Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Mengantar pulang


__ADS_3

Tak perlu waktu lama, kini mobil telah masuk ke dalam area parkir basemen apartemen yang dihuni oleh Liana. Falcon pun segera keluar saat pintu telah dibukakan.


Dia berjalan memutar dan menarik lengan Liana agar gadis itu keluar dari mobil.


“Lepaskan aku! Dasar br*ngsek! Aku tidak mau ikut dengan mu!” oceh Liana.


Falcon tak berpikir lagi, dia seketika memanggul Liana di atas pundaknya. Gadis itu masih terus meracau sambil memukuli punggung Falcon dengan kedua kaki yang terus menendang udara.


Dengan gemasnya, Falcon bahkan sesekali memukul pantat Liana dengan keras agar gadis itu mau diam. Seluruh lift sengaja disterilkan agar hanya Falcon dan Liana yang naik di dalamnya. Pria itu tak mau jika sang kekasih akan masuk berita utama di halaman depan, sebagai sang arsitek muda yang bersikap bar-bar saat sedang mabuk.


Terlebih lagi jika kakeknya sampai tahu kelakuan calon cucu menantunya yang seperti ini di luaran.


Falcon masuk ke apartemen dan membaringkan gadisnya di ranjang. Liana mulai menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan.


Dia menendang flatshoes nya ke sembarang arah bahkan salah satunya hampir mengenai Falcon. Saat pria itu akan menyelimutinya, Liana tiba-tiba bangun dan duduk, membuat jarak wajah mereka berdua begitu dekat.


Dengan mata yang memicing, Liana menatap Falcon, akan tetapi pria tersebut kembali merebahkan gadisnya agar dia bisa menyelimuti tubuhnya itu.


Namun, Liana tiba-tiba saja merangkul leher falcon dengan kedua tangannya, dan membuat pria itu menindih tepat di atas tubuh Liana.


“Kau milikku! Kenapa kau malah menari dengan gadis lain?” racau Liana.

__ADS_1


Dia mulai mengatakan isi hatinya lagi. Sedangkan Falcon, sejak dari hotel, pria itu masih diam dan tak menanggapi perkataan Liana sama sekali.


Pria itu berusaha melepaskan lengan Liana dari lehernya, namun gadis tersebut justru semakin kuat menarik Falcon, hingga wajahnya semakin menempel di dada gadis itu yang terasa begitu kenyal.


Liana memeluk Falcon dengan erat seperti sedang memeluk sebuah guling. Falcon sampai mengangkat tangannya, karena tak ingin dikira mengambil kesempatan saat Liana sedang mabuk.


“Aku memintamu untuk terus berada di sisiku, tapi kau malah menggoda gadis lain. Apa kau tahu kalau aku sangat marah? Kau sangat menyebalkan! Aku benci padamu!” gumam Liana.


Perlahan, rangkulan Liana melemas, dan Falcon bisa sedikit bergerak dan berusaha menyingkirkan lengan Liana dari lehernya.


Setelah berhasil lepas, Falcon kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh Liana. Gadis itu terlihat telah kembali tidur dengan lelap.


Falcon terdengar menghela nafas panjang, dan mengusap wajah hingga rambutnya ke belakang.


Pria itu kembali mendekat dan mengusap lembut puncak kepala gadisnya.


“Anggap saja kita sama-sama impas. Oke, Sweety,” lanjut Falcon.


Pria itu mengecup kening Liana sedikit lama, hingga akhirnya dia kembali meninggalkan gadis tersebut untuk istirahat seorang diri di dalam kamarnya.


Falcon kemudian duduk di sofa ruang depan apartemen tersebut. Dia nampak mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


“Chip, apa kau sudah dapat apa yang aku minta?” tanya Falcon.


“Ini akan sedikit memakan waktu, Bos. Tapi, aku sudah mendapatkan satu informasi penting,” ucap Chip.


“Ketua Jung rupanya pernah tinggal di kediaman Keluarga Callister saat masih muda sebagai anak seorang pesuruh. Dia pergi ke luar dari tempat itu saat beranjak remaja dan berakhir di Grey Town. Dan kau tahu aku dapat informasi ini dari mana, Bos?” ucap Chip.


“Apa itu penting?” tanya Falcon.


“Aku yakin kau pasti akan terkejut saat mendengarnya,” sahut Chip.


.


.


.


.


Tau dari siapa hayoooo🤭


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2