
Falcon memeluk Liana sambil mencoba mengatur nafasnya yang memburu cepat. Dia bahkan tak ingat, jika saat ini dia sedang berada di tempat asing, dan dilihat oleh anak buahnya.
Cukup lama mereka di posisi itu, hingga Liana merasa kakinya pegal, dan mencoba menyadarkan Falcon.
“Ehmm... Apa kita akan begini terus? Kakiku sudah terasa pegal,” ucap Liana.
Perkataan gadis itu secara langsung menyadarkan Falcon, dan membuat pria itu menguraikan pelukannya.
Dia merengkuh pundak Liana, dan mengguncangnya sekali dengan sedikit keras.
“Apa yang sudah terjadi padamu?” tanyanya.
Dia kemudian menangkup kedua pipi Liana, dan memiringkannya ke kanan dan kiri, memindai tubuh gadis itu dari atas hingga bawah untuk memastikan jika dia baik-baik saja.
“Tidak terjadi apa-apa kok. Kenapa kau terlihat begitu panik?” tanya Liana dengan polosnya.
Falcon memicingkan matanya menatap Liana, dengan alis yang hampir menyatu, serta kening yang berkerut dengan sempurna.
“Kau tanya kenapa aku panik? Apa kau lupa kalau kita tadi sedang berada di restoran, dan kau ijin ke toilet cukup lama. Tiba-tiba saja terdengar teriakan dan saat aku sampai di sana, kau sudah menghilang. Bahkan tasmu pun tergeletak di sana. Lalu setelah bertemu, kau tanya kenapa aku panik?” cecar Falcon geram.
Emosinya kembali naik, saat melihat Liana seolah merasa tak ada yang terjadi.
“Kenapa kau marah? Bukannya kau sendiri yang meminta mereka untuk membawaku ke sini?” sanggah Liana.
Gadis itu menunjuk ke arah pintu, di mana Long dan Nine yang sedari tadi berada di sana melihat pertengkaran kedua orang tersebut.
Falcon pun menoleh dan mendapati jika Long justru menutup mulutnya menahan tawa.
“Long!” panggil Falcon dengan menekan suaranya menahan emosi.
“Hei, Bos. Salah mu sendiri yang tidak mau mendengarkan perkataan ku sampai selesai,” sanggah Long.
“Kau sendiri yang bilang bahwa Jessica meminta Mike untuk menculik Lilian, dan Mike bahkan sudah pergi ke Golden City. Lalu, di bagian mana aku tidak mendengarkan?” cecar Falcon yang masih merasa kebingungan.
“Waktu itu aku baru mau bilang, kalau Mike sudah pergi ke Golden City untuk memberitahu kakak ipar soal penculikan itu. Tapi kau pergi saja dan tidak mau mendengarkanku. Jadi ya sudah. Aku dan Nine bekerja sama untuk mengerjaimu,” ungkap Long.
“Apa?” tanya Falcon yang masih belum paham.
“Apa kau lupa siapa Mike, Bos? Dia adalah anak buah kita dengan daya ingat paling kuat. Dialah orang yang pertama kali melihat kakak ipar saat dia menolongmu di Emerald Hotel waktu itu. Dia bahkan yang melaporkan keberadaan kakak ipar saat dia pertama kali datang ke Grey Town. Saat dia menerima perintah penculikan ini, Mike langsung menemui Long dan memberitahukan semuanya,” ucap Nine.
“Awalnya aku hanya ingin meminta Mike untuk memberitahukan hal ini pada kakak ipar. Tapi karena kau pergi begitu saja tanpa mendengar semuanya sampai selesai, akhirnya aku menghubungi Mike dan memintanya untuk mengikuti iring-iringan mobilmu, kemudian meminta Nine untuk menelpon ku saat kau tak ada di dekatnya,” lanjut Long.
__ADS_1
“Terus penculikan ini?” tanya Falcon.
“Siapa yang diculik?” tanya liana dengan polosnya.
“Kau! Bukankah kau diculik kemari oleh mereka?” tanya Falcon lagi.
“Mereka tidak menculik ku. Pria bernama Mike itu menemuiku saat aku baru saja ke luar dari toilet. Dia memintaku untuk ikut pergi dengannya lewat pintu belakang. Dia bilang ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Long mengenai Jessica. Makanya aku ikut,” ungkap Liana.
“Kenapa kau tidak bilang padaku? Setidaknya kau bisa menelpon ku kan?” cecar Falcon.
“Aku pikir kau tau hal ini. Saat aku masuk mobil Long, Nine pun melihatnya dan dia membungkuk hormat padaku,” Sahut Liana.
“Kalian benar-benar...,” ucap Falcon geram
Dia kembali melotot kepada anak buahnya yang masih berdiri di depan pintu, dan menyaksikan adegan perdebatan itu.
Namun, sesaat kemudian Falcon kembali menatap ke arah Liana dengan sambil berkacak pinggang.
“Lalu, kalau kau tau itu bukan penculikan, untuk apa kau berteriak dengan sangat keras?” tanya Falcon.
“Oh, itu? Tadi ada kecoa di toilet. Karena aku takut kecoa, jadi aku menjerit. Memangnya kenapa?” ucap Liana dengan wajah tak berdosa.
“HHHHAAAAAAHHHH! Kalian ini benar-benar kurang ajar!” maki Falcon.
Namun, bukannya mengamuk atau kembali marah. Dia justru duduk di sofa yang ada di sana. Tempat duduk itu seperti telah disiapkan dari luar, karena terlihat begitu bersih dan baru.
Matanya terpejam sambil mencoba mengatur nafas. Sedangkan di depan sana, Nine dan Long masih terus menahan tawa mereka, melihat seorang bos gangster kalang kabut hanya karena seorang gadis.
Liana yang sedikit paham pun hanya bisa menahan senyumnya melihat sikap Falcon, yang begitu mengkhawatirkannya.
“Kakak ipar, karena sang rajawali sudah tenang, aku serahkan sisany padamu saja. Kami akan berjaga di luar. Nikmatilah waktu kalian,” ucap Long.
pintu pun tertutup dan menyisakan mereka berusaha di dalam sana.
Liana mendekat dan berdiri di hadapan Falcon. Dia melihat urat di keningnya mulai mengendur setelah sebelumnya terlihat begitu tegang.
“Apa kau mengkhawatirkanku?” tanya Liana.
Falcon yang sedari tadi terpejam, kini membuka matanya dan menatap lurus ke arah gadis itu.
“Apa kau tau? Aku bahkan seperti orang gila yang mengira mobil super cepat ku melaju selelet siput,” ucap Falcon dengan suara beratnya.
__ADS_1
Liana berusaha menahan senyumnya ketika mendengar perkataan Falcon.
“Aku minta maaf. Aku sama sekali tak sengaja melakukan ini,” tutur Liana.
“Aku tahu. Ini semua hanya akal-akalan mereka berdua. Apa tas jatuh itu pun mereka yang suruh?” tanya Falcon.
Liana hanya mengangguk pelan. Falcon seketika menghela nafas panjang karena sudah bisa menebaknya.
Liana terus menatap Falcon, dan begitu pun pria itu. Liana tersenyum. Begitu manis, membuat si pria bengis itu terpesona.
“Terimakasih,” ucap gadis itu.
“Untuk?” tanya Falcon.
“Karena kau telah mengkhawatirkan ku sampai seperti ini,” ucap Liana.
Entah kenapa, Falcon merasa begitu sakit namun terasa hangat di dalam dadanya, saat mendengar ucapan terimakasih dari Liana.
Dia yang tau bagaimana perjuangan gadis itu sejak awal, seakan ikut merasakan kesedihan yang terpendam di dalam hati Liana.
Mereka masih saling pandang, hingga tiba-tiba, Falcon menarik tangan Liana, dan membuat gadis itu jatuh terduduk di atas pangkuan Falcon.
Secepat kilat, Falcon meraih tengkuk Liana, dan sebuah ciuman mendarat di bibir tipis gadis itu.
Liana begitu terkejut dengan tindakan Falcon yang tiba-tiba itu. Tangannya bahkan hanya bisa merem*s pundak Falcon, dengan mata yang terus membola. Waktu seakan terhenti, namun Jantungnya berdetak begitu kencang.
Ada apa dengan dadaku? batin Liana.
.
.
.
.
Yang bacanya cengar-cengir, wajib kasih kopi ya🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1