Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Melewatkan satu fakta penting


__ADS_3

Sore hari, selepas pulang dari kerjanya, Liana diantarkan Falcon kembali ke asrama, yang disiapkan oleh The Palace untuk Liana dan timnya selama menangani proyek Paradise.


Saat ini, Liana baru saja selesai mandi dan akan berganti pakaian. Dia hanya mengenakan bathrobe dan mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.


Falcon tiba-tiba masuk dan melihat gadisnya itu sedang duduk di depan cermin.


Sepanjang hari, Liana terus diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Falcon yang  merasakan hal itu pun akhirnya bertanya pada kekasihnya.


Dia berjalan mendekati Liana, dan meraih handuk di tangan gadis tersebut. Pria itu mengusap-usap rambut basah itu agar air tidak lagi menetes dari sana.


“Kau kenapa, Sweety?” tanya Falcon.


Dia melihat pantulan wajah Liana di cermin. Diam, dingin dan datar. Benar-benar tanpa ekspresi.


“Aku baru menyadari satu hal,” ucapnya.


“Apa itu?” tanya Falcon cepat.


“Jika aku menyerang Amber Callister, bukankah berarti dua klan penguasa di Empire State akan memiliki skandal yang besar? Keluarga ayahku dan juga kakekmu pasti tak akan tinggal diam pada kita,” ucap Liana.


Falcon menghentikan gerakan tangannya dan menatap lurus ke arah pantukan sang gadis.


“Jadi, apa rencaanmu selanjutnya?” tanya Falcon.


“Entah. Awalnya hari ini aku berencana untuk mulai menyerang Amber Callister. Ini kesempatan bagus saat kakekmu meminta ku datang ke rumah. Itulah kenapa aku langsung setuju, karena dengan hal itu aku bisa bertemu dengan nyonya pertama di sana. Tapi setelah ku pikirkan lagi, ternyata aku melupakan satu fakta penting bahwa Amber Callister adalah nyonya pertama di keluarga Harvey,” tutur Liana.


Terdengar helaan nafas panjang dari bibir gadis itu. Falcon yang merasakan kecemasan Liana pun membungkuk dan memeluk gadisnya dari belakang. Dia meletakkan dagunya di pundak Liana, dengan wajah mereka yang sejajar menghadap ke arah cermin.

__ADS_1


“Jadi, apa kali ini kau mau bilang bahwa kau kurang perhitungan?” tanya Falcon


“Mungkin lebih tepatnya aku gegabah. Sudah dua hal yang aku lewatkan. Hilangnya Nyonya Mo dan juga kemungkin ini,” ucap Liana.


“Sweety, kau tidak mengetahui tentang Nyonya tua Mo, jadi bagaimana bisa kau memperhitungkan hal itu sebelumnya, dan lagi untuk masalah Nyonya pertama, kau masih memiliki aku. Apapun yang akan mereka lakukan, aku akan selalu ada di sisimu. Bukankah itu yang kau butuhkan?” ujar Falcon.


Liana memiringkan sedikit kepalanya agar bersandar di kepala Falcon. Dia menyilangkan kedua tangannya sendiri, seolah tengah memeluk dirinya, dan meraih tangan Falcon yang melingkar di pinggangnya.


“Ehm... Aku memang benar-benar beruntung memiliki mu. Rasanya begitu nyaman saat ada bersama denganmu,” ucap Liana.


Gadis itu menutup mata, meresapi perasaan yang saat ini ia rasakan. Sebuah dukungan dari orang terkasih, yang selalu ada setiap saat dan mendukung apapun yang ingin ia lakukan.


“Setelah ini semua selesai, bagaimana kalau kita menikah?” ajak Falcon.


Liana seketika membuka mata, dan menolah ke arah prianya itu.


“Memang kapan aku pernah tidak serius?” tanya Falcon balik.


“Lalu kakekmu?” tanya liaLianaka lagi.


Falcon mengurai satu tangannya dan menyentuh pipi sang gadis. Rasa hangat benar-benar menjalar ke seluruh tubuh Liana, hanya dengan satu sentuhan itu. Kedua mata mereka saling tatap. Falcon seolah tengah menyalurkan kekuatan, dan juga keyakinan pada gadisnya yang saat ini sedang gundah.


“Kita akan tetap menikah, dengan atau tidak adanya persetujuan dari keluargaku. Sejak awal mereka sudah membuangku, jadi untuk apa aku peduli dengan pendapat mereka. Kau akan tetap menjadi pemilik hatiku, istriku, ibu dari anak-anak ku, hem,” ucap Falcon.


“Apa kau yakin?” tanya Liana.


“Of course, I am,” sahut Falcon.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum tipis mendengar perkataan dari kekasihnya. Kedua mata mereka masih terpaku satu sama lain. Falcon semakin mendekatkan wajahnya ke arah Liana, dan mengecup bibir ranum nan pias itu sekilas.


Namun rasanya, tidak akan pernah cukup jika hanya sebuah kecupan. Liana pun paham dan dia kemudian membuka bibirnya, untuk mempersilakan Falcon masuk menjelajah kehangatan rongga mulut Liana.


Aroma mint segar dari pasta gigi yang dipakai Liana, memenuhi indra penciuman Falcon. Pria itu memagut bibir atas dan bawah gadisnya hingga semua basah oleh saliva.


Gigitan kecil pun tak luput ia berikan, membuat Liana melenguh lirih disela sesapannya.


Sadar jika hasratnya mulai menguasai, dan sesuatu telah bangkit di bawah sana, Falcon pun menyudahi momen mesra ini.


Dia mengusap bibir gadisnya yang basah dengan ibu jari.


“Cepatlah bersiap, atau kakekku akan menyeret kita ke rumahnya jika terlalu lama,” ucap Falcon.


Liana pun tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu. Dia pun mengangguk. Gadis itu berdiri dan berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil baju ganti.


Sedangkan Falcon, pria itu memilih keluar lagi dari kamar itu, dan menunggu gadisnya di ruang tamu.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2