Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Datang


__ADS_3

Menjelang sore hari, di sebuah ruangan besar yang nampak tak asing, Liana terbangun dari pingsannya.


Pandangannya masih kabur, dan rasa pening yang kuat tersisa di kepalanya. Perlahan, dia membuka mata, dan mencoba menyesuaikan pupilnya dengan cahaya di sekitar.


Sebelah tangannya terangkat dan memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, dan menarik tangan satunya untuk membantu dia bangun dari berbaring.


Namun, dia merasa sesuatu yang berat menindih tangannya dan membuat Liana menarik sedikit kuat, hingga tangan itu terlepas dari benda berat yang menindihnya tadi.


Liana pun bangun, dan mendapati seseorang tengah tertidur di sampingnya dengan posisi kepala bersandar di tepi ranjang, dan kedua lengannya menjadi bantalan.


Gerakan Liana tadi rupanya mengusik orang tertidur tersebut hingga dia pun terpaksa ikut bangun.


“Sweety! Kau sudah bangun?” tanya orang itu yang tak lain adalah Falcon.


Liana begitu terkejut melihat kehadiran kekasihnya yang tiba-tiba telah berada di sisinya.


Falcon bangun dan duduk di samping Liana. Dia merangkul gadis itu dan memastikan apakan dia baik-baik saja.


“Apa kau merasa ada yang tak nyaman, hem?” tanya Falcon penuh perhatian.


Liana tak menjawab. Kepalanya terlalu pusing untuknya menanggapi pertanyaan dari Falcon. Dia pun menyandarkan punggungnya di dada sang pria. Sementara Falcon memeluk Liana dari belakang.

__ADS_1


“Kenapa kau bisa demam? Apa kau tidak makan dengan benar sampai bisa sakit begini?” tanya Falcon cemas.


“Apa kau datang kemari hanya untuk memarahiku, Honey?” tanya Liana lirih.


Gadis itu masih merasa lemas karena demamnya yang cukup membuat tubuhnya kehilangan cairan, jika saja tidak dibantu dengan infus dari Q.


Andai tidak segera mendapatkan pertolongan dari dokter itu, Liana bisa saja terkena kejang karena demam yang cukup tinggi semalam.


“Aku langsung terbang ke mari saat Long memberi tahu ku bahwa kau demam tinggi, dan sedang berada di Grey Town. Apa kau harus berbuat sampai seperti ini hanya demi membuatku datang menemuimu?” seru Falcon.


“Cih! Narsis! Apa kau pikir aku sudah benar-benar b*doh seperti yang dikatakan anak kecil menyebalkan itu?” keluh Liana.


Baru saja membuka mulut hendak menjawab,  Liana tiba-tiba teringat akan sesuatu yang membuatnya pergi dari rumah pantai Q di tengah malam, dan membuatnya kembali diam.


Falcon yang merasakan gadisnya tak lagi menimpali pun mencoba mendekat dan melihat wajahnya.


“Apa karena ayahmu?” tanya Falcon.


Liana menoleh ke arah Falcon. Pria itu membeku kala melihat mata gadisnya telah berkaca-kaca, bahkan sebulir bening telah lolos dari pelupuk matanya.


Falcon pun membawa Liana masuk ke dalam pelukannya dan membiarkan gadis itu menangis di dalam dekapan sang bos gangster.

__ADS_1


Dia terlihat diam, akan tetapi wajahnya memancarkan ekspresi yang begitu mengerikan, seolah dia tengah memberi peringatan bahwa siapa pun yang membuat Liana menangis, mereka akan menerima balasan darinya.


Tangannya mengusap lembut surai hitam gadis tersebut, namun tatapan matanya begitu tajam dan dingin menerawang ke depan.


Kita punya musuh yang sama. Tak disangka, takdir mengerikan ini justru yang mempertemukan kita. Aku akan pastikan semua yang telah membuatmu menderita selama ini, akan merasakan penderitaan berkali-kali lipat, batin Falcon.


.


.


.


.


Sore bestie 🥰nungguin yah🤭maaf ya tadi ada sodara dateng dari jauh😁nggak enak dong kalo ditinggal ngehalu🙏


aku bakal up beruntun nih biar kalian nggak lama nunggunya😁so, tungguin aja ya 😘


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2