
Basecamp geng Jupiter gempar karena telah kehilangan Liana di bawah pengawalan banyaknya anggota geng.
“Apa sudah ketemu?” tanya Falcon.
Dia terlihat cemas dengan kondisi gadis itu. Sedari tadi, dia tak bisa duduk dengan tenang. Hal ini pun membuat semua anak buahnya ikut merasa panik.
Nine dan Long hanya bisa saling oandang melihat perilaku Falcon yang jauh dari kata normal.
Chip, sang hacker yang selalu bergerak cepat di setiap situasi, kini dirasanya begitu lamban oleh bos mereka.
“Masih belum, Bos. Di sana sama sekali tidak ada kamera pengawas. Bahkan, ponsel Kakak ipar pun tertinggal di titik terakhir. Petunjuk satu-satunya hanya kamera depan mobil Kakak ipar yang sedang menuju kemari. Aku akan coba melihat lewat kamera satelit dan mencarinya di ujung jalur hutan,” ucap Chip.
“Cepatlah. Kenapa kau sangat lelet? Sejak kapan kau seperti kura-kura begini, Chip?” keluh Falcon.
Long hanya bisa geleng-geleng melihat sikap Falcon yang benar-benar lain dari biasa.
“Bos, tenanglah. Kakak ipar pasti akan baik-baik saja,” ucap Long.
Falcon menoleh dan metaap tajam ke arah sang tangan kiri, hingga membuat si germo nyentrik itu pun ciut.
“Tenang? Kau bilang tenang? Lilian hilang dan kau minta aku untuk tenang? Aku yakin itu ulah anak buah Pak tua Jung. Hanya dia yang bisa melakukan pengecohan seperti itu, dan itu berarti Lilian dalam bahaya besar. Apa kau mengerti situasinya, Long?” bentak Falcon pada Long.
Nine yang melihat hal tersebut pun hanya bisa menarik lengan Long untuk menjauh dari bos mereka.
“Sebaiknya kita tetap diam sambil menunggu Chip selesai melacaknya,” bisik Nine.
Semuanya kembali diam dengan Falcon yang terus terlihat tak tenang sedikitpun. Pria itu terus bergerak dari satu titik ke titik yang lain, membuat semua orang di basecamp merasa ikut kebingungan.
Tidak salah lagi. Ini pasti ulang Pak tua Jung, batin Falcon.
Saat semua kacau, seseorang datang ke tempat tersebut dengan terengah-engah. Dia adalah anak buah Falcon yang kembali seorang diri, untuk melaporkan kejadian tersebut.
Dia pun menyerahkan memory card dari kamera depan mobil, yang gunakan Liana kepada Falcon.
“Cepat lihat rekamannya!?” seru sang ketua gangster kepada Chip.
Hacker itu pun segera memasang benda kecil tersebut dan mencoba melihat rekaman terakhir sebelum Liana menghilang.
Semua orang melihat vidio tersebur dengan tegang. Mulai dari mobil berhenti karena dihadang seorang wanita yang meminta tolong. Kemudian tiba-tiba ada keributan dan muncul seorang pria yang mengangkat tubuh Liana, kemudian memasukannya ke dalam mobil yang berpura-pura mogok tadi.
__ADS_1
"Alice sialan!" maki falcon.
Rupanya, Falcon mengenal wanita yang menipu Liana. Dia pun geram dengan terus memperhatikan layar monitor di hadapannya.
Wanita bernama Alice yang meminta tolong pada Liana hanyalah penipu yang menjebak gadis itu, hingga dia jatuh ke dalam perangkap. Si wanita tersebut kemudian merentangkan sebuah kertas, bertuliskan sebuah petunjuk kemana mereka akan membawa Liana.
Sebuah kompas dengan arah barat yang dilingkari merah dan gambar sebuah mesin crane. Selain itu, ada sebuah gambar jam dengan jarum yang menunjukkan pukul sembilan malam, seolah mengatakan batas waktu yang mereka miliki untuk menemukan Liana.
Awalnya semua orang tak paham dengan petunjuk tersebut. Namun kemudian, Chip mencoba mencari sesuatu yang berhubungan dengan mesin crane, dan dia mendapatkan petunjuk saat melihat hampir semua artikel di internet memuat kegunaan mesin tersebut di area pembangunan.
Dia pun kemudian mencari tempat pembangunan yang berada di wilayah barat, dan mereka menemukan sebuah proyek yang berada di luar negara bagian A di sisi sebelah barat yang berbatasan dengan negera bagian B, di mana kota Metropolis berada.
“Sepertinya aku menemukan keberadaan Kakak ipar,” ucap Chip.
Falcon pun mendekat dan menanyakan maksud ucapan dari sang hacker.
“Dia sekarang kemungkinan besar ada di wilayah barat negara bagian A. Di sana ada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung. Aku yakin Kakak ipar dibawa ke sana oleh mereka,” ungkap Chip.
“Dari mana kau tau? Kenapa kau bisa seyakin itu?” cecar Falcon.
“Aku mengetahuinya dari petunjuk yang diberikan oleh wanita di rekaman tadi. Akan ku coba memastikannya lewat radar satelit,” ucap Chip.
Termpat itu lumayan terpencil, dan hanya ada toko-toko kelontong biasa di sepanjang jalan.
Beruntung, salah satunya memiliki CCTV di depan toko. Chip pun meretas CCTV tersebut dan melihat kejadian tadi sore di selang waktu Liana menghilang.
Betapa terkejutnya semua orang saat melihat kelima mobil asing itu beserta satu mobil berwarna biru melewati area tersebut.
“Lihat ini, Bos. Mereka benar-benar ke tempat itu,” ucap Chip.
“Baiklah. Kerja bagus, Chip. Semuanya, kita segera ke sana. Nine, bawa banyak anak buah untuk berjaga-jaga, siapa tau mereka tidak bisa diajak bicara baik-baik!” seru Falcon.
“Siap, Bos,” sahut Nine.
Semuanya pun segera bersiap dan bergegas menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh sang hacker. Mereka khawatir dengan keselamatan gadis bernama Liana, yang nasibnya kini ada ditangan orang-orang yang diyakini adalah anak buah dari ketua geng Jupiter terdahulu, Tuan Jung.
Falcon, Nine, Long serta Mike yang bertugas sebagai supir, menaiki sebuah mobil dan memimpin jalan di depan. Di belakang mereka, ada sekitar belasan mobil van hitam berisikan sekitar sepuluh hingga lima belas orang.
Semuanya menuju ke area konstruksi yang berada di wilayah barat negara bagian A, berbatasan dengan negera bagian B. Tempat tersebut berada di wilayah perhutanan sehingga sangat cocok untuk dijadikan tempat penyekapan sementara.
__ADS_1
Falcon sudah memikirkan kemungkinan Liana akan terseret ke dalam masalah Jung dan juga Christopher, karena kedekatan gadis tersebut dengan sang wartwan.
Meskipun dia berusaha memperketat penjagaan, namun masih saja dia tak bisa menandingi kegesitan dan kelicikan anggota sang mantan ketua gangster.
...👑👑👑👑👑...
Di sisi lain dari area proyek, terlihat seorang wanita dan seorang pria tengah berdiri di puncak bangunan yang masih setengah jadi.
Dengan sebuah teropong, dia melihat sorot lampu dari mobil yang melintasi jalanan di sekitar area tersebut.
Iring-iringan mobil tampak dari kejauhan, membuat sebelah sudut bibir si wanita terangkat.
“Sepertinya, Tuan muda datang membawa bala bantuan,” ucapnya pada pria yang saat itu bersamanya.
“Benarkah? Ini seperti bukan gayanya saja. Dia biasanya selalu bertindak sendirian,” sahut si pria.
“Ayolah, Henry. Kali ini kita pakai sandra. Sudah sewajarnya bukan kalau dia minta bantuan seseorang,” ucap si wanita kepada pria bernama Henry itu.
Henry meraih teropong yang berada di tangan sang wanita, dan mencoba melihat pasukan yang datang ke tempat tersebut. Dia mencoba melihat ke dalam kaca mobil paling depan, dan seketika seringai muncul di wajahnya.
“Wah, sepertinya kita kedatangan teman lama, Sayang. Alice, beri sambutan pada tamu kita,” seru Henry.
“Benarkah? Siapa dia?” tanya wanita bernama Alice.
“Alex,” sahut Henry.
.
.
.
.
Good pagi 🌄🙋selamat morning, bestie 🥰 2 bab selanjutnya nanti aja yah, sorean atau malem sekalian😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1