Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Amukan Amber


__ADS_3

Keduanya perlahan menaiki tangga dan masuk ke dalam. Suasana mewah benar-benar terasa di dalam kendaraan terbang itu.


Liana seketika lupa dengan masalah yang saat ini sedang dihadapinya, kala melihat interior pesawat jet pribadi milik keluarga kekasihnya.


“Apa kakekmu itu seorang Sultan? Kakek ku saja tidak se royal ini hidupnya,” gumam Liana.


“Ayolah. Apa perlu ku jelaskan juga hal itu? Kakekmu hanya punya usaha konstruksi bangunan. Sedangkan kakekmu, hampir semua bidang bisa menjadi lahan bisnis baginya. Jadi, sudah jelas bukan perbedaan di antara kedua pria tua itu?” jawab Falcon.


Pria itu duduk di salah satu kursi penumpang, setelah sebelumnya menuntun Liana untuk duduk di hadapannya.


“Ya... Ya... Katakan saja langsung, kalau kakekmu itu lebih kaya dari kakekku,” sindir Liana.


Falcon terkekeh melihat raut wajah gadisnya. setidaknya, tak ada ketegangan di wajah cantik itu, saat berada di dalam pesawat.


Liana menoleh ke arah jendela sambil bertopang dagu. Falcon terus menatap gadisnya dengan senyum tipis mengembang di wajahnya, seolah bersyukur melihat gadis itu bisa baik-baik saja.


Tak berselang lama, suara sang pilot memberitahukan bahwa pesawat akan segera lepas landas, dan meminta semua penumpang mengenakan sabuk keselamatan yang ada di kursi masing-masing.


Falcon dan Liana pun mematuhinya, begitu pun awak yang lain.


Perlahan, pesawat pun mulai berjalan di jalur run away, dan mulai naik meninggalkan tanah, terbang ke langit membawa Liana kembali ke Golden City.


...👑👑👑👑👑...


Di kediaman keluarga Harvey, Sky Castle. Selang setengah jam setelah pesawat lepas landas, sebuah kegaduhan terjadi dalam rumah besar tersebut.


Nyonya rumah itu yang baru saja datang dari luar dengan kondisi setengah basah, masuk melihat seorang pelayan membawa sprei dari arah kamar paviliun tengah, tempat kamar tamu berada.


“Siapa yang sudah menginap di sini?” tanya Amber kepada pelayan tersebut.


“Itu tamu dari Tuan muda ke-lima, Nyonya,” jawab sang pelayan.


Amber terkejut saat mendengar hal tersebut. Dia menebak jika yang dibawa kemari oleh Falcon adalah Liana, gadis yang disebut sebagai putri dari Peter, pria yang menjadi obsesinya.


Dia pun meradang dan ingin melihat seperti apa rupa gadis itu. Rasanya dia ingin melenyapkan gadis itu saat ini juga.


“Di mana dia? Di kamar sebelah mana?” tanya Amber.


Wanita itu berjalan begitu saja ke arah paviliun tengah, diikuti oleh pelayan tadi dengan kebingungan.


“Nyonya, dia sudah tak ada di sini. Mereka sudah pergi,” ucap pelayan itu.


Namun, Amber seolah tak percaya dan menggeledah satu persatu kamar tamu yang ada di kediaman tersebut.


“Jangan membohongiku! Aku tau kau disuruh untuk tidak mengatakan, bahwa gadis itu berada di sini bukan?” terka Amber.


Wanita itu terus membuka satu persatu kamar tamu dan mengacak-acak seluruh isinya, hingga membuat beberapa pelayan pun berkerumun tak jauh dari tempat tersebut, untuk menyaksikan kehebohan yang sedang terjadi.


Tak disangka, di saat Amber semakin menggila, sang pemilik rumah datang dan melihat semua kekacauan yang dibuat oleh menantunya.


Amber diam. Dia pun terpaksa menghentikan perbuatannya dan menunduk di hadapan Tuan Harvey.


“Apa kau sedang mencari gadis itu?” tanya Bob Harvey.


Amber mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah sang mertua.


Seolah mengerti arti tatapan menantunya itu, Tuan Harvey pun melanjutkan kata-katanya.


“Dia sudah pergi. Alex telah memutuskan untuk melindungi gadis itu. Aku peringatkan kau, jangan sekali-kali coba mengusik cucuku lagi, atau kau akan tahu akibatnya,” ancam Tuan Harvey.


Amber kesal setengah mati. Dia berusaha keras menahan amarahnya pada sang mertua. Matanya memerah dengan sedikit berair. Tangannya mengepal kuat serta rahang yang mengeras, menandakan emosinya telah sampai di ubun-ubun.


Meski begitu, dia tak bisa sembarangan meluapkan emosinya di depan sang mertua, karena semua kendali masih berada di tangan pria tua itu. Kemewahan yang dimilikinya bisa sewaktu-waktu diambil kembali oleh Tuan Harvey.

__ADS_1


Saat Tuan Harvey berbalik dan hendak kembali ke lantai atas, sang putra datang menghampiri, karena mendengar keributan di arah paviliun tengah.


“Dad, ada apa ini? Kenapa ribut-ribut seperti ini?” tanya sang putra.


Tuan Harvey menatap putranya, dan hanya bisa menghela nafas panjang.


“Dave, kau uruslah istrimu agar tak membuat onar lagi di rumahku. Aku lelah terus menerus menghadapi sifat kurang ajarnya,” seru Tuan Harvey kepada sang putra, David Harvey.


David pun menghampiri sang istri yang masih berdiri dengan menahan kesal.


“Sweetheart, ada apa ini? Kenapa Daddy sampai memarahimu?” tanya David.


Amber menatap nyalang ke arah sang suami, seolah akan menerkamnya.


“Ini semua salahmu. Suami macam apa kau ini, sama sekali tak bisa membela istri sendiri di hadapan mertuanya. Dasar pria tidak berguna!” maki Amber.


Wanita itu pun berjalan menuju ke arah lift dan hendak naik ke lantai atas, di mana kamarnya berada.


Sementara David, pria malang itu tak tahu apa yang selama ini telah terjadi di belakangnya. Dia terus mencintai Amber dan bahkan menerima semua perlakuan buruk sang istri padanya.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


Keduanya perlahan menaiki tangga dan masuk ke dalam. Suasana mewah benar-benar terasa di dalam kendaraan terbang itu.


Liana seketika lupa dengan masalah yang saat ini sedang dihadapinya, kala melihat interior pesawat jet pribadi milik keluarga kekasihnya.


“Apa kakekmu itu seorang Sultan? Kakek ku saja tidak se royal ini hidupnya,” gumam Liana.


“Ayolah. Apa perlu ku jelaskan juga hal itu? Kakekmu hanya punya usaha konstruksi bangunan. Sedangkan kakekmu, hampir semua bidang bisa menjadi lahan bisnis baginya. Jadi, sudah jelas bukan perbedaan di antara kedua pria tua itu?” jawab Falcon.


Pria itu duduk di salah satu kursi penumpang, setelah sebelumnya menuntun Liana untuk duduk di hadapannya.


“Ya... Ya... Katakan saja langsung, kalau kakekmu itu lebih kaya dari kakekku,” sindir Liana.


Falcon terkekeh melihat raut wajah gadisnya. setidaknya, tak ada ketegangan di wajah cantik itu, saat berada di dalam pesawat.


Liana menoleh ke arah jendela sambil bertopang dagu. Falcon terus menatap gadisnya dengan senyum tipis mengembang di wajahnya, seolah bersyukur melihat gadis itu bisa baik-baik saja.


Tak berselang lama, suara sang pilot memberitahukan bahwa pesawat akan segera lepas landas, dan meminta semua penumpang mengenakan sabuk keselamatan yang ada di kursi masing-masing.


Falcon dan Liana pun mematuhinya, begitu pun awak yang lain.


Perlahan, pesawat pun mulai berjalan di jalur run away, dan mulai naik meninggalkan tanah, terbang ke langit membawa Liana kembali ke Golden City.


...👑👑👑👑👑...


Di kediaman keluarga Harvey, Sky Castle. Selang setengah jam setelah pesawat lepas landas, sebuah kegaduhan terjadi dalam rumah besar tersebut.


Nyonya rumah itu yang baru saja datang dari luar dengan kondisi setengah basah, masuk melihat seorang pelayan membawa sprei dari arah kamar paviliun tengah, tempat kamar tamu berada.


“Siapa yang sudah menginap di sini?” tanya Amber kepada pelayan tersebut.


“Itu tamu dari Tuan muda ke-lima, Nyonya,” jawab sang pelayan.

__ADS_1


Amber terkejut saat mendengar hal tersebut. Dia menebak jika yang dibawa kemari oleh Falcon adalah Liana, gadis yang disebut sebagai putri dari Peter, pria yang menjadi obsesinya.


Dia pun meradang dan ingin melihat seperti apa rupa gadis itu. Rasanya dia ingin melenyapkan gadis itu saat ini juga.


“Di mana dia? Di kamar sebelah mana?” tanya Amber.


Wanita itu berjalan begitu saja ke arah paviliun tengah, diikuti oleh pelayan tadi dengan kebingungan.


“Nyonya, dia sudah tak ada di sini. Mereka sudah pergi,” ucap pelayan itu.


Namun, Amber seolah tak percaya dan menggeledah satu persatu kamar tamu yang ada di kediaman tersebut.


“Jangan membohongiku! Aku tau kau disuruh untuk tidak mengatakan, bahwa gadis itu berada di sini bukan?” terka Amber.


Wanita itu terus membuka satu persatu kamar tamu dan mengacak-acak seluruh isinya, hingga membuat beberapa pelayan pun berkerumun tak jauh dari tempat tersebut, untuk menyaksikan kehebohan yang sedang terjadi.


Tak disangka, di saat Amber semakin menggila, sang pemilik rumah datang dan melihat semua kekacauan yang dibuat oleh menantunya.


Amber diam. Dia pun terpaksa menghentikan perbuatannya dan menunduk di hadapan Tuan Harvey.


“Apa kau sedang mencari gadis itu?” tanya Bob Harvey.


Amber mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah sang mertua.


Seolah mengerti arti tatapan menantunya itu, Tuan Harvey pun melanjutkan kata-katanya.


“Dia sudah pergi. Alex telah memutuskan untuk melindungi gadis itu. Aku peringatkan kau, jangan sekali-kali coba mengusik cucuku lagi, atau kau akan tahu akibatnya,” ancam Tuan Harvey.


Amber kesal setengah mati. Dia berusaha keras menahan amarahnya pada sang mertua. Matanya memerah dengan sedikit berair. Tangannya mengepal kuat serta rahang yang mengeras, menandakan emosinya telah sampai di ubun-ubun.


Meski begitu, dia tak bisa sembarangan meluapkan emosinya di depan sang mertua, karena semua kendali masih berada di tangan pria tua itu. Kemewahan yang dimilikinya bisa sewaktu-waktu diambil kembali oleh Tuan Harvey.


Saat Tuan Harvey berbalik dan hendak kembali ke lantai atas, sang putra datang menghampiri, karena mendengar keributan di arah paviliun tengah.


“Dad, ada apa ini? Kenapa ribut-ribut seperti ini?” tanya sang putra.


Tuan Harvey menatap putranya, dan hanya bisa menghela nafas panjang.


“Dave, kau uruslah istrimu agar tak membuat onar lagi di rumahku. Aku lelah terus menerus menghadapi sifat kurang ajarnya,” seru Tuan Harvey kepada sang putra, David Harvey.


David pun menghampiri sang istri yang masih berdiri dengan menahan kesal.


“Sweetheart, ada apa ini? Kenapa Daddy sampai memarahimu?” tanya David.


Amber menatap nyalang ke arah sang suami, seolah akan menerkamnya.


“Ini semua salahmu. Suami macam apa kau ini, sama sekali tak bisa membela istri sendiri di hadapan mertuanya. Dasar pria tidak berguna!” maki Amber.


Wanita itu pun berjalan menuju ke arah lift dan hendak naik ke lantai atas, di mana kamarnya berada.


Sementara David, pria malang itu tak tahu apa yang selama ini telah terjadi di belakangnya. Dia terus mencintai Amber dan bahkan menerima semua perlakuan buruk sang istri padanya.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2