
Belasan mobil van tiba di area sebuah proyek di wilayah barat negara bagian A, yang berbatasan dengan negara bagian B. Tempat tersebut begitu sepi dan gelap. Tak terlihat patroli penjaga malam di tempat tersebut.
Tempat yang berada di wilayah perhutanan ini sangat cocok untuk dijadikan tempat penyekapan sementara. Terlebih hal ini dilakukan oleh kelompok yang profesional di bawah arahan Tuan Jung, mantan ketua gang Jupiter.
Semua orang keluar dari dalam mobil. Salah satu dari mereka mengambil tongkat pemukul dan membagikannya kepada setiap anggota yang ikut.
Tiba-tiba, lampu-lampu menyala seketika, membuat area proyek terang benderang. Semua orang terlebih Falcon, mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Liana.
Pistol telah siap di balik jasnya, di bagian belakang celana, dan dua yang ia pegang di tangan.
“Alice! Keluar Kau!” teriak Falcon.
Melihat sambutan dari kawan lama, membuat Falcon urung untuk memakai cara halus dan sembunyi-sembunyi menolong Liana. Dia pun memilih untuk memanggil si penculik yang sudah pasti ada di tempat tersebut.
Namun, belum juga mendapat sahutan, sebuah lampu tembak menyorot ke atas tepat ke arah sebuah crane besar yang berada di tengah lahan. Semua sontak mendongak ke atas dan melihat benda tersebut.
Betapa terkejutnya Falcon dan yang lainnya, saat melihat sesosok gadis yang begitu dikenalnya, tergantung di atas sana, dengan kedua tangan terikat pada pengait raksasa.
“Lilian!” gumam Falcon lirih.
Tangannya mengepal melihat pemandangan di hadapannya, namun dia urung untuk bertindak gegabah.
Belum habis keterkejutannya, sebuah mesin yang digunakan sebagai lift pekerja, tiba-tiba bergerak dan membuat semua orang menoleh ke arah tersebut.
Falcon mengepalkan tangannya semakin erat, karena sudah begitu emosi dengan semua perlakuan mereka pada gadis itu. Matanya menatap tajam ke arah lift proyek yang baru saja sampai di bawah.
Sepasang pria dan wanita muncul dari dalam sana dan berjalan ke arah kerumunan gang Jupiter. Di susul semua anak buah mereka yang sedari tadi memang bersembunyi di area proyek tersebut dan kini telah berhadapan langsung dengan gang penguasa Grey Town itu.
“Hai, alex. Lama tidak bertemu. Oh, atau harus ku panggil kau Ketua Falcon? Hahahaha...,” sapa Alice dengan nada mengejek.
“Apa kau sekarang jadi pesuruh Tuan Muda Chen? Tidak disangka, si nomor satu justru menjadi anjing si nomer 3,” lanjut Alice.
Melihat kedua orang itu, Falcon serasa ingin maju dan menyerang mereka berdua secara langsung. Namun, dia berusaha untuk mengecoh keduanya agar tak sadar tentang hubungan antara dirinya dengan Liana.
Mendengar dari perkataan mereka, sepertinya mereka mengira kami di perintahkan oleh wartawan Chen. Ini bagus, batin Nine.
Dia melihat ke arah bosnya. Nampak wajah geram dengan mata yang sudah memerah, dan tangan mengepal kuat serta rahang yang mengeras. Namun, sang ketua tak juga bertindak seolah tengah meredam emosinya.
Ku kira hanya Alice. Rupanya, si gila ini juga ikut kemari. Aku harus berhati-hati dengan mereka berdua, batin Falcon.
“Apa ini perintah dari Pak tua Jung? Cara kalian benar-benar murahan. Hei, Alice. Sejak kapan kau sampai turun tangan dan berpura-pura menjadi wanita lemah di jalanan. Ini bukan tipe mu. Sungguh menjijikan,” ucap Falcon.
__ADS_1
Pria itu berusaha bermain perang psikologis dengan kedua lawan di depannya. Sementara semua anak buah masing-masing, berjaga-jaga di belakang mereka.
“Hentikan ocehan kalian berdua. Kita di sini sama-sama orang suruhan. Jadi, lakukan bisnis dengan baik atau kalau tidak, kita terpaksa harus berperang,” seru Henry.
“Sebaiknya kalian lepaskan gadis itu. Atau target kalian akan lepas lagi kali ini,” ucap Falcon.
“Apa kau yakin? Bukankah keberadaan kalian di sini sudah menunjukkan bahwa tuan muda itu begitu peduli pada cucu Presdir Wang. Kalau tidak, mana mungkin dia meminta bantuan kalian semua hanya untuk seorang gadis yang tak berarti apa-apa. Tapi aku sedikit kecewa padanya. Ku kira dia gentleman dan mau datang sendirian demi kekasihnya, tapi ternyata tidak,” ejek Alice.
Falcon semakin geram. Namun tiba-tiba, sebuah sepeda motor datang dan membuat semua orang menoleh ke arah pengendara roda dua itu.
Tampak di sana, seorang pemuda turun dari kuda besinya. Falcon, Henry dan Alice tau betul siapa yang datang saat ini.
“Akhirnya, tamu istimewa kita sudah hadir,” ucap Alice.
Terlihat Christopher Chen berjalan ke arah kerumunan tersebut. Dia terkejut mendapati Falcon yang sudah berada di sana dengan sepasukan gangster miliknya.
“Selamat datang, Tuan Muda Chen. Maaf karena sambutan kami begitu mengerikan,” ujar Henry.
Christopher yang sedari tadi menatap tajam ke arah Falcon, kini berpindah pada orang-orang suruhan Tuan Jung.
“Di mana dia?” tanya Christopher.
Henry tak menjawab. Dia hanya menoleh kebelakang dan mendongak ke atas. Christopher pun mengikuti arah pandangan pria itu, dan seketika kedua matanya membola.
“Lepaskan dia! Urusan kalian hanya dengan ku. Jangan libatkan siapa pun!” ucap Christopher geram.
Cenkeraman tangannya begitu kuat. Namun, Henry tak merasa ketakutan sedikit pun. Dia justru menyeringai melihat reaksi dari tuan muda yang hendak diajak pulang olehnya.
“Baiklah. Kami akan lepaskan gadis itu. Tapi, Anda harus ikut kami pulang ke Empire State malam ini juga, atau kalau Anda menolak, kami tidak akan segan untuk membunuh gadis itu,” ancam Henry.
“Kurang ajar!” maki Christopher.
Sebuah pukulan tepat mendarat di wajah Henry. Pria itu pun sampai terhuyung ke belakang. Namun, Christopher kembali meraih kerah bajunya dan mencengkeramnya kembali.
“Kenapa kalian harus melibatkan dia? Brengs*k!” maki Christopher.
Setelah mendapatkan pukulan tadi, Henry justru semakin terkekeh, dan memandang remeh ke arah sang tuan muda.
“Hehehe... Bukankah ini salah Anda sendiri, Tuan muda? Dia terlibat karena sudah mendapatkan perhatian dari Anda,” sahut Henry.
“Apa?!” ujar Christopher.
__ADS_1
Pemuda itu sama sekali tak menyangka, jika perasaannya kepada Liana akan membuat gadis itu dalam bahaya seperti sekarang ini.
Cengkeraman tangannya pun mengendur. Dia berdiri dengan gontai. Dia kembali mendongak ke atas dengan tatapan nanar.
“Jadi, semua ini salah ku?” gumamnya.
Pemuda itu menoleh ke belakang. Di sana, Falcon masih berdiri dengan tegap menghadap ke arahnya.
“Bawa aku pergi, dan lepaskan dia,” ucap Christopher kemudian.
Seketika, sebelah sudut bibir Henry terangkat ke atas setelah mendengar perkataan dari sang pewaris Empire Group itu.
“Baik, Tuan muda. Dengan senang hati,” sahut Henry.
Pria itu menoleh ke arah rekan wanitanya dan memberikan isyarat pada Alice. Wanita itu pun maju menghampiri Christopher.
“Mari ikut saya, Tuan Muda Chen,” seru Alice.
Christopher berjalan mengikuti langkah wanita itu. Saat berjalan melewati Falcon, dia berhenti sejenak dan keduanya pun saling melempar pandangan.
“Tolong jaga dia,” ucap Christopher.
Falcon diam. Dia memilih tak membalas dan membuang pandangannya ke depan. Namun, Christopher yakin jika pria itu akan menyelamatkan Liana, karena dia tahu betul keberadaan Falcon di tempat itu adalah untuk menolong gadis tersebut.
Christopher pun kembali melangkah dan masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah disiapkan oleh orang-orang Tuan Jung.
Baru saja dia masuk dan pintu tertutup, Tiba-tiba dari arah proyek, terdengar bunyi berdentum keras, dan membuatnya menoleh seketika ke arah tersebut. Pengait crane meluncur ke bawah dengan cepat dan menghantam tanah seketika.
“LIANA!”
.
.
.
.
Udah 2, tinggal 1, nanti malam aja ya bestie🥰
kopiin othor dong biar semangat 😁
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘