
Keesokan paginya, Falcon terlihat bangun dengan kondisi sakit kepala yang teramat. Tenggorakannya kering dan panas seolah terbakar.
Dia melihat ke sekelilingnya dan tak menemukan apapun yang bisa ia minum. Falcon mencoba turun dari tempat tidur, dengan bersusah payah menahan nyeri di kepalanya.
Nampaknya, pria ini butuh obat pereda pengar. Dia berjalan menuju ke arah kamar mandi, dan minum air sebanyak-banyaknya dari kran wastafel, hingga bajunya basah karena percikan air yang mengalir terlalu deras.
Karena sakit kepalanya itu, Falcon tak peduli dengan bajunya yang basah, dan segera pergi ke lantai bawah begitu saja untuk mencari seseorang, dan meminta obat penghilang mabuk.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh siang. Suasana begitu sepi, mengingat semua penghuni rumah yang pasti telah pergi ke perusahaan masing-masing sejak tadi pagi.
Kini, dia sudah berada di lantai bawah dan berjalan menuju ke arah dapur, berharap menemui salah satu pelayan rumah tersebut.
“Masih hidup kau rupanya?” ucap sebuah suara yang terdengar begitu dingin.
Falcon menoleh ke arah ruang tengah, dan melihat kakeknya sedang duduk sambil membaca surat kabar harian.
Rupanya, pria tua itu tidak datang ke perusahaan hari ini, dan mendapati cucu laki-lakinya itu bangun dengan kondisi yang masih sempoyongan.
Tuan Harvey melipat surat kabar tersebut dan meletakkannya di atas meja, kemudian beranjak dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Falcon dan mengejek sikap sang cucu yang seperti pengecut.
“Kau benar-benar memalukan. Bukan begini sikap seorang Harvey dalam menghadapi sebuah masalah. Jika memang tidak mungkin, sebaiknya lepaskan saja! Untuk apa menyiksa diri sendiri seperti ini? Benar-benar pecundang,” ejek Tuan Harvey.
__ADS_1
Falcon yang sedari tadi diam dan tak menatap kakeknya, tiba-tiba menoleh dan menatap nyalang ke arah pria tua tersebut setelah mendengar perkataan dari Tuan Harvey.
“Sejak awal aku memang bukanlah seorang Harvey. Bukankah Anda sendiri yang menyingkirkanku dari rumah ini. Seharusnya, Anda tetap membuangku hingga akhir. Entah apa tujuan Anda membawa ku kembali ke neraka ini. Tapi yang jelas, Anda tidak berhak mencampuri urusan pribadiku,” sanggah Falcon sengit.
“Baiklah, terserah kau saja. Tapi ingat, tugasmu di sini adalah bekerja di perusahaan ku. Aku tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun, atau semua kebaikan yang sudah kuberikan akan ku ambil kembali, dan jangan harap bisa mendapatkannya lagi,” ancam Tuhan Harvey.
“Silakan saja. Karena aku memang mengharapkan agar Anda kembali membuangku ke jalanan,” sahut Falcon.
Pria itu pun urung mencari obat untuk mabuknya dan kembali ke lantai atas. Dia memutuskan untuk pergi dari rumah besar itu, meninggalkan kakeknya sendirian.
Rasanya benar-benar pengap jika Falcon harus berada di rumah tersebut seharian. Dia terpaksa pulang ke sana, hanya karena sang kakek yang selalu mengancamnya dengan membawa Liana, sehingga membuat Falcon seolah tak mempunyai pilihan.
Namun, setelah kejadian pagi ini, dia bertekad untuk memberontak kepada kakeknya agar sang kakek marah dan kembali membuangnya ke jalanan.
Setelah keluar dari Sky Castle, Falcon tak tau harus menuju ke mana. Dia kemudian teringat dengan Liana, dan Falcon pun memutuskan untuk melihatnya di The Palace.
Setibanya di sana, saat itu hampir jam makan siang, dan rapat dengan perwakilan Wang Construction hampir selesai.
Falcon tak mau tiba-tiba muncul dan membuat Liana kehilangan konsentrasi, mengingat masalah yang sedang terjadi di antara mereka berdua.
Dia pun memilih untuk menunggu gadisnya itu hingga keluar ruangan dan mengajaknya bicara. Namun, setelah melihat Liana keluar, Falcon mendapati jika gadis itu terlihat kelelahan.
__ADS_1
Lingkar matanya hitam yang menandakan bahwa Liana tidak tidur semalaman.
Falcon melihat gadisnya menaiki lift menuju ke lantai tiga. Dia pun diam-diam mengikuti Liana sampai ke lantai tiga dengan menumpang Lift selanjutnya.
Sesampainya di sana, pria itu melihat jika Liana berjalan pelan sambil memungut sebuah bantal, dan membawa benda tersebut menuju ke balik sebuah rak buku.
Dia terus memperhatikan tingkah Liana dari jauh. Hingga akhirnya, Falcon memberanikan diri untuk mendekat, dan melihat jika gadis itu telah tidur, dengan wajah yang tertutupi oleh buku yang tipis.
Dia pun duduk di samping kaki Liana, seraya menghalau karyawan lain yang hendak melewati tempat tersebut.
Hatinya kembali sakit melihat Liana yang seperti itu. Dia yakin jika gadis itu telah menyiksa dirinya karena masalah mereka kemarin, sama halnya dengan dia yang mabuk-mabukan semalam hingga hang over berat di pagi hari.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘