
Tahun-tahun berganti, tak terasa hampir dua tahun sudah aku bergabung dengan perusahaan tersebut, dan sudah banyak mendapatkan proyek pembangunan gedung yang kini menghiasi landscape kota tersebut.
Tak terasa juga, sudah satu tahun ini Moses bekerja sebagai kepala bagian pelaksana, yang menangani semua proses pembangunan yang garap oleh perusahaan itu.
Saat itu, karena perusahaan sudah mulai berkembang pesat, kehidupan Presdir Wang pun semakin membaik. Levelnya di masyarakat pun kini sudah masuk jajaran orang-orang berpengaruh, sehingga pria tua itu mencari jasa pengawal pribadi untuk melindungi diri dan keluarganya dari orang-orang yang tidak suka dengan pencapaiannya tersebut.
Suatu ketika, aku melihatnya berjalan dengan seorang pemuda seusia ku, dengan raut wajah yang kaku seperti balok kayu. Mereka berjalan ke arah kantor sang presdir.
Kebetulan saat itu aku memang sedang menunggunya untuk membicarakan tentang gambar desain terbaru yang akan ku gunakan untuk next project. Rasa penasaran membuatku bertanya pada Presdir Wang tentang pemuda kaku itu, dan seperti biasa jawabannya selalu saja ketus.
“Ada urusan apa kau bertanya soal dia? Apa akhir-akhir ini perusahaan kekurangan tender sampai kau bisa sesantai itu mengurusi urusan lain?” tanyanya sambil menunjuk pemuda yang berdiri tegap di samping pintu.
“Aku hanya penasaran saja, Tuan. Apa kau tidak penasaran juga?” tanya ku balik.
Presdir Wang Terlihat memicingkan matanya mendengar perkataan ku tadi. Aku pun kembali membuka suara.
“Apa Anda tidak penasaran apakah dia itu manusia atau robot? Lihat saja, kaku sekali,” sahutku.
“Hei, Jimmy! Dia bilang kau itu terlalu kaku seperi robot. Benarkan kataku,” ucap Presdir Wang.
__ADS_1
“Maaf, Tuan. Tapi, saya memang sudah seperti ini sejak awal,” sahut pemuda bernama Jimmy tersebut.
“Apa boleh ku ajak dia bersantai sekali-kali? Yah, hanya untuk membuat dia rileks seperti manusia saja,” tanyaku.
“Hei, Anak muda. Tugasmu itu memberiku banyak proyek bagus dan menghasilkan uang. Tugas dia hanya menjaga keamanan ku saja. Tidak usah repot-repot mengurusinya!” seru Presdir Wang.
“Haih! Kau ini pelit sekali. Hei, Jimmy. Aku ada di Infinite Clube setiap malam di akhir pekan. Datanglah kalau kau mau,” ucap ku pada si kaku itu.
Dia tak merespon sama sekali saat itu, akan tetapi aku tahu jika pemuda seusianya, pasti senang datang ke tempat hiburan seperti itu.
Setelah berbicara dengan Presdir Wang, aku pun kembali beraktifitas mengumpulkan pundi-pundi emas untuk Pak tua Wang.
Apa yang kami lakukan? Tentu saja duduk-duduk sambil minum beberapa gelas alkohol, dan melihat para gadis cantik dengan balutan pakaian seksi berlalu lalang di sana sini.
Ada yang dengan sengaja menggoda kami, ada yang hanya berlalu saja seakan sedang jual mahal, ada yang mengajak kami berdansa di lantai dansa, bahkan ada yang sengaja datang dan menawarkan diri menemani kami minum.
Sebagai pria sejati dan normal, bagaimana aku menolak hal baik tersebut. Tapi, aku tidak sampai kelewatan melakukan one night stand dengan gadis tak jelas seperti mereka itu.
Apa lagi Moses, kawanku. Dia selalu membawa ku pulang ke tempat tinggal kami, setiap kali aku mabuk dan tak bisa berjalan pulang sendiri. Ah, benar. Aku belum bilang kalau semenjak tiba di kota ini, aku dan Moses tinggal di tempat yang sama.
__ADS_1
Dia seperti pengawal pribadi ku. Entahlah, aku hanya merasa seperti itu saja, karena Setiap kali aku mendapat kesulitan, selalu ada dia yang membereskan.
Terkadang, aku merasa ada yang aneh dengan pemuda ini. Dia seolah menjauhkan ku dari setiap gadis yang mencoba dekat denganku. Baik itu sesama karyawan di Wang Construction, gadis pelayan caffe yang ada di seberang gedung, atau gadis mana pun yang mencoba dekat denganku.
Aku sempat berpikir, apa mungkin dia memiliki kelainan orientasi s*ksual? Tapi, saat ku tanya, dia menjawab tidak.
Ah, entahlah. Yang jelas, selama dia bisa diandalkan dan tidak memperkosa ku, itu tidak masalah dan kami masih bisa berteman.
.
.
.
.
pagi bestie 🥰sarapan datang ☺
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘