
“Tuan, Nona Wu dan Nona Shu sudah sampai,” ucap Jack.
Pria tua itu pun menoleh dan melihat kedua gadis yang masih berdiri di depan pintu lift. Tuan Harvey tersenyum ramah ke arah mereka dan berjalan menghampiri keduanya.
“Oh... Selamat datang Nona Wu, Nona Shu. Bagaimana perjalanan kalian kemari?” sapa Tuan Harvey.
Pria tua itu menjabat tangan kedua gadis tersebut secara bergantian.
“Sangat mengesankan. Ini pengalaman pertama saya naik pesawat. Ditambah, kondisi kota ini yang begitu banyak menginspirasi. Apa lagi ketika melihat bagian dalam gedung Anda, sungguh luar biasa,” puji Liana.
“Nona Wu sampai tak bisa berkedip sangkin takjubnya,” sindir Nona Shu.
“Hahahaha... Aku senang kalian menyukainya. Mari, silakan duduk,” seru Tuan Harvey.
Dia mengajak kedua tamunya menuju ke mini bar yang ada di sana, sementara Jack bertugas sebagai barista dadakannya.
“Jack, bawa berkas-berkas ini ke atas meja sana. Kita harus menjamu tamu dengan baik, jangan sampai membuat mereka tegang,” ucap Tuan Harvey.
Jack pun menurut. Dia meminta semua berkas yang di pegang oleh Liana dan Nona Shu, kemudian meletakkannya di atas meja kerja yang ada di ujung ruangan.
Setelah itu, dia kembali ke mini bar, dan membuatkan minuman untuk tamu mereka.
“Buatkan yang ringan saja. Anak gadis tidak baik mabuk, apa lagi di siang hari begini,” seru Tuan Harvey pada Jack.
“Boleh minta jus buah saja?” seru Nona Shu.
“Ah, kalau begitu buatkan kami semua jus buah segar, Jack,” ulang Tuan Harvey.
Jack pun membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa buah untuk dijadikan jus buah segar. Sementara itu, Tuan Harvey, Liana serta Nona Shu terlihat asik bercengkerama.
“Bagaimana kabar presdir kalian?” tanya Tuan Harvey.
“Kabar beliau sangat baik,” jawab Liana.
“Syukurlah. Ku dengar, dia sudah mau memasang ring di pembuluh jantungnya,” tanya Tuan Harvey lagi.
“Benar, Tuan. Beliau telah pulih kembali dari operasi tersebut, dan kini semakin terlihat membaik dari sebelumnya,” jawab Liana.
“Ehm, itu bagus sekali,” sahut Tuan Harvey.
Jus mereka telah siap, dan menemani perbincangan santai ketiga orang tersebut.
Setelah beberapa saat, Tuan Harvey mengajak tamunya menuju ke meja kerjanya. Mereka mulai membahas mengenai proyek kerja sama yang akan ditandatangani hari ini.
__ADS_1
Liana dan Nona Shu berusaha yang terbaik untuk mendapatkan kontrak tersebut.
“Ehm, baiklah. Sepertinya ini akan sangat bagus. Kalau begitu, kita langsung saja menandatangani kontrak kerjanya,” seru Tuan Harvey.
Nona Shu kemudian menyiapkan dua berkas kontrak kerjasama, yang mana akan ditandangani oleh Tuan Harvey dan juga dirinya sebagai perwakilan dari Wang Construction.
“Dengan begini, The Palace resmi memakai jasa perusahaan Wang Construction dalam proyek Paradise,” Seru Nona Shu.
Tuan Harvey berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Nona Shu. Wanita itu pun ikut bangkit dan menjabat tangan pria tua di depannya, bergantian dengan Liana.
“Baiklah. Aku percayakan proyek ini pada kalian,” ucap Tuan Harvey.
“Kami akan lakukan yang terbaik untuk menciptakan kawasan hunian sesuai dengan apa yang Anda impikan, Tuan,” sahut Liana.
“aku menantikannya,” timpal Tuan Harvey.
Keduanya bertukar nota kontrak, dan menyimpannya untuk keperluan masing-masing.
“Untuk merayakan kerja sama ini, bagaimana kalau aku undang kalian berdua makan malam di rumah tua milik ku,” ajak Tuan Harvey.
Liana dan Nona Shun saling pandang, mendengar ajakan dari pria tua di hadapan mereka.
“Hanya makan malam biasa. Kebetulan hari ini cucu laki-laki ku pulang. Sangat jarang sekali dia mau datang ke kota ini dengan sendirinya. Biasanya, aku harus menangkapnya dulu baru bisa dibawa pulang. Kebetulan juga hari ini kalian disini, jadi aku sekalian ingin menunjukkan pada kalian, rumah tua milikku dan memperkenalkannya. Siapa tau nanti kalian bertemu dijalan dan dia butuh bantuan, aku bisa tenang karena ada yang menolongnya,” jelas Tuan Harvey.
“Baiklah, Tuan Harvey. Karena kami juga masih ada waktu satu hari lagi, jadi kami terima niat baik Anda,” sahut Nona Shu.
Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan pria tua ini? Sikap santai dan cueknya, justru membuatku takut, batin Liana.
...👑👑👑👑👑...
Di tempat lain, di sebuah kedai kopi yang berada di sekitar gedung The Palace, terlihat seorang pria tengah duduk sambil terus memperhatikan ke luar jendela.
Kedua lengannya terlipat di depan dada, dengan sebelah kakinya yang bertopang ke atas. Punggungnya bersandar penuh di kursi, dengan tatapan yang tak pernah beralih sedikit pun dari pintu keluar gedung The Palace.
Wajahnya begitu datar dan dingin. Dia bahkan sama sekali tak menyentuh minuman yang dipesannya.
Terlihat seorang pria lain menghampirinya, dan duduk di kursi sebelah depan pria tadi.
“Sepertinya, proses penandatanganannya telah selesai. Aku melihat Nona Wu dan rekannya turun dengan lift,” lapor Nine.
“Ayo kita bersiap. Kita harus terus mengikuti mereka,” seru Falcon.
Dia pun mengambil kacamata hitam dan topi yang sejak tadi berada di atas meja, yang ia gunakan sebagai alat penyamaran, dan hendak beranjak dari sana.
__ADS_1
Namun, gerakannya terhenti saat tiba-tiba beberapa pria berjas hitam menghampiri dan menegurnya.
Falcon dengan datarnya melihat ke arah mereka, dan tetap berjalan hendak menerobos para pria tersebut.
“Maaf, Tuan muda. Kami diperintahkan Tuan besar untuk membawa Anda pulang,” seru salah satu pria berjas.
Dia menghalangi jalan Falcon, dengan mengulurkan tangannya ke samping.
“Minggir!” seru Falcon.
Dia lagi-lagi mencoba untuk pergi, namun sama sekali tak dihiraukan , hingga Falcon pun mulai kesal.
“Ku bilang minggir! Apa kalian tidak bisa bahasa manusia?” maki Falcon.
“Maaf, Tuan muda. Ini perintah dari Tuan besar,” sahut si pria berjas.
“Aku tidak mau kembali ke neraka itu! Dan jangan pernah berharap,” ucap Falcon.
“Tuan berpesan, jika Anda menolak, maka Anda tak akan pernah melihat gadis arsitek dari Golden City lagi,” tutur si pria berjas.
“Apa?!” pekik Falcon.
Nine pun sama terkejutnya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia bahkan menoleh ke samping dan semakin terkejut, saat melihat jika Liana masuk ke dalam mobil, yang dikendarai oleh Jack, asisten Tuan Harvey.
“Bos!” panggil Nine.
Falcon menoleh ke arah yang sama, yang dilihat oleh Nine. Tangannya mengepal kuat dengan rahang yang telah mengeras.
“Kurang ajar!” geram Falcon.
“Mari, Tuan. Ikut kami pulang dengan baik-baik,” seru si pria berjas.
Nine dan Falcon saling pandang. Kekhawatiran nampak jelas di wajah Nine, namun berbeda dengan Falcon yang sedari tadi terus memasang wajah datar dan tatapan dingin.
.
.
.
.
Udah dua bab ya bestie 😁satu lagi ntar malem kalo nggak ya sahur, tergantung mata ku mau diajak melek apa nggak😅✌
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘