Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Orang asing


__ADS_3

Sekitar seminggu sudah sejak kejadian mengejutkan di kediaman keluarga Wang di dream hill, Kakek Joseph masih terus tinggal di rumah sakit, karena kondisinya perlu dipantau se intensif mungkin.


Kakek tua itu sedikit demi sedikit sudah mulai bisa beraktifitas sendiri, meski kadang nyeri di dadanya masih terasa.


Serangan kali ini bisa dibilang cukup parah, terlebih konsumsi obat dalam jangka waktu lama, sudah pasti membuat kondisi organ tubuhnya semakin buruk.


Jimmy berkali-kali mencoba menyarankan untuk melakukan operasi pemasangan ring jantung, namun jawaban dari Kakek Joseph tetap sama.


“Bagaimana aku akan bertemu Lilian nanti, jika aku belum bisa menemukan anaknya, dan aku malah mati di meja operasi?” ucap Joseph.


“Tapi, melihat kondisi Anda saat ini, akan lebih baik jika Anda melakukannya secepat mungkin. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Anda nantinya?” tanya Jimmy.


“Aku akan mau dioperasi, jika cucuku sudah ketemu. Jangan diganggu gugat lagi. Itu sudah menjadi keputusanku,” sahut Joseph.


Setelah mengatakan itu, Joseph meminta Jimmy untuk meninggalkannya dirinya sendiri di ruang rawat.


Pria paruh baya itu berjalan ke ujung lorong, di mana terdapat pintu yang menghubungkan bagian atap yang sepi, dan hampir tak pernah dikunjungi. Di sana hanya ada mesin penyaring udara dan beberapa pipa besar.


Jimmy tampak menghubungi seseorang. Bukan hanya Joseph yang merasa frustasi tentang pencarian akan Lilian dan putrinya, melainkan sang asisten pun sama.


Dia yang sudah merasa sangat terlambat dalam menjalankan perintah dari kakek tua itu, kini hampir membunuh Joseph secara perlahan-lahan.


“Apa sudah ada jejak di mana adik dari pelayan bernama Vivian itu berada?” tanya Jimmy pada orang diseberang.


“Kabar terakhir yang kami dapat, bahwa mereka melarikan diri dari wilayah utara Metropolis menuju ke negara bagian A. Ada yang mengatakan juga kalau mereka sekarang bahkan ada di Grey Town. Namun, kami belum bisa mengkonfirmasi kebenarannya karena sangat sulit untuk orang seperti kami masuk ke sana. Kami khawatir jika gangster di daerah itu akan salah paham dengan kehadiran kami yang mencari orang di sana,” jawab orang di seberang sambungan.


“Grey Town,” gumam Jimmy.


Pria itu seolah tengah mengingat-ingat sesuatu.


“Baiklah. Sementara cukup cari informasi dari luar. Untuk selanjutnya, akan ku coba minta bantuan salah satu gangster di sana jika memungkinkan,” ucap Jimmy.


“Baik, Bos,” Sahut orang di ujung telepon.


...👑👑👑👑👑...


Bronze District, kawasan pembangunan apartemen baru pemerintah kota Golden City. Siang itu, Liana tengah melakukan pengecekan pemasangan baja, setelah sebelumnya telah selesai proses penutupan bekas galian pondasi.

__ADS_1


Mesin crane mulai bergerak dan mengangkut baja, serta memposisikan nya di tempat yang sesuai, setelah itu baru kemudian di kaitkan secara manual baik dengan mesin las maupun dengan baut.


Proses ini akan dilanjutkan dengan pengecoran bagian lantai, dan pemasangan dinding luar.


Baja merupakan bahan penguat dari sebuah bangunan. Bagian dari rumah yang memerlukan baja antara lain bagian sloof atau beton bertulang di bagian atas fondasi serta kolom sebagai penguat dinding.


Biasanya baja untuk kolom, dipasang vertikal di bagian pojok, pertemuan antara dua dinding. Selain itu ada juga di ring balok yang pembuatannya di bagian paling atas dinding.


Baja berfungsi sebagai pengunci kolom paling atas serta untuk memperkuat dinding dalam menahan beban atap.


Semuanya dikerjakan oleh tenaga ahli yang telah terpilih sebagai rekanan kontraktor yang sudah biasa bekerjasama dengan Wang Construction.


Liana di sana hanya memantau, dan memastikan jika semuanya sesuai dengan sketsa yang dibuatnya. Selebihnya diserahkan kepada pihak para pekerja.


Setelah selesai berbincang dengan penanggung jawab lapangan, Liana memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Kakek Joseph.


Dia terlebih dulu mampir ke sebuah toko kue, untuk membeli pai buah rendah lemak, di sebuah area pertokoan elit di sekitar Golden Park, yang terkenal dengan car free day twenty four seven, atau lebih tepatnya dilarang bagi kendaraan bermotor masuk ke area tersebut.


Gadis itu memarkirkan mobilnya dekat dengan taman kota, di mana disediakan area parkir yang luas, untuk kendaraan yang dibawa oleh para pengunjung.


Tidak terlalu jauh antara parkiran dengan toko kue, hanya berjarak sekitar sepuluh meter. Liana turun dari mobilnya dan berjalan kaki menuju ke tempat tujuan.


Liana yang tertarik ke belakang pun sempoyongan dan hampir jatuh. Namun, dengan cepat ditangkap oleh orang yang menariknya tadi.


“Anda tidak apa-apa, Nona?” tanya orang itu.


Liana segera berdiri dan merapikan pakaiannya, lalu kemudian berbalik untuk melihat orang yang sudah menyelamatkannya.


“Terimakasih atas bantuannya,” ucap Liana.


Gadis itu pun segera berbalik dan hendak pergi meninggalkan orang asing tersebut, namun lagi-lagi lengannya ditarik dan membuat Liana sedikit emosi.


“Maaf, sepertinya Anda tidak asing. Boleh saya tahu nama Anda?” tanya pria itu.


Modus minta kenalan, batin Liana kesal.


“Maaf, saya sedang buru-buru. Tidak bisa basa basi dengan Anda,” sahut Liana mencoba tetap tersenyum.

__ADS_1


“Kenalkan, saya Damian Li. Kalau tidak salah, Anda adalah Nona Wu dari Wang Construction bukan?” terka pria bermarga Li itu.


“Yah, saya Lilian Wu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Liana.


“Belum. Baru pertama kali ini. Senang bisa bertemu dengan perempuan hebat seperti Anda,” ucap Damian.


“Yah, tapi mohon maaf, saya sedang buru-buru,” sahut Liana.


“Oh, baiklah. Maaf sudah mengganggu waktunya. Tapi, mungkin lain kali kita bisa minum kopi bersama?” ajak Damian.


“Yah, lihat nanti saja. Permisi,” sahut Liana.


Gadis itu pun kembali berbalik dan menyeberang jalan. Dia tak begitu menghiraukan pria bernama Damian itu, meski pria tadi terlihat begitu antusias bertemu dengannya, dan bahkan telah menolongnya tadi.


Sesampainya di toko kue, Liana langsung mengambil dua buah pai berukuran sedang, dengan berbagai macam topping buah di atasnya.


“Bisa tolong bungkuskan ini?” seru Liana pada salah satu pelayanan di toko tersebut.


Pai pilihannya pun diambil alih dan dikemas di counter depan.


Sambil menunggu, Liana kembali melihat-lihat roti lain yang bisa dibawanya pulang untuk persediaan kudapan tengah malam.


Saat itu, dari balik etalase roti di toko tersebut yang langsung menghadap ke jalanan, dia tak sengaja melihat sebuah adegan yang cukup membuatnya penasaran, yang terjadi tak jauh dari tempatnya hampir tertabrak sepeda tadi.


Seketika, sudut bibir Liana tertarik ke atas.


Jadi begitu rupanya? Baiklah, kita lihat mau apa kamu sebenarnya, batin Liana.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2