan saat dia datang kesini, dia tak membawa apapun kecuali pakaian yang kamu belikan atas perintah tuan selama dia di rumah sakit. Betul kan?" ungkap Debora.


Jimmy nampak berpikir, dan mencoba mengaitkan semua fakta tentang gadis itu yang ia ketahui.


"Satu-satunya hal yang masih diragukan darinya hanyalah amnesia nya. Bagaimana kalau ternyata dia selama ini hanya pura-pura saja di depan kita?” lanjut Debora.


“Benar. Amnesia nya. Tuan, tolong pikirkan lagi. Aku rasa gadis itu punya maksud terselubung. Meskipun dia bukan mata-mata pesaing kita, tapi saya takut jika dia akan membahayakan Anda nantinya, Tuan,” ujar Jimmy.


“Biar itu jadi urusanku. Aku meminta kalian kemari, karena aku akan memberikan kalian tugas tambahan. Deby, kamu awasi gadis itu saat di rumah, dan kamu, Jim, awasi dia saat dia berada di luar,” seru Joseph.


“Apa yang Anda rencanakan kali ini untuk anak itu?” tanya Jimmy.


“Aku hanya ingin bermain take and give dengan dia. Jika dia memanfaatkan ku untuk sesuatu hal, aku pun akan melakukan hal yang sama padanya. Kebetulan, sebentar lagi kita akan kehilangan kepala bagian perencanaan kan. Itu berarti, kita harus mencari calon penggantinya,” sahut Joseph tenang.


Debora pun berusaha mengerti keinginan tuannya, sedangkan Jimmy terlihat tak puas dengan keputusan yang diberikan oleh Joseph.


...


Hari berganti begitu cepat. Tiga hari yang diberikan Kakek Joseph telah lewat, dan kini Liana sudah harus mulai bekerja seharian di dalam ruang kerja kakek tua itu.


Joseph benar-benar membuat Liana tidak mengerjakan tugas sebagai pelayan lagi, melainkan hanya memintanya untuk menyelesaikan apa yang telah dia perintahkan sebelumnya.


Setiap pagi, dia akan memulai seusai sarapan, dan baru keluar saat Kakek Joseph pulang di malam hari dan mengusir Liana dari ruang kerja miliknya.


Sudah sekitar satu minggu sejak Liana pertama


kali menggunakan meja gambar teknik, dan membuat rancangan dari sebuah gedung mall yang akan dibangun di golden city.


Gedung tersebut memiliki tinggi sebelas lantai, dengan fasilitas berbeda di setiap lantainya.


Liana bekerja begitu keras demi menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh Kakek Joseph, dan mendapatkan kembali notebook nya yang entah kenapa terasa sangat berharga baginya, meskipun dia meyakini jika cetak biru itu tidak ada hubungan dengan dirinya.


Namun entah kenapa, dia tak rela jika harus membiarkan kakek tua itu, merebut benda tersebut darinya.


Mentari dan bulan terus bergiliran merajai langit. Tak terasa sudah hampir sebulan, tepatnya tiga minggu, Liana telah berhasil menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


Waktu masih menunjukkan pukul enam petang. Liana baru saja selesai menggambar lantai sebelas gedung tersebut.


Senyum puas nampak terlukis dibibir merah mudanya yang sedikit pucat tanpa polesan lipstik sedikit pun.


“Tinggal menunggu kakek tua itu pulang, dan memintanya untuk menilai hasil kerjaku,” ucap Liana.


Liana keluar ruang kerja, dan mengunci kembali pintu ruangan tersebut. Dia memilih menunggunya sambil beristirahat di taman samping, di mana ada sebuah gazebo dengan kursi empuk, yang bisa digunakannya untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan sore.


Tak terasa, matanya terpejam dengan dia yang masih pada posisi duduk di sana. Tugas yang diberikan oleh Joseph kepada gadis itu sungguh menguras tenaga dan pikirannya.


Bahkan di malam hari pun, dia tak bisa tidur nyenyak karena otaknya terus berpacu, dan mencari inovasi yang bisa diterapkan dalam bangunan yang akan ia rancang.


Hingga malam menjelang, Liana masih tertidur di sana.


Saat Joseph pulang, dia tak sengaja melihat Liana yang tengah duduk di Gazebo samping, saat mobilnya melintas tak jauh dari sana.


Setelah keluar dari mobil, Joseph berjalan menaiki tangga di depan pintu masuk, diikuti oleh Jimmy.


Namun, saat tiba di depan pintu, Joseph berbalik dan berkata kepada Jimmy.


“Jim, kamu ke taman samping dulu. Bawa gadis itu ke paviliun belakang, dan katakan pada teman sekamarnya untuk mengurusnya,” seru Joseph.


“Baik, Tuan,” sahut Jimmy.


Pria itu pun segera menuju ke taman samping dan melakukan apa yang diperintahkan nya.


Joseph masuk dan segera menuju ke rumah kerja. Dia berencana untuk mendiskusikan sesuatu dengan Jimmy, setelah nanti sang asisten kembali dari tempat Liana.


Saat dia berjalan menuju meja kerjanya, dia melihat sesuatu yang tertulis di meja gambar teknis, yang kini sudah menjadi meja kerja Liana.


Seketika itu, bibirnya melengkung ke atas dengan bentuk asimestris, sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


“Sepertinya aku memang harus waspada dengan gadis itu,” gumam Joseph.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2