
Sejak saat pesta pengumuman cucu Presdir Wang yang asli, kini Liana semakin disegani oleh banyak orang, termasuk mereka-mereka yang dulu pernah meremehkan kemampuannya hanya karena dia seorang pemula.
Para penjilat mulai berdatangan dan memuji-muji dirinya. Namun, bukan Liana kalau bisa dengan mudah termakan bujuk rayu para benalu itu.
Namun, tak hanya mereka yang mencari keuntungan saja yang terus mengitari Liana, namun ada juga sahabat yang selalu mendukung setiap langkahnya, sejak gadis itu masih bukan siapa-siapa hingga kini ia telah menjadi seorang pewaris tunggal perusahaan.
Para pekerja di lapangan pun sangat senang mendengar kabar tersebut. Mengingat perhatian Liana pada setiap pekerja yang berada di bawah kepemimpinannya.
Ditambah, kebijakan sang kakek yang memberikan bonus kepada seluruh pegawai baik yang bekerja di kantor maupun di lapangan, atas peristiwa penting tersebut
Hari ini, seperti biasa Liana selalu mengawali harinya pergi ke area konstruksi. Kali ini proyek yang tengah digarapnya adalah Golden Hospital. Dalam waktu kurang dari sebulan, proses pemasangan baja dan dinding beton sudah sampai setengah jalan.
Nampak mesin-mesin crane kesukaannya bergantian menaik turunkan benda, membantu kerja para pekerja proyek untuk membangun gedung rumah sakit berlantai dua belas itu.
Dari kejauhan, seseorang dengan berpakaian formal memasuki area proyek, lengkap dengan helm keselamatan. Liana yang saat itu tengah berbincang dengan penanggung jawab lapangan pun menyudahi pembicaraannya.
“Nanti akan saya cek lagi. Tolong lakukan seperti yang tadi ku katakan,” seru Liana.
“Baik, Nona Wang,” sahut si penanggungjawab lapangan.
Liana berbalik dan berjalan menghampiri orang tersebut.
“Permisi. Apa Anda yang bertanggung jawab dengan proyek ini?” tanya orang itu.
“Benar. Anda siapa dan sedang apa di sini? Maaf, di sini area berbahaya jadi tidak bisa sembarangan orang masuk kemari,” ucap Liana.
“Maaf karena ketidak sopanan saya. Perkenalkan, saya perwakilan dari Yayasan Xing Ping. Kami memberitahukan bahwa siang ini akan ada perwakilan dari yayasan kami dan salah satu donatur akan datang kemari meninjau jalannya proyek ini. Jadi, saya ingin memastikan kondisi di sini memungkinkan untuk dikunjungi,” tutur orang itu.
“Sekali lagi saya mohon maaf, Tuan. Jika perwakilan Anda ingin kemari, kami dengan senang hati menerima mereka. Namun, perlu diingat, ini adalah area konstruksi dan di sini sangat berbahaya. Jika Anda datang kemari memastikan kondisi aman, saya rasa sebaiknya pantau dari kejauhan saja. Dari seberang jalan misalnya,” seru Liana.
“Saya hanya melakukan sesuai perintah saja, Nona,” sahut orang itu
“Yah, terserah. Itu juga hanya sebuah saran dari kuli. Entah akan didengar oleh majikan atau tidak,” ucap Liana.
Orang itu membungkuk dan kembali berjalan ke arah sisi lain lahan. Liana menoleh dan melihat orang itu yang semakin melangkah menjauh.
__ADS_1
“Orang aneh dari mana lagi yang akan datang? Kenapa yayasan ini di penuhi dengan orang-orang aneh? Bukan hanya aneh, tapi juga menyebalkan,” gumam Liana pada diri sendiri.
Liana pun kembali melakukan pengecekan di setiap bagian, agar tak ada kesalahan yang mungki terjadi karena kelalaian.
Saat menjelang siang, ketika Liana tengah berkumpul dan bercengkerama dengan para pekerja yang sedang beristirahat, tiba-tiba sebuah rombongan datang.
“Sepertinya kita kedatangan tamu,” ucap salah satu pekerja.
“Biarkan saja. Mereka hanya sekumpulan badut berjas yang punya banyak uang,” sahut Liana sarkas.
Liana melihat dari kejauhan. Nampak seorang gadis dengan mengenakan pakaian glamor keluar dari dalam mobil. Seorang pria nampak menyiapkan sebuah payung, dan memayungi gadis itu.
Liana seolah familiar dengan sosok yang menurutnya tak seharusnya berada di area proyek pembangunan, mengingat penampilannya yang sangat berlebihan.
Kaca mata hitam bertengger di hidungnya. Topi dengan jaring di bagian atas yang menjuntai ke depan wajah bak kelambu nyamuk, serta high heels yang sudah pasti sangat merepotkan.
“Setidaknya mereka harus memilih pakaian yang sesuai dengan tempat yang akan mereka datangi. Apa harus selalu tampil glamor di setiap situasi tanpa memandang fungsinya?” kkeuh liaan.
Gadis itu kembali menyesap kopi yang diberikan oleh para pekerja di sela-sela jam istirahat. Kemudian gadis itu berdiri dan menghampiri rombongan yang kini telah memasuki area tersebut.
Apa itu kau? Lama tidak bertemu dan kau masih saja b*doh, batin Liana.
Sebelah sudut bibirnya terangkat, dan seringai muncul di wajahnya. Dia pun kemudian mendekat ke arah rombongan tersebut.
“Selamat siang. Boleh saya tau ada keperluan apa Nada semua datang kemari?” tanya Liana.
Gadis itu berpura-pura sopan di hadapan tamu tak diundang nya.
“Siapa Anda?” tanya pria yang sedari tadi bertindak seperti seorang pemandu wisata.
“Saya? Harusnya saya yang bertanya Anda siapa berada di area konstruksi ini?” tanya Liana balik.
“Apa kau tidak tau? Dia adalah Nona Lusy Jung, anak dari pemilik Yayasan Xing Ping, yang kebetulan sedang datang kemari dan ingin melihat proses pembangunan gedung rumah sakit kami,” tutur pria sok tau tadi.
Lusy nampak mengangkat dagunya dan melihat Liana dengan tatapan merendahkan.
__ADS_1
“Ah... Nona Jung. Senang bertemu dengan Anda. Lalu, siapa Anda?” tanya Liana pada pria seperti tadi.
“Saya? Saya perwakilan yang ditunjuk oleh Yayasan untuk mendampingi tur beliau,” jawab si pria dengan bangganya.
Lusy nampak berbicara pada salah satu pengawal. Dari gerak tubuhnya, gadis itu seolah tengah meminta agar mereka mengusir Liana dari sana.
Gadis pintar itu pun tiba-tiba mendapat ide bagus untuk membuat si sombong itu dan semua pengawalnya kalang kabut.
“Jka Anda ingin mengadakan tur di tempat ini, kebetulan sekali Anda bertemu dengan saya. Saya salah satu pekerja di sini yang sudah pasti tau seluk beluk bangunan. Jika berkenan, saya bisa menjadi pemandu Anda,” ucap Liana.
Lusy nampak berpikir. Dia yang selalu memandang rendah orang, tak pernah merasa waspada dan mengira jika mereka tak bisa melakukan apapun selama dia dikelilingi oleh pengawalnya.
Dia pun menyetujui tawaran Liana untuk menjadikannya bak pemandu wisata di sebuah area konstruksi.
Gadis itu mulai bergerak, membawa semua orang berkeliling melihat dan menjelaskan setiap bangunan yang masih jauh dari kata selesai ini.
Meski dia sangat yakin jika tamunya itu tak tahu sama sekali apa yang diucapkannya, namun Liana tetap menjelaskan hal itu pada mereka.
Hingga tibalah saat mereka sampai di gedung utama, Liana mengajak nona manja itu untuk mencoba naik, dan melihat keseluruhan area proyek dari atas gedung.
“Maaf, tidak semua orang bisa ikut naik. Kalian harus mengantri karena lift pekerja hanya muat tiga orang,” ucap Liana.
Gadis itu berbohong, karena lift pekerja bisa membawa sebanyak lima orang, dengan bobot tubuh masing-masing tak lebih dari tuju puluh kilogram.
Akhirnya, sang pemandu abal-abal dan juga Lusy Jung yang ikut naik lebih dulu bersama Liana.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘