Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Karyawan Baru


__ADS_3

Hari-hari berlalu. Kondisi Kakek Joseph sudah semakin membaik. Kini, dia sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya, dan menjalani perawatan dari sana.


Jessica dan Caroline masih terus berpura-pura bersikap baik di hadapan pak tua itu, sambil mencari cara agar semua hartanya jatuh ke tangan mereka.


Saat ini, Jessica terlihat sedang marah kepada ibunya, karena bukannya menikmati kebebasan karena sudah lepas dari anak buah Long, dia justru semakin terjebak di rumah besar itu, bagaikan burung dalam sangkar.


Meski semua tersedia dan kemewahan menjadi miliknya, namun Jessica merasa terkurung di dalam mansion besar keluarga Wang.


“Aku bosan, Bu. Aku suntuk di rumah terus. Aku lelah kalau harus mengurusi kakek tua penyakitan itu setiap hari. Aku juga butuh refreshing, Jalan-jalan, shopping, dan menikmati hidup menjadi orang kaya. Bukannya malah terkurung di sini,” gerutu Jessica.


“Sayang. Kamu sabar. Sekarang ini, yang terpenting adalah mengambil hati kakek tua itu. Semakin kamu terlihat baik di depannya, kesempatan kita untuk menguasai semua miliknya akan semakin besar,” bujuk Caroline.


“Kalau begitu, bagaimana jika ibu saja yang mengurus si tua itu. Aku malas,” keluh Jessica.


Caroline nampak berpikir agar bisa meredakan emosi dari sang putri. Sebuah ide terbersit di benaknya. Wanita paruh baya itu pun mendekati putrinya dan membisikkan sesuatu.


Nampak Jessica mendengarkan dengan seksama, hingga sebuah senyum terbit di wajahnya.


“Ibu benar. Dengan begitu, sedikit demi sedikit pasti kita bisa mengambil semuanya. Aku akan coba bujuk pak tua itu sekarang juga,” ucap Jessica bersemangat.


“Eh, tunggu dulu. Jangan terburu-buru. Tunggulah sampai Tuan Wang merasa sedikit rileks. Jangan sampai membuat dia menjadi seperti sebelumnya. Tunggulah,” seru Caroline.


Jessica pun mengangguk, dan menuruti perkataan sang ibu.


...👑👑👑👑👑...


Hari itu, saat sore menjelang petang. Tepatnya pukul empat sore, nampak Joseph Wang meminta Jessica untuk membawanya ke taman belakang, dimana relief hiasan dinding yang dibuat oleh Liana dan para pekerja berada.


Merek berhenti di tepi kolam ikan, dan melihat betapa indahnya pemandangan buatan itu.


“Bagaimana menurutmu hiasan dinding ini?” tanya Kakek Joseph pada Jessica.


Gadis itu tak tau sama sekali tentang masalah seperti itu. Dia lebih suka hal-hal yang berhubungan dengan penampilan. Oleh karena itu, dulu dia pun memilih jurusan fashion designer saat kuliah. Namun sayang, belum sempat lulus, dia harus putus sekolah karena kejadian dengan si tua Paulo.


“Eh, bagus, Kek. Pasti yang membuat adalah seorang arsitek profesional ya, Kek?” jawab Jessica asal.


Dia bermaksud memuji setiap hal yang ada di sekitar kakek tua itu, demi menyenangkannya dan mengambil hati pria tua malang itu.

__ADS_1


“Kau salah. Ini dibuat oleh Lilian, saat dia masih bekerja sebagai pelayan di rumah ini. Dia dengan terampilnya membuat hal semacam ini, bahkan dia bisa memberi arahan kepada para pekerja lainnya yang membantu,” tutur Joseph.


Apa? Jadi, gadis itu pernah jadi pelayan di rumah ini? Pantas saja dia seperti akrab dengan semua yang berada di sini, batin Jessica.


“Benarkah, Kek? Wah, Nona Wu memang sangat terampil rupanya,” sahut Jessica berpura-pura kagum.


“Yah, dia anak yang berbakat. Oleh karena itu, kakek memintanya untuk bekerja di perusahaan dan membantu Jimmy di sana,” ucap Joseph merasa bangga pada Liana.


Nampak Jessica menyeringai saat mendengar perkataan dari sang kakek.


Ini dia waktunya, batin Jessica.


“Wah, kakek benar-benar dermawan. Mengangkat derajat seorang pelayan biasa menjadi setinggi itu. Ehmmm, bagaimana kalau kakek juga memberiku kesempatan juga? Bukankah, aku ini cucu Kakek? Akan lebih baik kalau aku mulai belajar di perusahaan kan, Kek,” bujuk Jessica.


Gadis itu mulai melancarkan rencananya dengan sang ibu tempo hari, yaitu dengan memasukkan Jessica ke dalam perusahaan.


Dengan begitu, dia bisa dengan leluasa pergi keluar mansion setiap hari, dan bisa dengan mudah mengatur perusahaan semaunya.


“Benarkah? Apa kau yakin, Nak?” tanya Joseph.


“Tentu saja, Kek? Apa Kakek merasa aku tidak sebaik Lilian?” tanya Jessica berpura-pura kecewa.


“Kakek serius?” tanya Jessica memastikan.


“Tentu saja serius. Kapan kakek main-main?” sahut Joseph.


Jessica terlihat begitu bahagia. Dia pun merangkul kakek tua itu dari belakang, dan kembali bersikap manja. Joseph sendiri nampak bahagia, karena bisa membuat gadis yang dikira cucunya itu senang.


Namun, pria tua itu tak tau jika di belakangnya, Jessica nampak tersenyum licik penuh maksud tersembunyi.


Baiklah. Sekarang aku sudah mendapatkan tiket untuk bisa hidup bebas. Untuk apa punya banyak uang kalau hanya duduk diam di rumah. Tapi sekarang, aku bisa dengan mudah menghabiskannya. Hahahhaha, batin Jessica bersorak-sorai.


...👑👑👑👑👑...


Setelah merayu Kakek Joseph untuk membawanya masuk ke perusahaan, awal pekan ini, Jimmy diminta untuk mengantarkan Jessica ke gedung Wang Construction, untuk mulai bekerja sebagai salah satu karyawan di bagian pemasaran.


Kakek Joseph sengaja menempatkan Jessica di sana, karena merasa jika gadis itu bisa mulai belajar dari bawah. Ditambah, bagian itu selalu berhubungan dengan pelanggan, sehingga bisa membuat Jessica untuk kenal lebih dekat dengan para konsumen, dan berharap bisa semakin memajukan perusahaan ke depannya.

__ADS_1


Seorang pegawai bagian personalia ditugaskan untuk mengantarkan gadis itu ke meja kerjanya, yang terletak di lantai dua puluh gedung tersebut. Hanya beda satu lantai dari bagian produksi, dimana salah satunya adalah bagian perencanaan yang dikepalai oleh Liana.


Saat itu, Jessica telah tiba di mejanya. Dia tak percaya jika tempat kerjanya begitu kecil. Hanya sebuah bilik dengan sekat papan dan kaca tembus pandang dibagian atasnya, serta begitu terasa sempit.



“Silakan, Nona. Ini meja Anda,” ucap pegawai tersebut.


Jessica merasa kesal karena mendapatkan posisi rendah seperti itu. Dia pun menoleh ke arah pegawai tersebut sambil berkacak pinggang, dan dengan arogannya memarahi pegawai tadi.


“Apa kau tidak tau siapa aku, hah? Aku ini cucu Tuan Wang, pemilik perusahaan ini. Kenapa malah memberiku tempat seperti ini? Kau mau mempermainkan ku? Mana mungkin kakek ku akan menempatkan ku pada posisi rendahan seperti ini,” maki Jessica.


Tepat saat itu, Liana yang sedang melakukan pembahasan mengenai fitur bangunan, dengan menejer salah satu staf pemasaran, tengah berjalan sekitar area tersebut dan melihat kejadian itu.


“Ada ribut-ribut apa di sana?” tanya Liana.


“Entahlah. Tapi sepertinya, itu karyawan baru yang masuk hari ini. Ku dengar, dia punya koneksi orang penting,” sahut staf yang berdiri di sampingnya.


“Hei, bukankah aku juga sama,” sahut Liana.


“Kau pengecualian, karena kau memang berbakat. Tapi sepertinya, dia sedikit sulit dihadapi,” ucap staf itu sambil menunjuk kedua orang yang sedang ribut di sana dengan dagunya.


Liana penasaran dengan karyawan baru, yang sudah membuat keributan di hari pertamanya masuk kerja.


Dia pun memperhatikan dengan seksama siapa orang itu. Jessica tak sengaja berbalik, dan seketika genggaman tangan Liana mengeras.


Jadi, kau sudah sampai di sini. Bagus, dengan begini aku bisa leluasa menarikmu ke dalam rencanaku, batin Liana.


.


.


.


.


Selamat hari senin, guys😊masih ada yg punya sisa Vote???? bagi sini dong🤭

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2