Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Pria bertato


__ADS_3

Di sebuah tanah lapang, di mana telah terpasang bowplank yang mengitari lahan tersebut, nampak dua orang muda mudi tengah berada di salah satu sisinya.


Mereka melihat alat-alat berat yang sedang dipersiapkan untuk proyek pembangunan  selanjutnya di atas lahan tersebut.


Beberapa mini crane untuk pemasangan pondasi sudah terlihat didatangkan ke lahan tersebut serta beberapa mata bor yang akan dimasukkan ke dalam tanah sebagai tiang pondasi.


Keduanya nampak sibuk dengan urusan masing-masing. Si pemuda nampak mengambil beberapa gambar di area tersebut, sedangkan si gadis terlihat tengah mengatur beberapa pekerja yang berada di lapangan.


Gadis yang tak lain adalah Liana itu tengah membentangkan cetak biru Golden Hospital di atas sebuah papan kayu, dan menjelaskan tentang letak-letak posisi dari bangunan yang akan dibangun.


Tiba-tiba saja, Christopher yang sedari tadi sibuk memotret, menghampiri Liana dan ikut dalam perbincangan tersebut.


“Apa lokasi gedung utama ada di sebelah sana?” tanya pemuda itu.


Dia menunjuk ke sebuah arah di mana merupakan tengah-tengah lahan. Liana pun mengikuti arah telunjuknya dan mengiyakan ucapan seniornya.


“Apa kau yakin hanya akan memakai mini crane itu? Aku rasa, kau harusnya menggunakan yang lebih besar lagi,” ucap Christopher.


Liana mengerutkan keningnya hingga alisnya tampak hampir menyatu. Dia tak paham dengan yang diucapkan oleh pemuda itu.


Dia pun melempar pandangan ke arah mandor dan pekerja lain yang juga ikut dalam perbincangan. Namun, semuanya pun tak paham dengan perkataan yang dimaksud oleh Christopher.


“Apa kau sudah meneliti tanah di tempat ini sebelumnya?” tanya Christopher.


“Tentu saja. Memangnya ada masalah apa? Apa kau mengira aku kurang teliti kali ini?” cecar Liana.


Gadis keras kepala serta sombong itu selalu tak mau dianggap ceroboh, dan selalu teliti dalam melakukan segala hal. Hingga saat Christopher meragukan hasil kerjanya, Liana mulai kesal.


“Apa kau tau tanah ini dulunya adalah tempat apa? Kalau kau sudah menelitinya, mana mungkin kau hanya menggunakan mesin kecil itu untuk mengebor tanah. Aku kira kau sudah tahu sebelumnya sehingga aku diam saja” ucap Christopher.


Liana mendengus kesal karena pemuda itu terus menyalahkannya, dan tak segera mengatakan kekeliruan yang dibuatnya.


Dengan berkacak pinggang, gadis itu menghadap Christopher menantang


“Langsung katakan saja, jangan bicara seolah kau menyalahkan hasil kerjaku,” seru Liana.

__ADS_1


Christopher menoleh ke arah arah gadis itu. Dia baru sadar, jika Liana saat ini terlihat begitu emosi kepadanya. Pemuda itu pun tersenyum tipis dan berbalik menatap Liana, dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada.


“Nona, tempat ini dulunya adalah tempat pemancingan yang cukup besar. Namun, tiba-tiba saja sebuah kejadian tak terduga terjadi. Pemancingan menjadi sepi, dan pemiliknya sampai harus berhutang pada seseorang hingga menggadaikan tempat ini pada si penghutang. Akhirnya, pemancingan di tutup dan semuanya ditimbun dengan tanah oleh pemilik barunya. Namun, lahan ini tak lantas dibangun apapun melainkan dibiarkan kosong, dan akhirnya berakhir di pihak pengelola rumah sakit yang akan kalian bangun ini,” ungkap Christopher.


Liana seketika melebarkan matanya seletah mendengar penjelasan dari Christopher.


“Apa kau yakin?” tanya Liana.


“Yah, aku bahkan punya artikelnya,” jawab Christopher.


“Artikel? Kenapa tempat pemancingan juga bisa masuk berita? Apa ini tempat pemancingan yang sangat bagus?” tanya Liana.


“Bukankah tadi ku bilang ada sebuah kejadian tak terduga,” seru Christopher.


“Memang kejadian apa?” tanya Liana.


“Penemuan mayat tanpa identitas,” ucap Christopher.


“Apa?!” ucap Liana hampir memekik.


“Iya. Mayat itu bahkan ditemukan dengan wajah yang sudah hancur, hingga tak ada yang bisa mengenalinya. Setelah kejadian itu, hampir semua orang tak ada lagi yang mau datang ke tempat pemancingan tersebut, hingga akhirnya bangkrut,” jawab Christopher.


“Kalau ini benar dulunya adalah sebuah tempat pemancingan, sudah pasti ada bekas kolam ikan yang besar bukan,” gumamnya.


Dia kemudian beralih melihat alat-alat yang tengah bergerak dibawa masuk ke dalam area proyek.


“Jika memang perkataanmu benar, aku harus mengganti semuanya sesuai dengan apa yang kau katakan. Tidak mungkin aku mengambil resiko untuk menggunkan pondasi dangkal dalam proyek ini. Jadi Chris, aku butuh artikel mu itu, untuk ku gunakan saat menjelaskan pergantian yang tiba-tiba ini,” seru Liana.


“Baiklah. Kalau kau mau, aku bisa mengambilkannya sekarang,” ucap Christopher.


“Tidak usah! Aku ikut saja dengan mu,” sahut Liana.


Gadis itu menggulung kembali cetak birunya dan memasukkan ke dalam tabung hitam. Dia meminta mandor untuk menghubungi pihak kontraktor dan meminta mereka agar menyiapkan mesin soilmec yang mungkin akan mereka gunakan.


Setelah itu, Liana dan Christopher pergi ke Golden Daily untuk melihat artikel tersebut.

__ADS_1


...👑👑👑👑👑...


Di tempat lain, di sebuah ruangan dengan sebuah meja besar dengan beberapa dokumen tertumpuk di atasnya, seorang pria bertubuh kekar tengah duduk membelakangi meja.


Dia bersandar dengan santai, sambil menghisap sebuah cerutu di tangannya. Pria tersebut mengenakan kemeja dengan beberapa kancing atas yang terbuka, hingga memperlihatkan tato di sebelah kiri dadanya.


Rambutnya terlihat basah karena gel rambut. Wajahnya pun terlihat segar tanpa adanya bulu halus yang biasanya tumbuh di wajah seorang pria. Usianya sudah tidak muda lagi, namun karisma dan ketampanannya masih terlihat jelas.


Terdengar sebuah dering panggilan dari ponsel, yang tergeletak di atas meja. Pria itu pun memutar kursinya dan meraih benda pipih tersebut.


Dia menggeser tombol hijau setelah melihat nama yang tertera di layarnya. Dia bangkit berdiri kemudian berjalan menuju ke arah jendela.


“Ada apa?” tanyanya.


“Kami melihat Tuan muda Chen di Golden City. Kali ini, dia sama sekali tidak terlihat waspada seperti sebelumnya. Dia bahkan sedang bersama dengan arsitek dari Wang Construction yang bernama Lilian Wu, atau yang kita tahu adalah Liana, cucu Presdir Wang,” tutur si penelepon.


“Sepertinya, tuan muda kita sedang jatuh cinta hingga menurunkan kewaspadaannya demi seorang gadis. Baiklah, sepertinya kita bisa gunakan gadis ini untuk membujuknya pulang,” gumam pria bertato.


Seringainya terlihat begitu mengerikan, seolah tengah memikirkan sesuatu hal buruk yang akan ia lakukan kepada Liana dan juga Christopher.


“Siapkan sebuah pertunjukan kecil untuk Tuan Muda Chen. Empire Grup akan memberikan kita imbalan besar, jika bisa membuatnya pulang dengan sendirinya,” seru pria tersebut kepada orang di seberang sambungan.


“Baik,” sahut si penelepon.


.


.


.


.


Udah 3 bab ya bestie 😁tunggu besok lagi😘kopi boleh kirim sini, kan udah buka puasan🤣🤣🤣🤣


oh iya, batas waktu Quizz bab 99 hanya sampai malam ini jam 12 malem ya bestie, lewat dari itu berrti Quizz selesai🤭✌makanya buruan😇

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2