Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
3 Klan Besar


__ADS_3

Liana menangis hingga dirinya tertidur di kamar yang kini digunakan untuk menyimpan barang-barang ibunya. Hari ini, entah sudah berapa kali dia menangis sejak tiba di kediaman keluarga Wang hingga merasa kelelahan. Dia masih memeluk erat foto Lilian dan Peter sambil meringkuk dalam tidur.


Petang menjelang, dan gelap mulai datang. Namun, dia masih belum terbangun. Debora enggan untuk mengganggu, dan memilih menunggu gadis itu bangun dengan sendirinya.


Sekitar pukul tujuh malam, pintu terbuka dan Liana keluar dari sana dengan mata yang sembab. Dia berjalan ke arah kamar mandi yang berada di dapur dan mendapati Debora tengah mengatur makan malam untuk majikannya.


“Nona, Anda sudah bangun?” tanya Debora.


“Iya, Nyonya. Saya mau membersihkan diri dulu,” sahut Liana.


“Bukankah kamar Anda ada di atas?” ucap Debora.


“Ah, iya. Kau benar. Maaf aku lupa. Kalau begitu, aku akan ambil tasku di kamar Kak Ella dulu,” sahut Liana.


Gadis itu kemudian berbalik menuju paviliun belakang, namun dicegah oleh si pemilik kamar.


“Biarkan ku ambilkan saja, Lilian... Ehm, maksudku Nona Muda,” tawar Ella.


“Panggil aku seperti biasa saja, Kak. Panggilan nona muda tidak cocok untuk ku,” seru Liana.


Namun, Ella tertunduk dan tak berani menjawab. Matanya melirik ke arah Debora berada.


Liana hanya tersenyum melihat hal itu. Dia paham jika pelayan kecil itu pasti takut dengan tatapan intimidasi dari sang kepala pelayan.


“Baiklah. Kalau begitu tolong ya, Kak. Aku ada di kamar atas,” ucap Liana pada akhirnya.


“Baik, Nona,” sahut Ella.


Liana pun berbalik dan berjalan ke lantai atas di mana kamarnya saat ini berada. Dia menunggu Ella mengantarkan tasnya sebelum ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri di dalam sana serta berganti pakaian.


Selesai mandi dan berganti baju, gadis itu kemudian bersiap untuk turun, namun, pandangannya terhenti pada tas punggung yang dibawanya ke rumah itu.


Dia mendekati tas tersebut dan meraihnya. Gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tas dan meletakkannya di pangkuan.


“Ibu, maaf karena aku belum bisa menyampaikan pesan mu pada Kakek. Mungkin saat Kakek benar-benar sudah yakin kalau aku adalah cucunya, baru akan ku perlihatkan semua ini padanya,” gumam Liana.

__ADS_1


Dia menatap kotak kayu berisi surat terakhir dan foto Lilian ketika menggendong Liana bayi, yang ditemukannya ketika berkunjung ke toko pegadaian Paman Luo di Metropolis.


Liana nampak mengambil kembali sesuatu dari dalam tasnya. Nampak benda lain yang terbungkus dalam selembar kain besar berbahan satin yang telah usang.


Liana memeluk kedua benda tersebut dengan erat. Matanya terpejam mencoba menahan gemuruh yang lagi-lagi menyergap hatinya.


“Tunggulah sebentar lagi, Bu. Tunggulah. Aku pasti akan memperlihatkan semua harta karun ku pada Kakek, dan menyampaikan pesan mu padanya,” gumam Liana lirih.


Cukup lama dia larut dalam kesendirianya, kini gadis itu berdiri dan berjalan ke arah walk in closet. Dia menyimpan kedua benda tersebut di dalam lemari pakaian yang berada di dalam sana.


Helaan nafas panjang terdengar dari mulut gadis itu, sebelum akhirnya dia pun ke luar kamar dan bergabung di meja makan bersama dengan sang kakek.


...👑👑👑👑👑...


Empire State, ibukota negara yang memiliki kemajuan teknologi dan infrastruktur terbesar di negeri ini. Kota yang lebih maju berkali-kali lipat dari Golden City. Kota terbaik nomor satu di seluruh negeri. Di sini banyak sekali klan keluarga yang memiliki kedudukan tinggi dan memengaruhi semua regulasi, ekonomi, bisnis, politik dan berbagai bidang lainnya.


Namun, ada tiga peringkat keatas klan keluarga yang berada di puncak kekuasaan Empire State, salah satunya adalah Empire Group. Sebuah perusahaan yang dikuasai oleh keluarga Chen yang tersohor dan terkenal royal. Mereka telah mengusai seperempat kekuasaan di Empire State.


Empire Group merupakan sebuah perusahaan yang bergerak diberbagai bidang industri. Bahkan merekalah penyokong terbesar yayasan Xing Ping yang sedang bekerja sama dengan Wang Construction dan membangun Golden Hospital di Golden City.


Dari putra pertama, dia memiliki seorang cucu laki-laki dan seorang cucu perempuan. Sedangkan dari putra kedua, dia memiliki tiga cucu perempuan.


Jerome adalah seorang pria ambisius bahkan di usia senjanya. Dia yang hanya memiliki satu cucu laki-laki, selalu memaksakan kehendaknya dalam mengatur kehidupan dari sang cucu.


Hingga saat cucu sulungnya itu beranjak dewasa, dia tiba-tiba menghilang saat akan dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan studi di sana.


Mereka meminta kepada seseorang yang merupakan mantan ketua gangster yang sekarang bekerja di bawah naungan Empire Group, untuk mencari keberadaan sang cucu di semua tempat.


Sudah banyak tempat yang mereka datangi hanya untuk membawa pulang sang pewaris, namun setiap kali hendak ditangkap, pemuda itu selalu berhasil lolos dan kembali menghilang.


Terakhir kali keberadaan terlacak adalah saat dia menyamar sebagai salah satu mahasiswa di Universitas Negeri salah satu kota kecil. Saat itu, mereka tak serta merta mengepung dan berencana menangkapnya, melainkan meminta putri dari sang mantan ketua gangster untuk terus menempel padanya sambil memata-matainya.


Namun, sikap manja dari gadis itu, membuat sang pemuda merasa muak dan tak mau dekat-dekat dengannya. Hingga akhirnya, Jerome geram dan meminta mereka kembali memakai cara paksa. Namun lagi-lagi, pemuda itu berhasil kabur dan menghilang.


Kini, setelah beberapa tahun berlalu, dia kembali muncul bersama seorang gadis cantik, yang membuatnya teledor hingga orang-orang itu berhasil melacaknya kembali.

__ADS_1


“Jadi, kali ini dia pun kabur lagi?” tanya seorang pria bertato.


“Iya, Tuan. Tuan muda Chen kembali melarikan diri. Gerakannya sangat gesit bahkan melompat dari tempat tinggi ke atas kendaraan bergerak saja, dia terlihat sangat lihai,” tutur seorang pria.


“Heh, dia lebih pantas menjadi pencuri karena kemampuan meloloskan dirinya itu ketimbang menjadi seorang pewaris. Sungguh disayangkan,” gumam pria bertato.


Dia terlihat tengah berdiri di depan jendela dan melihat ke arah luar, sambil mengembuskan asap dari cerutunya.


Sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dari samping, terlihat jelas garis wajahnya yang begitu tegas. Jambangnya yang tebal membuat aura maskulin benar-benar terasa dari pria tersebut.


“Tidak ada cara lain. Lakukan rencana selanjutnya,” seru si pria bertato.


“Baik, Tuan,” sahut si pria yang melapor.


Setelah anak buahnya pergi, pria itu kembali menyesap batang cerutunya, dan menatap lurus ke arah luar. Asap pekat kembali mengepul dari mulutnya dan memenuhi ruangan tersebut.


“Sepertinya, takdir kita selalu terhubung Pak tua. Maaf, Lilian. Aku harus mengajak putrimu bermain-msin sebentar. Hehehe...,” gumamnya.


Seringai yang terlihat begitu menakutkan terlukis jelas di wajah pria bertato itu. Dan kekehannya semakin membuat kesan mencekam di sekelilingnya.


.


.


.


.


Udah 3 bab y😊besok lanjut lagi😁


yang belum kasih vote, ditunggu ya🙏😊


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2