
Setelah mengunjungi sang ayah, Liana kemudian mengunjungi Ella yang juga sudah semakin membaik.
Mereka membuat janji esok hari, untuk pergi ke pesisir utara. Mereka ingin mengucapkan selamat jalan kepada Paulo, karena sebelumnya kondisi tak memungkinkan mereka melakukan hal tersebut.
Ella pun harus didampingi oleh Q, karena sebenarnya dia belum diperbolehkan keluar dari rumah sakit terlalu lama.
Namun, karena Liana harus kembali ke Empire State, maka Falcon pun meminta bantuan Q untuk mendampingi Ella.
Setelah pembicaraan dengan Nyonya tua Mo saat itu, sikap Falcon berangsur-angsur membaik kepada Q. Meski masih terkesan ada jarak, namun mereka sering kali berhubungan meski hanya sekedar menanyakan kabar Peter dan juga Ella, untuk dilaporkan kepada Liana.
Setelah mengunjungi Ella, Liana meminta Falcon untuk menemaninya pergi ke penjara. Dia ingin melihat seberapa hancurnya kondisi Amber saat ini.
Gadis itu tampak sedang duduk di depan kaca tembus pandang yang sangat tebal, dengan banyak lubang di bagian tengah untuk memungkinkan dua orang yang tersekat berkomunikasi secara langsung.
Sedangkan Falcon, pria itu memilih tetap berdiri bersandar di pintu tepat di belakang Liana.
Tak lama kemudian, seorang sipir penjara membuka pintu di seberang, dan terlihatlah sosok wanita yang dulu begitu anggun dan berkelas, kini tampak kusam, dengan balutan seragam tahanan.
Rambutnya pun hanya terkuncir asal-asalan, dan tak terlihat sedikitpun jejak bangsawan di dirinya.
“Gadis tengik! J*lang si*lan! Mau apa kau datang kemari?” maki Amber.
“Wah... Nyonya. J*lang teriak j*lang. Apa kau tak malu?” sahut Liana santai.
__ADS_1
Gadis itu memandang remeh ke arah Amber, dan membuat wanita itu memalingkan wajahnya. Dia melihat kehadiran sang anak tiri dan merasa jika emosinya semakin naik.
“Anak haram dan anak j*lang, benar-benar pasangan serasi,” sindir Amber.
“Nyonya, bukankah Anda yang paling tahu identitas dari kekasihku ini? Yah, terserah kau saja. Karena seberapa keras kau mengelak, kenyataannya tetaplah sama. Dia adalah keturunan asli dari David Harvey, suamimu dengan istri ketiganya,” sahut Liana.
“Cih! Apa kalian kemari hanya ingin mengatakan hal menjijikan seperti itu? Sebaiknya kalian pergi saja. Nikmati kemenangan sesat kalian itu,” ucap Amber.
“Tunggulah sebentar. Waktu kunjunganku pun masih tersisa beberapa menit. Aku ingin melihat lebih lama lagi kondisimu yang sangat mengenaskan ini,” sahut Liana.
“Heh, apa kau pikir aku tidak bisa keluar dari sini secepatnya, hanya karena Moses sudah mengaku dan memberikan semua bukti? Kalian salah! Aku masih punya sesuatu yang bisa membebaskanku dari sini. Lihat saja, aku pasti akan membalik keadaan,” ucap Amber penuh percaya diri.
“Ah... Tentu saja. Inilah sikap percaya diri yang diharapkan dapat dilihat dari seorang nyonya besar. Tapi, apa yang kau maksud cara lain adalah dengan meminta bantuan Jerome Chen?” tanya Liana.
Amber seketika membola mendengar perkataan Liana yang sangat tepat.
“Apa kau yakin bisa mempercayai orang seperti itu? Dia hanyalah orang tua serakah yang hanya berpikir tentang keuntungan. Dia tak akan pernah mengambil resiko besar jika dia tak bisa mendapatkan apapun.”
“Dan perlu kau tau, sepertinya dia juga akan meninggalkan mu, sama seperti keluarga Callister dan juga Lunar Group,” ucap Liana.
Liana kembali mundur dan bersandar pada kursi.
“Aku tak percaya padamu! Kau pasti hanya sedang menggertakku saja, iya kan!” ucap Amber.
__ADS_1
Wanita itu mulai hilang kendali. Dia terlihat panik dengan semua yang diucapkan oleh Liana.
“Dia mau bekerja sama denganmu karena saham Lunar Gass bukan? Asal kau tahu, sahammu di sana, telah sepenuhnya berganti nama menjadi milik kekasihku ini. Jadi, bisa dipastikan bahwa pria tua itu tak akan mau membantumu. Kau benar-benar sudah ditinggalkan, baik oleh keluarga Callister, Lunar Group dan juga sekutumu. Jadi, nikmatilah masa-masa kehancuranmu, Nyonya Amber Callister Harvey. Ooopppsss! Aku lupa kalau perceraian mu sudah masuk babak akhir,” ucap Liana.
Gadis itu benar-benar telah menjatuhkan harga diri seorang Amber Callister, wanita arogan yang selalu bersikap sombong di mana pun dia berada. Wanita ambisius yang rela melakukan apapun demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
Amber masih diam. Tangannya mengepal kuat. Melihat hal itu, Liana pun bangkit berdiri dan hendak pergi dari sana.
“Waktu besukku sudah habis. Nikmatilah waktu Anda selama disini, Nyonya. Karena ku pastikan, Anda akan sangat lama berada di dalam penjara,” ucap Liana.
Gadis itu pun berbalik. Falcon membukakan pintu untuk Liana. Melihat gadis itu pergi, Amber berteriak histeris.
“Gadis kurang ajar. J*lang sialan! Tunggu pembalasanku. Aku akan membuatmu lebih menderita dariku! Jangan pergi kepar*t!” pekik Amber.
Dia memaki Liana dengan suara yang keras, hingga dua orang sipir masuk dan menariknya keluar dari ruang besuk.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘