
Hari itu, selepas pertengkarannya dengan Liana, Falcon memutuskan untuk tidak kembali lagi ke perusahaan. Pikirannya kacau karena gadis itu marah, melihat sikapnya yang sangat tidak berpendirian.
Bukan tanpa alasan, tapi semua yang diucapkan Liana adalah kenyataan yang memang saat ini sedang terjadi.
Dia terpaksa pulang, terpaksa menurut, semua itu karena demi menjaga Liana dari ancaman sang kakek. Hingga nanti jika dia terpaksa harus memilih pun, besar kemungkinan dia akan memilih untuk tetap melindungi Liana, meski dia harus melakukan hal yang tidak dia sukai.
Karenanya, saat Liana memintanya untuk berhenti, atau meyakinkannya, Falcon seolah tak mampu mengatakan apapun dan hanya bisa diam, membiarkan gadisnya pergi dengan perasaan hancur.
Saat ini, pria itu tengah melajukan mobilnya menuju ke sembarang arah. Dia tak tau ke mana tujuannya. Yang dia tau hanya mencari udara segar, setelah semua kejadian pahit yang muncul hari ini.
Hingga petang datang, tempat hiburan malam mulai buka dan Falcon masuk ke dalam salah satunya.
Dia mulai minum-minum untuk melupakan kejadian hari ini yang membuatnya sakit hati. Dia marah pada dirinya sendiri karena tak bisa tegas dalam mengambil sikap.
“Sejak kapan aku menjadi seorang banci? Aku sekarang tidak lebih baik dari si germo itu. Hah... Andai Long tau kondisi ku saat ini, pasti dia sangat senang sekali,” racaunya.
__ADS_1
Falcon adalah peminum yang handal. Sebenarnya, dia tak mudah mabuk. Namun, karena banyaknya alkohol yang diminumnya, membuat pria itu mulai hilang kendali bahkan saat jam belum menunjukkan pukul sembilan malam.
Entah sudah berapa banyak botol yang ia habiskan, demi untuk membuat otaknya lupa akan sakit hatinya hari ini.
Saat dirinya sudah tak sanggup duduk tegap, dan bicaranya pun semakin kacau, Tiba-tiba dua orang pria bertubuh besar datang dan membawa pergi Falcon dari tempat tersebut.
Mereka memasukkannya ke dalam sebuah mobil, dan membawa pergi ke suatu tempat.
Di tengah perjalanan, Falcon sempat sadar dan melihat siapa orang-orang yang membawanya saat itu. Dia pun mencoba untuk duduk dan bersandar di kursi.
Kakinya menendang kursi penumpang depan, dan kursi kemudi secara bergantian.
Dia kembali menendang kedua kursi di depannya dengan sisa tenaga, di antara mabuknya.
“Aku sudah kehilangan banyak hal berharga gara—gara orang tua itu, dan sekarang dia membuat gadis itu juga menjauhiku. Sungguh menyebalkan. Aku ingin protes pada bos kalian. Kalian sebaiknya turunkan aku. Hei, ku bilang turunkan aku!” seru Falcon.
__ADS_1
Namun, kedua orang itu seolah tuli dan tak peduli sama sekali dengan racauan Falcon. Pria mabuk itu pun kesal, dan kembali menendang-nendang kursi keduanya.
“Baiklah. Kalau kalian memang sangat senang mengikuti ku, maka ikuti saja aku terus. Tiap hari aku akan mabuk-mabukkan di tempat-tempat yang berbeda. Kalau perlu yang jauh, sampai aku lupa jalan pulang. Selama ada kalian, aku tidak perlu khawatir tidur di jalanan. Tapi akan sangat baik kalau kalian menyerah dan membiarkan aku luntang lantung dia jalan,” cerocos Falcon.
Dia kembali menendang kursi di depannya, dan setelah itu, dia kembali tumbang dan tak sadarkan diri.
.
.
.
.
Hehehe... nungguin ya 🤭 maaf ya, hari minggu waktunya belanja. maklumlah emak-emak 😁
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘