
“Aku kemari karena sedang mencari mu, Paman,” ucap Liana.
Peter seketika itu juga diam. Dia mendadak kaku saat mendengar penuturan dari Liana. Dia berpikir jika gadis itu sudah tahu siapa dirinya sebenarnya, namun dia sendiri belum siap untuk mengakui bahwa dia adalah ayah dari gadis tersebut.
“Hahahahahaha.....! Hahahahahaha...!” Liana tiba-tiba saja tertawa terbahak.
Hal itu membuat Peter semakin mengerutkan keningnya, hingga kedua alis itu hampir menyatu.
“Hahahaha... Wajahmu lucu sekali, Paman. Kenapa kau tiba-tiba kaku seperti patung? Apa perkataan ku itu sangat mengejutkan mu? Hahahaha...,” kelakar Liana.
Gadis itu tertawa terbahak, hingga muncul air dari sudut matanya. Dia pun segera menyeka ekor matanya dan mencoba menghentikan tawanya yang begitu keras.
Peter mencoba meredam gemuruh di dalam dadanya yang sempat menegang. Pria itu meneguk minumannya dan meletakkan botol tersebut ke atas meja.
“Kau benar-benar mengerjaiku. Aku tadi sempat berpikir ucapanmu itu sungguhan,” ucap Peter.
__ADS_1
“Hehehe... Jadi, apa menurut Paman, tadi itu aku berbohong?” tanya Liana dengan sisa tawanya yang belum bisa reda sepenuhnya.
“Tentu saja. Ingat! Kita baru sekali bertemu di sana tempo hari. Bahkan sampai sekarang pun, kita masih belum saling menyebutkan nama. Bukankah jelas kalau kita hanyalah dua orang asing yang kebetulan bertemu, karena sebuah insiden kecil waktu itu? Lalu, mana mungkin kau benar-benar kemari karena mencariku,” ucap Peter.
“Wah... Analisa yang luar biasa. Kau hebat, Paman. Kita memang orang asing, tapi sepertinya kita bisa mulai berteman dari sekarang,” ucap Liana dengan entengnya.
Peter tersenyum. Dia meraih minumannya kembali dan membuang pandangan, seraya meneguk air yang ada di dalam botol.
Sementara Liana, gadis itu meraih beberapa buah keripik kentang, dan memasukkannya sekaligus ke dalam mulut hingga penuh.
Apa kau sama sekali tidak mengenali wajahku? Apa kau sudah lupa dengan ibuku? Ayah, lihatlah! Ini wajah Ibu! Apa kau benar-benar sudah melupakannya? batin Liana.
Rasanya sangat sakit mengatakan kita hanya orang asing yang tak saling mengenal. Ingin rasanya aku memelukmu dengan erat dan mengatakan pada dunia, bahwa aku adalah ayahmu, Nak. Tapi, masih ada hal yang harus aku lakukan agar aku bisa pantas menjadi ayahmu. Maafkan ayah, Liana, batin Peter.
Kedua orang itu saling menyembunyikan luka di balik sikap tak acuh mereka. Liana bahkan sesekali mengerjapkan matanya yang sudah begitu panas, hingga genangan seolah tak mau pergi dan terus muncul meski dia telah berkali-kali menghalaunya.
__ADS_1
Dia semakin banyak memasukkan keripik kentang ke dalam mulut, agar wadah itu cepat kosong. Dia sudah tak mampu lagi berlama-lama duduk bersama dengan ayahnya, yang terlihat sama sekali tak mengenali dirinya.
Begitu pun Peter. Pria itu terus membuang muka ke arah samping, menatap lurus ke taman di seberang, meski sebenarnya ia tak benar-benar melihat ke sana. Pikirannya kacau dan dadanya benar-benar sesak seakan ingin meledak jika dia terus bersama dengan Liana, dan berpura-pura tak mengenal anaknya itu.
.
.
.
.
Nungguin yah 🤭 maaf yah, habis healing dulu tadi biar otak tetep waras 😅 jadi cerita Liana bisa dilanjut sampai tamat deh😁 maafkan yak😉 tapi jatah bab aman kok, nggak akan othor kurangin 😊baikkan aku 😘😉
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘