
Sekitar satu jam Ella mendatangi kamar Liana, banyak yang kedua gadis itu obrolkan, namun lebih banyak Liana yang bicara dan mengeluhkan sikap protektif kakek dan kekasihnya itu.
Nine dan Long yang mendengar ocehan Liana pun hanya bisa menahan senyum mereka, karena melihat wajah datar Falcon yang sedari tadi terus berada di sisi kekasihnya itu.
Setelah itu, Long kembali membawa Ella ke kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Nine pun undur diri karena masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.
Sejak kejadian hilangnya Peter, hampir seluruh pekerjaan kantor diambil alih oleh Nine dengan bantuan Jack. Sedangkan untuk berkas yang perlu tanda tangan Falcon, secara langsung akan di kirim ke rumah sakit untuk diperiksa olehnya.
Liana berkali-kali meminta Falcon untuk tidak perlu menjaganya dua puluh empat jam setiap hari di sana, akan tetapi pria tersebut seolah tak peduli dengan pendapat Liana, dan selalu mengawasi setiap gerak gerik gadis itu.
“Sampai kapan aku akan jadi tahanan rumah sakit? Aku sangat bosan, Honey,” keluh Liana saat semua orang telah pergi.
Gadis itu bersandar di dada sang kekasih dengan wajah yang benar-benar ditekuk.
“Sampai besok,” sahut Falcon.
Liana pun seketika menoleh ke belakang dan menatap wajah prianya.
“Benarkah? Aku sudah bisa pulang besok?” cecar Liana.
__ADS_1
Sebuah senyum muncul di wajah Falcon, dan di susul sebuah anggukan, yang menandakan bahwa perkataannya adalah benar.
Liana serta merta memeluk pinggang Falcon dengan wajah yang begitu senang.
“Akhirnya. Aku sudah hampir mati karena bosan di sini. Dokter itu sepertinya sengaja ingin membuat ku terpenjara di sini. Wajahku sudah cantik lagi, bahkan luka jahitan di tangan pun sudah sangat membaik dan hampir sembuh. Apa lagi yang ditunggu? Harusnya hari ini pun aku bisa keluar dari sini,” cerocos Liana.
“Tapi, kulihat kau sangat penurut,” sahut falcon.
Liana diam. Namun wajahnya benar-benar terlihat kesal dan itu bisa dilihat oleh Falcon dari posisinya. Pria itu pun mengurai pelukan mereka dan merengkuh pundak Liana.
Dia mencoba melihat mata gadisnya yang hitam. Memang benar wajah Liana telah pulih, tidak seperti sebelumnya yang benar-benar membiru karena dipukul beberapa kali oleh Henry dan juga Amber.
Wajah cantik itu terlihat kesal karena kebebasannya diambil, namun dia tak mau melawan seperti biasa.
“Aku juga tau, kau tidak membantah karena masih mengira aku marah padamu tentang masalah kakekku bukan? Maaf, karena aku juga memanfaatkan hal itu agar kau tidak berani menolak permintaan ku,” ungkap Falcon.
“Apa!?” sahut Liana.
“Sebenarnya aku sudah tak marah lagi padamu. Hanya saja, kesempatan seperti ini sangat langka. Jadi, ku manfaatkan saja agar kau mau menurut dan beristirahat di sini hingga pulih,” jawab Falcon.
__ADS_1
Seketika sebuah pukulan meluncur ke dada Falcon dan lama-lama menjadi beruntutan. Liana kesal karena sudah dikerjai oleh kekasihnya sampai hampir mati kebosanan.
“Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!”
Liana terus saja merapal kata itu sambil memukuli dada prianya.
Falcon mencoba menahan pukulan Liana, tapi gadis itu terus berontak dan memukulnya. Akhirnya, Falcon hanya diam dan menerima pukulan kesal dari Liana, yang baginya tak terasa sakit sama sekali.
Setelah beberapa lama, akhirnya gadis itu diam. Wajahnya tertunduk dan bahunya tampak berguncang. Rupanya, Liana sedang menangis, dan membuat Falcon pun membawa gadis tersebut ke dalam pelukannya.
“Maafkan aku, Sweety. Aku memang sudah Keterlaluan,” ucap Falcon.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘