Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Ada aku


__ADS_3

Falcon mengecup bibir Liana beberapa saat. Waktu seolah terhenti di sekitar mereka dan hanya terdengar degupan jantung yang tak beraturan dari keduanya.


Setelah sekian detik, Falcon menjauhkan wajahnya. Tangannya yang sedari tadi memegang tengkuk gadis itu, kini berpindah ke samping, menyentuh pipi mulus Liana.


“Kau tidak sendirian lagi. Ada aku. Kau bisa mengandalkanku kapan pun  kau mau,” ucap Falcon dengan begitu lembut.


Setetes embun serasa jatuh di gersangnya hati seorang Liana, yang selalu berjuang seorang diri sejak dulu. Rasa hangat menyelimuti jiwanya mendengarkan perkataan dari pria yang terkenal kejam dan sadis itu.


Seulas senyum tipis muncul dari bibir Liana. Gadis itu mengangguk sekali sambil mengedipkan kedua matanya, menyahuti perkataan Falcon tadi.


Keduanya kembali saling pandang, hingga Liana merasa tidak begitu nyaman dalam posisinya saat ini.


“Ehm, bisa aku turun sekarang?” tanya Liana memecah keheningan.


“Memangnya kenapa?” tanya Falcon balik.


“Aku tidak nyaman duduk di pangkuanmu terus, Tuan,” jawab Liana.


Falcon pun melepaskan pinggang Liana, dan membuat gadis itu segera bangun lalu berpindah duduk di sofa.


Liana duduk di ujung, membuat Falcon merasa sedikit kurang nyaman.


“Kenapa duduk di situ?” tanya Falcon.


“Memangnya kenapa?” tanya Liana balik.

__ADS_1


“Itu terlalu jauh. Kita seperti sedang bertengkar saja,” keluh Falcon.


“Aku hanya takut kau akan melakukan serangan mendadak lagi seperti tadi,” sahut Liana.


Falcon pun tersenyum geli mendengar perktaan dari gadis itu. Lengannya yang panjang bisa menjangkau Liana, dan mengacak puncak kepala gadis itu hingga rambutnya berantakan.


“Hei, rambutku!” pekik Liana yang kesal karena rambutan diacak-acak.


Namun, keduanya sama-sama tersenyum karena hal kecil itu.


Falcon kembali menyandarkan punggungnya di sofa. Helaan nafas panjang terdengar begitu berat dari mulut pria itu.


“Setelah mengetahui rencana penculikan ini, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Falcon.


Falcon pun menoleh ke arah gadis yang masih duduk sedikit jauh darinya.


“Maksudmu?” tanya Falcon.


“Aku memang sejak awal sengaja memprovokasi Jessica. Aku sangat mengenal anak itu. Dia orang yang tak bisa disinggung sedikit pun. Jika ada yang lebih unggul darinya, pasti dia akan berbuat segala macam cara agar bisa menjatuhkan orang itu. Sementara dengan Lilian, dia sama sekali tak bisa melawannya dan selalu kalah darinya. Aku mengira, dia akan melakukan kebod*han, di mana dia bisa mengakui semua kebohongannya di depan Kakek. Aku sama sekali tak menyangka, jika dia akan berbuat sampai sejauh ini dengan berencana melenyapkanku,” ungkap Liana.


“Lalu, apa rencanamu untuk membalasnya?” tanya Falcon.


“Sepertinya, aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mengungkapkan siapa dia sebenarnya. Akan ku buat rencananya menjadi senjata makan tuan. Dalam hal ini, aku butuh bantuanmu,” jawab Liana.


Gadis itu menoleh ke arah Falcon. Sementara pria itu masih diam dan memilih untuk menyimak perkataan Liana hingga selesai.

__ADS_1


“Menurut laporan dari Long, saat ini Jessica telah kembali ke Golden City. Itu pasti karena hukuman yang lalu, membuat Kakek selalu mengawasi jam malamnya. Jadi, meskipun Mike melaporkan bahwa aku sudah tertangkap, Jessica baru akan kemari setelah dari kantor besok. Atau paling cepat selepas jam makan siang. Tugasmu, membawa Paman Jimmy dan Kakek Joseph ke mari sebelum Jessica datang. Lebih baik lagi jika dalam rentang waktu ini, kau berhasil membekuk siapa penghianat di antara orang-orang Paman Jimmy,” jelas Liana panjang lebar.


“Soal mata-mata di pihak Jimmy, kebetulan aku juga sudah mendapatkan informasinya. Jika memang perlu, akan ku tangkap dia sekarang juga. Tapi, untuk apa kau melakukannya? Bukankah urusan mu hanya dengan Jessica?” tanya Falcon.


“Urusanku memang dengan pelacur itu. Tapi, aku penasaran untuk apa orang itu melakukan sabotase, dan menutupi keberadaan ku selama ini. Terlebih lagi, aku ingin tau siapa yang ada di balik semua kemalangan ku dan kedua orang tuaku. Aku yakin, semua ini pasti berkaitan,” terka Liana.


“Baiklah. Aku akan bicara pada Nine, dan memintanya untuk menangkap orang itu sekarang juga,” ucap Falcon.


“Terimakasih,” sahut Liana.


.


.


.


.


udah 3 bab ya hari ini😁


next bab besok lagi bestie😘


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2