Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Khawatir


__ADS_3

“APA!” pekik Long dan Falcon hampir bersamaan.


Keduanya saling pandang, dan kemudian kembali beralih pada Nine.


“Bagaimana bisa?” tanya Long.


Nine menceritakan informasi yang baru saja di dapatnya itu, mengenai sebuah kecelakaan yang terjadi tak jauh dari titik terkahir gadis tersebut berada, yang seolah ditutupi dari publik. Bahkan, laporan kejadiannya pun tak ada.


Hingga pada akhirnya, mereka menemukan rumah sakit di mana gadis itu dirawat selama beberapa bulan, dan setelah itu dibawa pergi oleh seseorang ke negara bagian A. Dari rumah sakit itulah, mereka menemukan jika pria yang membawa Liana adalah Jimmy, terlihat dari rekaman CCTV yang tersisa, yang luput dari anak buah asisten Joseph itu.


“Setelah itu, menurut informasi dia tinggal di Dream Hill selama beberapa bulan, hingga akhirnya dia muncul sebagai arsitek muda bernama Lilian Wu yang bekerja untuk Wang Construction,” ungkap Nine.


“Tapi, kenapa dia mengubah identitasnya?” tanya Long.


“Menurut kabar, dia mengalami amnesia akibat kecelakaan waktu itu, dan mengakibatkan dia lupa siapa dirinya. Tuan Wang tak sengaja menemukan bakat gadis itu dan ingin mengambil keuntungan darinya, sehingga dia memberikan identitas baru dan membawanya masuk ke dalam perusahaan,” lanjut Nine.


Falcon terlihat bangkit dan bergegas hendak pergi, namun kata-kata Nine selanjutnya membuat pria itu berhenti.


“Satu hal lagi. Nona Wu hari ini pergi ke rumah Vivian. Apa kau memberi tahu kan alamatnya di Metropolis, Bos?” tanya Nine.


“Dia ke sana?” tanya Falcon memastikan.


“Benar. Dia bahkan langsung tau yang mana rumah pelayan itu, tanpa bertanya pada orang-orang di sekitar sana,” sahut Nine.


Seketika itu, Falcon sadar jika amnesia Liana kemungkinan besar hanya lah pura-pura. Dia pun kembali melangkah dan menjauh dari teman-temannya.


Falcon mencoba menghubungi ponsel Liana berkali-kali, namun tak ada satupun yang berhasil tersambung.


“Mungkin dia masih tertahan di sana. Kabarnya, semua mobil yang hendak keluar, di minta putar balik,” pekik Long.


Falcon pun diam, sambil mengetuk-ngetukkan ponselnya ke dagu. Dia melihat ke arah luar, di mana mendung telah semakin menebal dan seolah hendak runtuh menimpa bumi.


Dia terus mencoba mencerna semua yang terjadi, dan alasan kenapa bawahan Jimmy yang terkenal cepat dalam bertindak, bahkan tidak bisa menyadari bahwa gadis yang sedang dicari ada di dekat mereka.


Apa alasan Jimmy tidak mencurigai gadis itu? Jika diingat-ingat, wajah kedua perempuan itu hampir mirip satu sama lain. Apa benar Jimmy tidak menaruh curiga sedikitpun? Ini aneh, batin Falcon.


Saat semua hening, seseorang nampak datang dengan terburu-buru dan melaporkan sesuatu pada Long.


“Kak Long, ada masalah,” ucapnya terengah-engah.


“Ada apa? Cepat katakan!” seru Long.


“Seorang wanita penghibur kita kabur semalam. Dia kabur bersama seorang wanita tua yang selalu saja meminjam uang di Cassino kita,” lapor nya.

__ADS_1


“Jessica! Itu pasti Jessica. Ibunya selalu saja berhutang dan membuatnya semakin menumpuk,” ucap Long.


Pria yang sering mengenakan pakaian mengkilap berbahan satin itu menoleh ke arah Falcon, yang nampak terus memandangi langit di luar sana.


Melihat ketuanya diam saja, Long pun akhirnya mengambil tindakan karena kejadian ini masih berada di bawah tanggung jawabnya.


“Cepat temukan di mana mereka berada, dan bawa kembali ke mari!” seru Long.


Pria yang melapor tadi pun segera pergi dan meninggalkan markas tersebut.


...👑👑👑👑👑...


Keesokan harinya, Falcon yang masih berada di markas mereka, setelah semalaman melewati badai dengan berpesta minuman keras, kini nampak tersadar karena suara seseorang datang dan membuat kegaduhan di pagi buta.


Terlebih, kebiasaan Falcon yang selalu waspada, membuatnya tak bisa tidur pulas selain di tempat rahasianya.


“Kak Long! Kak Long!” panggilnya.


Namun, tak ada satu pun yang terjaga. Semuanya masih belum sadarkan diri dari mabuk semalam. Hanya Falcon yang sudah membuka mata karena dia pun hanya minum sedikit alkohol.


Pikirannya terus tertuju pada nasib Liana, yang saat ini pasti sudah mengetahui identitasnya yang sebenarnya.


“Kak Long! Kak...,” panggilnya terhenti saat melihat Falcon bangun dan duduk di kurasi nya.


“Ada apa?” tanya Falcon.


Dia terlihat sedikit memijak keningnya yang terasa berdenyut, akibat semalaman memikirkan hal yang tak biasa.


“Kami sudah menemukan kemana Jessica dan ibunya pergi,” tutur si pria.


“Tidak usah berbelit-belkt. Langsung saja katakan di mana meraka sekarang,” seru Falcon dengan suara beratnya.


“Kemarin, mereka pergi ke Golden City. Ada yang mengatakan, jika seseorang membawa mereka ke daerah hutan pinus di sisi timur negara bagian A, setelah sebelumnya mendatangi Wang Construction,” lapornya.


“Wang Construction? Apa kamu yakin?” tanya Falcon memastikan.


“Benar, Bos. Kami sudah memastikannya,” sahut pria itu.


“Baiklah. Kamu boleh pergi,” ucap Falcon.


Seperginya pria tadi, Falcon kembali meraih ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Liana. Namun, ponselnya masih belum aktif dari sejak semalam. Hal ini membuat Falcon khawatir dan memutuskan untuk pergi menyusulnya ke Metropolis.


Sebelum pergi, dia meminta salah satu anak buahnya untuk menyelidiki gerak gerik Caroline beberapa hari terakhir. Dia curiga jika wanita itu sebelumnya telah mengetahui kabar tentang pencarian cucu Joseph Wang yang hilang, yang kebetulan berkaitan dengan kakaknya.

__ADS_1


Setelah itu, dia bergegas pergi dan mengendarai mobilnya sendiri melaju ke jalanan.


Saat hendak memasuki wilayah perbatasan, dia terpaksa menghentikan laju mobilnya dan melihat jika ada sebuah pos penjagaan yang menghentikan dan memutar balik setiap kendaraan yang hendak pergi ke Metropolis.


Salah satu petugas pun memnghampirinya dan mengatakan jika di depan sana ada tebing longsor dan tengah dilakukan evakuasi.


Falcon telah berkendara sekitar tiga jam dari grey town seorang diri. Dia yang terburu-buru ingin menyusul Liana pun mau tak mau putar balik dan kembali ke kota asalnya.


Dia bisa saja mencari jalan lain untuk tiba ke kota tersebut, namun jarak tempuhnya sudah tentu lebih jauh, dan memakan waktu yang lebih lama pula.


Di perjalanan pulang, Falcon kembali mencoba untuk menghubungi Liana, berharap jika gadis itu akan bisa dihubungi.


Dia menekan tombol dial yang ada di layar digital mobilnya, yang terkoneksi dengan ponsel pintar. Sebuah ear phone bluetooth di pasang di salah satu telinga, untuk membantunya berkomunikasi saat mengendarai.


Dia mulai melakukan panggilan. Satu per satu panggilannya mental tak tersambung. Nomor Liana masih terus tidak aktif.


“Kamu sedang apa sih? Dari kemarin  nomormu tidak aktif terus,” gerutu Falcon yang merasa telah frustasi mengubungi gadis itu.


Hingga entah di panggilan yang ke berapa, akhirnya kali ini tersambung ke nomor Liana, dan tak lama, telepon itu pun dijawab.


“Halo,” sapa suara di seberang.


Mendengar sapaan gadis yang sedari semalam coba dihubungi nya, Falcon dengan tiba-tiba menepikan mobilnya.


“Kemana saja kau?” tanya Falcon berusaha menutupi kekhawatirannya.


.


.


.


.


Ada yang mau kasih othor kembang setaman? 🤭😘😘😘😘


2 episode lagi agak mulur ya gais🙏semalam aku tepar terlalu lelah dengan urusan duniawi, hingga melupakan dunia perhaluan ini😅


sambil nunggu yg ini up, mampir ke karya ku yang lain yuk😁 cek gambar di 👇



Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2