Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Tamat riwayat mu, Nyonya


__ADS_3

Setelah kepergian Alice, Liana mengurai pelukan Falcon. Peter berjalan terpincang-pincang ke arah sang putri dan memastikan jika anaknya dalam kondisi baik-baik saja.


“Kau tak apa-apa, Nak? Bagaimana wajahmu? Aku lihat tanganmu juga tadi berdarah,” tanya Peter khawatir.


“Aku tak apa. Q, bisa tolong bawa ayahku ke rumah sakit? Dia butuh perawatan,” ucap Liana dan meminta tolong pada Q.


“Baiklah,” sahut Q.


“Tapi, Nak...,” sanggah Peter.


“Aku masih ada urusan dengan wanita itu. Setelah selesai, aku akan menyusulmu ke sana,” sahut Liana meyakinkan.


“Berhati-hatilah, Nak,” seru Peter.


Q pun memapah Peter turun ke bawah, dan meninggalkan tiga orang itu di puncak menara.


Liana kemudian berjalan mendekati Amber yang masih meringkuk kesakitan di sudut ruangan. Wanita itu sudah tak tahu lagi harus berbuat apa.


“Semuanya telah selesai. Riwayatmu sudah tamat. Membusuk lah di penjara dan hadapi semua penghinaan yan akan kau dapatkan. Hukuman seperti inilah yang sangat sesuai untuk orang seperti mu,” ucap Liana.


“Bunuh saja aku! Aku tak mau masuk penjara,” teriak Amber.


“Membunuhmu sama saja aku mengampunimu. Aku ingin kau merasakan hidup bagai di neraka. Lebih menderita dari kematian itu sendiri. Nikmatilah hukuman mu, Nyonya bangsawan,” jawab Liana.


“Apa kau kira bisa dengan mudah memenjarakan ku, hah? Ingat! Aku adalah Nyonya Harvey. Istri pertama dari David Harvey. Pak tua itu pasti tak akan membiarkan nama baik keluarganya tercemar,” ucap Amber.

__ADS_1


Wanita itu masih punya pikiran untuk melawan Liana. Dia masih tak mau menyerah. Amber paling takut jika namanya hancur dan tak bisa menikmati hidup mewah lagi nantinya.


Liana nampak muak dengan semua ocehan Amber. Dia pun berjongkok tepat di hadapan wanita yang terus memegangi luka sayatan yang dibuat oleh gadis itu.


“Jika aku jadi Tuan Harvey, lebih baik membuang satu bunga yang busuk, dari pada membuat bunga-bunga lain di vas terlihat buruk. Apa kau paham maksudku?” ucap Liana.


Amber membelalak. Dia menggeleng dengan cepat seolah menolak perkataan Liana.


Sayup-sayup terdengar dari kejauhan suara sirine mobil petugas polisi. Amber semakin gugup. Dia benar-benar ketakutan saat ini.


Wanita ambisius yang mementingkan derajat sosial, serta kejam dan mampu melakukan apapun demi melancarkan semua urusannya itu, kini akan berhadapan dengan kekuatan hukum yang sudah pasti akan mencoreng namanya.


“Tidak. Dia pasti akan membantuku! Ingat, kau tak punya bukti apapun untuk memasukkan ku ke dalam penjara!” ucap Amber di sela ketakutannya.


Mereka pun menggiring Amber, satu-satunya pelaku penculikan yang masih hidup dan memang sengaja dibiarkan hidup, untuk mendapatkan hukumannya di penjara.


Liana memapah Falcon turun, dan melihat wanita itu terus berteriak dan meronta agar dilepaskan. Dia bahkan berkali-kali mengancam petugas, bahwa mertuanya bisa dengan mudah memecat semua polisi yang sudah menangkapnya.


Namun kali ini, tak ada yang akan mendengarkan teriakan Amber, karena prosesnya dikawal langsung oleh Nine, yang bertindak sebagai perwakilan dari Lunar Grup atas perintah Falcon.


Peperangan telah selesai. Semuanya pun mulai meninggalkan lokasi penyekapan, dan tersisa beberapa polisi yang mengamankan TKP.


Falcon membawa gadisnya menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, pria itu terus memeluk Liana dengan posesif nya. Membuat gadis itu merasa tak nyaman dengan posisi duduknya.


“Apa kau akan memelukku seperti ini terus sampai ke rumah sakit?” tanya Liana.

__ADS_1


“Tidak. Bahkan sampai dokter memeriksamu dan kau tidur pun aku akan terus memelukmu seperti ini,” sahut Falcon.


Suaranya masih saja terdengar datar dan tak ada ekspresi. Liana mendongak melihat wajah kekasihnya itu. Terlihat jelas kecemasan masih tersisa di sana, meski peperangan telah usai dan semua bisa kembali dengan selamat.


Liana pun mengangkat tangan dan hendak menyentuh pipi prianya. Namun, dia urungkan karena rupanya tangannya benar-benar berlumuran darah.


Dia pun menarik kembali tangannya dan memilih memeluk pria besar itu.


“Percuma kau sembunyikan tanganmu itu. Aku sudah melihat semuanya,” ucap Falcon.


“Hah... Baiklah. Baiklah. Aku tidak akan melakukan apapun lagi. Peluk saja aku semaumu,” sahut Liana.


Mobil pun melaju dengan cepat menuju ke rumah sakit, agar Liana segera mendapatkan penanganan trauma dan medis.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2