Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Seringai


__ADS_3

“Kau sudah kalah!” ucap Jessica dengan nada mengejek.


Liana hanya diam dengan tatapan yang begitu tajam. Tangan yang masih terikat di belakang terlihat mengepal kuat, dengan rahang yang sudah sangat mengeras.


“Apa kau yakin kalau aku sudah kalah?” tanya Liana.


“Tentu saja. Lihatlah dirimu sekarang. Apa masih belum sadar juga? Setelah kau mati, tidak akan ada lagi orang yang selalu mengganggu hidup kami. Aku akan menjadi satu-satunya cucu kesayangan pak tua itu, dan kau hanya akan berakhir menjadi mayat yang tak dikenali,” jawab Jessica.


“Apa kau kira dengan membunuhku, aku tidak bisa membalasmu? Kau terlalu meremehkanku,” ucap Liana.


“Apa maksudmu?” tanya Jessica.


“Baiklah, karena aku akan mati sebentar lagi, jadi ku katakan saja padamu. Aku telah meminta seorang wartawan untuk mengunggah rekaman percakapanmu dengan ibumu ke internet, jika aku mendadak hilang. Jika sudah begitu, maka cepat atau lambat Pak tua Wang itu akan tau siapa kalian sebenarnya,” jawab Liana dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.


Gadis itu terlihat begitu berani dan manantang. Sama sekali tak terlihat gurat ketakutan sama di wajahnya. Dia mulai memakai taktik menyerang secara psikologis kepada lawan biacranya.


Sedangkan Jessica, dia terlihat mulai panik dengan apa yang dikatakan oleh Liana. Dia bahkan mundur selangkah karena gemetar.


Namun, dia kembali mencoba untuk tetap tenang, dan tak termakan omongan Liana.


“Masih bisa berbohong rupanya. Seorang gila kerja dan tertutup seperti mu, dari mana punya teman seorang wartawan? Kau itu hanya orang tak jelas yang bernasib mujur. Hanya karena lupa ingatan, kau bisa hidup dengan begitu nyaman di tempat Pak tua Wang. Kau bahkan selalu mengganggu ku sejak pertama kali aku datang. Kau iri kan dengan ku yang datang dengan identitas jelas?” cecar Jessica.


“Iri? Ya, aku sangat iri. Pelacur sepertimu tiba-tiba saja datang dan mengaku sebagai cucu kandung Joseph Wang, dan dengan mudah mendapatkan semua kemewahan, posisi serta karir dengan begitu cepat dan instan. Aku yang selama ini selalu bekerja dari nol, dari bawah, sangat muak melihat nasib baik mu itu. Jadi, apa salahnya jika aku selalu mengganggumu? Lagi pula, kau juga memang bukan cucu kandungnya?” ungkap Liana.


“Wah... Wah... Akhirnya kau mengakuinya. Aku tersanjung karena bisa membuatmu iri. Tapi, asal kau tau, sampai akhir hanya aku yang akan menjadi cucu kandung kake tua itu,” ucap Jessica.


“Benarkah? Apa kau yakin? Apa kau berpikir jika cucu aslinya tidak akan muncul? Kalau tidak salah, ada seorang gadis lain yang pernah tinggal bersama kalian dulu. Mungkin saja dia akan datang kemari suatu saat nanti,” ujar Liana.


“Oh, maksudmu anak tak tau diuntung itu? Entahlah. Dia sudah hilang begitu lama, dan malah membuat hidup kami kesusahan. Jejaknya pun tidak ada yang tahu. Ku dengar dia melarikan diri saat dibawa pergi oleh di tua bangka Paulo, sebagai penebus hutang ibuku. Sekalipun dia tiba-tiba datang, mungkin saja itu sudah terlambat. Karena setelah melenyapkan mu, selanjutnya giliran Pak tua itu yang akan kami singkirkan,” ungkap Jessica.


“Cih! Malang sekali nasib gadis itu karena harus hidup bersama kalian berdua. Ehm... Siapa namanya... Li...,” ucap Liana.

__ADS_1


“Liana. Nama anak kurang ajar itu adalah Liana. Nama kalian hampir sama kan. Itu juga yang membuatku benci padamu. Mungkin kau akan menemuinya di akherat sebentar lagi dan kalian bisa menjadi saudara di sana,” sela Jessica dengan nada merendahkan.


“Jadi, secara tak langsung kalian sudah membunuhnya?” tanya Liana berpura-pura terkejut.


“Aku sangat ingin melenyapkan nya sejak dulu. Karena dia selalu saja lebih unggul dari ku. Bahkan, semua perhatian selalu tertuju padanya. Saat dia dijual untuk dijadikan istri su tua bangka itu, dia malah kabur dan hilang entah kemana. Tapi setidaknya, aku bisa membuatnya cacat, dengan menyiramkan air mendidih ke wajahnya. Hahahhaha...,” ungkap jessica.


“Ckckck! Tak kusangka kau sudah sangat jahat padanya. Bahkan saat ini, dengan mudahnya kau mengambil tempat gadis malang itu,” sahut Liana.


“Hei, ini semua tak lepas dari keb*dohan Jimmy dan orang tua Wang. Hanya karena kalung b*doh itu, dia bahkan langsung menangis dan memelukku saat pertama kali kami bertemu. Jadi, kenapa aku tidak boleh menikmati kemewahan yang diberikannya dengan suka rela padaku, hah?” ucap Jessica dengan arogannya.


“DENGAR SENDIRI KAN?! BENAR DUGAAN KU. KALIAN ITU TERLALU B*DOH KARENA PERCAYA BEGITU SAJA DENGAN KALUNG ITU,” Teriak Liana tiba-tiba.


Pandangannya tertuju pada salah satu dinding, yang berada di sisi kirinya dengan tatapan yang sangat tajam.


Jessica pun kebingungan dengan sikap Liana itu. Dia kemudian melangkah mendekat dan kembali menjambak Liana dengan keras.


“Beraninya kau berteriak di sini! Sepertinya aku terlalu lunak padamu. Baiklah, aku tak akan banyak bicara lagi. Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Lilian,” ucap Jessica.


Jessica memukul-mukulkan tongkat tersebut ke telapak tangannya, dan berbalik hendak menuju ke arah Liana berada.


Namun, saat dia sudah sampai di hadapan gadis itu, Liana terlihat menyeringai sambil menatap remeh ke arah Jessica.


“Aku sangat benci tatapan mu. Hal itu terus mengingatkanku pada Liana si gadis brengs*k itu. Sebaiknya kau tutup mata, atau ku congkel keluar bola matamu itu!” seru Jessica.


Gadis itu pun mulai mengangkat tongkat kayu yang dipegangnya, dan bersiap mengayunkan benda itu untuk memukul gadis di depannya.


Namun, belum sempat dia memukul Liana, Jessica dikejutkan dengan tali ikatan yang tiba-tiba mengendur dan lepas.


Liana terbebas dari belenggu nya, dan gadis itu pun seketika bangkit berdiri, sambil terus menatap mata Jessica dengan tajam. Seringainya terlihat begitu mengerikan hingga, membuat Jessica mundur, dan bahkan genggamannya pada tongkat kayu itu melemah sampai akhirnya dia jatuh karena tersandung oleh kakinya sendiri.


Liana maju perlahan menghampiri Jessica yang jatuh terjengkang ke tanah. Dia mundur dengan merangkak. Bahkan kakinya terasa lemas saat melihat tatapan dari Liana yang begitu mengintimidasi.

__ADS_1


Liana mengambil sesuatu dari belakang bajunya. Sebuah masker penutup wajah dan topi appolo. Dia memakai kedua benda tersebut satu persatu tepat di depan Jessica.


“Tadi kau bilang,  kau benci dengan tatapan mataku ini karena teringat dengan gadis itu bukan?” tanya Liana.


Setelah memakai semuanya, Liana berjongkok di hadapan Jessica.


“Sekarang, coba kau lihat baik-baik! Apa kau ingat wajah ini?” tanya Liana.


Seringainya muncul dari balik penutup wajah.


Jessica semakin gemetar. Terlebih saat menyadari jika kedua orang ini terlihat begitu mirip, apalagi saat memakai penutup wajah.


“Kau...,”


.


.


.


.


Sudah 2 bab ya bestie 😊 semoga hari ini bisa kasih 3 bab seperti biasanya🙏


Sambil nunggu Liana up, coba mampir ke novel receh othor lainnya yuk😁



Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2