Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Tertunduk


__ADS_3

“Apa artinya aku ini untuk mu? Apa benar kata si Chen itu kalau aku sangat tidak berguna, sampai-sampai kau sama sekali tak mau melibatkan ku pada semua rencanamu?” ucap Falcon.


Pria itu sekuat hati menahan emosinya agar tak sampai lepas kendali, dan berujung menyakiti gadis itu. Awalnya dia ingin menenangkan diri sementara waktu, namun Liana yang keras kepala malah tak mau berpisah darinya.


Mau tak mau, Falcon pun harus menghadapi si gadis yang suka seenaknya itu, meski dalam kondisi hati yang masih sangat kesal.


“Bukan begitu, Honey. Kau sangat berharga untukku. Aku hanya tak mau kau khawatir berlebihan dan...,” sanggah Liana.


“Apa kau tau bagaimana gilanya aku saat tahu kau hilang? Apa kau tau betapa paniknya aku saat melihat kubangan darah di tengah pondok itu? Kau bilang tak mau membuatku khawatir, tapi apa kau sadar kalau kau sudah membuatku hampir mati karena cemas!” cecar Falcon.


Pria itu menoleh seketika dan menyela perkataan Liana yang menurutnya begitu egois.


“Darah di pondok? Tapi aku sama sekali tak keluar dari mobil, Honey. Kau dengar sendiri kan cerita ku tadi?” sanggah Liana.


“Mana ku tau! Apa kau mengatakan sebelumnya padaku? Sama sekali tidak bukan? Aku sudah sering mengatakan padamu untuk menggunakanku semaumu. Tapi apa? Ternyata aku tak berguna di matamu, sampai kau lebih memilih untuk bekerjasama dengan sepupumu. Bahkan sepertinya anak buahku lebih berguna untuk mu dari apa aku sendiri,” tepis Falcon cepat.

__ADS_1


Liana sudah tak bisa lagi berkata-kata. Semua alasannya disanggah dengan telak oleh sang kekasih. Kini dia benar-benar sadar, jika memang apa yang dia lakukan sudah keterlaluan.


Gadis itu mulai ketakutan dengan semua kemarahan Falcon saat ini. Dia pun hanya bisa tertunduk. Untuk pertama kalinya, seorang Liana wang, si gadis yang selalu angkuh dan bisa membalikkan perkataan lawan, kini tak berdaya di hadapan Falcon.


Hatinya sakit. Bukan karena bentakan dari sang bos gengster itu, melainkan karena kesalahannya yang sudah membuat pria tersebut jadi bersikap seperti ini padanya.


Falcon menoleh sekilas dan melihat ke arah gadisnya yang tertunduk tak menyahut sepatah katapun. Sangat berbeda dari Liana yang biasa.


Dalam hati, Falcon sadar tak seharusnya meninggikan suaranya di depan Liana. Akan tetapi, dia tak bisa membohongi dirinya bahwa dia sangat marah dengan tindakan Liana yang seenaknya menempatkan dirinya sendiri di dalam bahaya.


Rasa pedulinya yang besar, membuatnya hilang akal dan menjadi khawatir berlebihan. Apalagi saat melihat kubangan darah di tengah ruangan pondok.


Sehingga saat dia mendengar kabar bahwa salah seorang petugas keamanan proyek yang memberitahukan bahwa Liana berjalan seorang diri di jalanan, Falcon segera bergegas menyusulnya dan mendapati jika gadis itu menuju ke arah stasiun.


Emosinya kembali memuncak, saat dia melihat gadisnya tengah bertemu dengan sepupu yang pernah menaruh hati pada Liana, dan nampak seolah tak terjadi apapun hari itu.

__ADS_1


Dia tak bisa lagi menahan emosinya, dan seketika menarik lengan Liana untuk mengajaknya pergi dari sana.


Dia hampir memukul Christopher, saat pemuda itu mencegahnya membawa pergi Liana. Namun, gadis itu bertindak cepat dan membuat fokusnya untuk menyerang hilang seketika.


Setelah mendengar penjelasan Liana tentang kejadian hari itu, Falcon merasa bersyukur karena tak ada hal serius yang terjadi pada gadisnya. Akan tetapi rasa kesalnya masih belum hilang.


Hingga kini, mereka berada di tepi sebuah pantai di sisi timur kota.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2