
Tak berselang lama, iring-iringan itu telah tiba di depan apartemen Liana.
“Bawakan barang-barang ini ke atas!” seru Long pada anak buahnya.
“Tinggalkan satu mobil untuk ku! Setelah urusan Liana selesai, aku akan segera pergi ke Grey Town,” ucap Falcon.
Nine menyerahkan kunci mobil yang tadi di naikinya kepada sang ketua geng.
“Kami tidak bisa mengantar sampai atas, Bos. Kami harus segera kembali. Beberapa anak buah kita akan berjaga di sekitar sini,” ujar Nine.
“Baiklah. Kalian hati-hati di jalan,” sahut Falcon.
Pria itu kembali merangkul pundak kekasihnya dan membawanya masuk ke dalam gedung apartemen.
Sesampainya di lantai, di mana unit milik Liana berada, sudah ada dua orang anak buah Falcon yang berdiri di depan pintu. Barang-barang Liana pun telah sampai bersama mereka.
Gadis itu kemudian membuka pintu dan menyalakan saklar lampu. Sedangkan Falcon, dia mendorong koper milik gadisnya masuk dan beberapa tas lainnya.
Liana meraih salah satunya untuk membantu kekasihnya agar tidak kesulitan membawa barang-barangnya.
“Kalian berjaga lah di sini!” seru Falcon pada anak buahnya yang sedari tadi berdiri di depan.
Setelah mengatakan hal tersebut, pria itu masuk dan menutup pintunya.
__ADS_1
“Apa kau membawa pakaian ganti?” tanya Liana.
“Hanya beberapa saja,” sahut Falcon.
Pria itu berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air dari dispenser.
“Apa kau lapar?” tanya Falcon saat melihat mi instan di dalam rak atas.
“Lumayan. Tapi sebaiknya kau bersihkan badanmu terlebih dulu, baru kita pikirkan akan makan apa,” ucap Liana.
Gadis itu masuk ke kamarnya. Tak berselang lama, dia kembali keluar dengan membawa sebuah handuk, sikat gigi lengkap dengan pasta giginya, dan juga sabun mandi pria untuk Falcon.
Pria itu sampai terbengong melihat benda-benda yang telah disiapkan oleh Liana.
“Apa maksudmu bicara seperti itu? Apa aku terlihat murahan untuk mu, hah? Hei Tuan, seumur hidup, dari sejak aku kecil sampai sebesar ini, hanya satu pria yang ku ajak masuk ke dalam rumah, dan itu kau! Dasar menyebalkan! Ini, ambillah cepat!” gerutu Liana.
Gadis itu terlihat kesal dengan perkataan Falcon. Liana pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat.
“Apa perkataanku ada yang salah?” gumam Falcon.
Sementara di dalam sana, Liana terus saja menggerutu, karena perkataan dari Falcon yang menuduhnya sering membawa masuk pria ke dalam apartemen ini.
“Benar-benar brengs*k! Aku dengan baik hatinya mau menampung dia di sini, tapi dia malah berburuk sangka padaku. Apa dia tak tahu kalau aku hanya berjaga-jaga menyiapkan semua itu, barang kali tiba-tiba dia datang dan numpang menginap lagi seperti sekarang ini? Dasar menyebalkan!” maki Liana.
__ADS_1
Dia melepas satu persatu pakaiannya, dan membalut tubuh kecil nan berisinya, serta kulit mulus itu dengan selembar handuk mandi, yang terlilit dari dada, dan menutup hingga pahanya.
Gadis itu pun kemudian berjalan ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya. Namun, saat baru saja kakinya melangkah masuk, sekelebat bayangan muncul di depannya, membuat gadis itu seketika membeku.
Jantung Liana seketika berdegup kencang menerka apa yang tadi dilihatnya.
“Tidak mungkin kan? Kenapa mendadak jadi horor begini?” gumam Liana lirih.
Liana begitu gugup hingga dia kesulitan menelan ludahnya sendiri. Meski dia mencoba tetap tenang, namun ada kekhawatiran di benaknya yang begitu besar.
“Tenang, Liana. Tenang. Itu hanya halusinasimu saja. Tidak ada apapun di sini,” ucap Liana pada diri sendiri.
Namun, saat dia kembali melangkah dan berbalik hendak menutup pintunya, sesuatu yang mengerikan untuknya berada tepat di depannya.
AAAAAARRRRRRRGGGGGGGHHHHHHHH!!!!!
.
.
.
.
__ADS_1
Kenapa lagi tuh si eneng 😱