Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Awal karir


__ADS_3

“Percaya diri sekali Anda,” sahut Presdir Wang.


Pria tua itu seolah mengejek jawabanku yang memang terdengar sangat percaya diri sekali. Tapi, bukankah kita harus tampil meyakinkan di depan penguji, meski hanya dengan kata-kata.


“Baiklah. Saya catat jawaban Anda. Pertanyaan selanjutnya. Jika Anda diterima di perusahaan ini, berapa gaji yang Anda minta dalam sebulan?” tanya Presdir Wang.


Aku melihat seringai muncul di bibirnya yang tertutupi kepalan tangan. Memang pertanyaan ini kerap kali menjadi bomerang bagi setiap peserta wawancara, karena banyak dari mereka yang langsung menyebutkan nominalnya. Tapi aku, tentu saja tidak begitu.


“Berapa yang sanggup Anda bayar?” tanya ku balik.


Presdir Wang nampak mengerutkan alisnya, karena merasa bingung dengan jawabanku.


“Aku bertanya pada mu, anak muda. Kenapa kau malah balik bertanya padaku?” tanyanya lagi.


“Seperti yang Anda tahu, bahwa saya baru saja lulus dan masih minim pengalaman. Namun, saya bisa pastikan seberapa banyak Anda membayar saya, seharga itulah kinerja yang akan saya berikan pada perusahaan ini. Bukankah ini yang namanya setimpal?” ucapku.


Presdir Wang nampak tak senang dengan jawabanku. Dia pun menatapku dengan tatapan tak suka.


Namun, tanpa menunggu perintah, aku mengambil sesuatu lagi dari dalam tas yang kubawa.


Setumpuk gambar desain ku yang ku kumpulkan selama ini. Ku tarus di atas meja dan meminta orang tua itu untuk melihatnya sebentar.

__ADS_1


“Jika Anda merasa ragu dengan kemampuanku, silakan Anda bisa lihat portofolio saya di dalam sini,” ucapku sambil menyerahkan gambar-gambar tersebut.


Awalnya dia ragu, namun aku tahu orang seperti dia pasti memiliki rasa penasaran yang tinggi.


Benar saja, tak lama kemudian, dia meraih portofolio ku dan melihatnya. Dari wajahnya bisa terlihat jelas, jika dia merasa menyukai desain ku yang segar dan selalu mengedepankan unsur hijau di dalamnya.


“Apa kau yakin ini semua milikmu?” tanya Presdir Wang.


“Tentu saja. Di sana ada nama saya juga sebagai tandanya. Anda bisa lihat sendri bukan,” ucap ku.


Dalam portofolio tersebut, aku memasukkan  semua gambar desain ku, foto hasil rancangan ku yang sudah terealisasikan, di mana aku berfoto pada saat acara peresmiannya sebagai perancang tempat tersebut.


Pria tua itu terlihat puas dengan apa yang ku berikan. Dia kembali memasukkan semuanya ke tempat tadi, dan kembali menatapku.


Aku seketika tersenyum dengan mengangkat sebelah ujung bibir ke atas. Dengan penuh percaya diri, aku bangkit dan membereskan semua barang milik ku dan memasukkannya kembali ke dalam tas.


Saat berdiri, aku mengulurkan tangan ke arah Presdir Wang. Pria itu hanya mendongak dan balas mengulurkan tangan.


“Terimakasih sudah menerima saya di sini, Tuan,” ucap ku.


Setelah itu, aku pun mulai bekerja di perusahaan tersebut menjadi salah satu arsitek muda yang jenius.

__ADS_1


Minggu berikutnya aku mulai bekerja di sana dan langsung mendapatkan proyek mendesain sebuah rumah warga kelas atas. Dari sana lah aku mulai menarik Moses, pemuda yang ku kenal di kapal waktu itu untuk ikut bersama pekerja bangunan lainnya dalam menggarap proyek tersebut.


Lambat laun, Moses yang rupanya memilki kemampuan dalam hal memimpin, ku jadikan sebagai mandor di setiap proyek yang ku dapatkan.


Tak disangka, Presdir Wang pun memperhatikannya dan mengetahui bahwa pemuda itu adalah orang yang ku bawa.


Melihat kinerjanya yang memuaskan, akhirnya Moses diangkat sebagai kepala bagian pelaksanaan di perusahaan tersebut.


Kami berdua semakin akrab setiap harinya, namun meski dekat, satu hal yang pasti, aku sama sekali tak pernah mengatakan siapa aku sebenarnya, bahkan pada pemuda itu sekalipun.


.


.


.


.


Udah ya bestie 🥰hari ini segini dulu🙏maaf benget, lagi ada perlu soalnya☺


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2