Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Aku sedang kesal


__ADS_3

Setelah menghabiskan hari sabtu pagi dengan kakeknya, Liana pun berpamitan selepas makan siang. Gadis itu harus segera kembali ke Golden City, untuk menghadiri acara peresmian gedung rumah sakit yang baru selesai dibangunnya.


Meski sang kakek ragu melepas Liana datang ke acara tersebut sendiri, mengingat gadis itu akan bertemu dengan orang yang dibencinya, akan tetapi Liana terus membujuk sang kakek agar tetap tenang dan membiarkannya pergi sendiri.


Setelah berpamitan, Liana pun bergegas menuju ke Golden City dengan Chevrolet nya. Pengawal Falcon yang sejak jumat sore ikut bersamanya di mansion Dream Hill pun, kini ikut kembali bersamanya ke Golden City


Mereka sama sekali tak mau kecolongan lagi, seperti kejadian terakhir yang melibatkan Henry dan juga Alice, kedua anak buah kepercayaan Moses Jung saat berusaha membawa pulang Christopher.


Di perjalanan, pepohonan tampak mulai tak berdaun, pertanda bahwa musim dingin akan segera datang. Dia terlihat menghela nafas panjang, seolah tengah memikirkan banyak masalah yang cukup berat.


Di saat itu, seseorang melakukan panggilan ke nomor ponselnya. Liana yang sedang berkendara pun meraih earphone yang selalu ada di dalam dashboard mobilnya, dan memasangkan di salah satu telinganya.


Dia tak begitu memperhatikan siapa si penelepon, dan hanya menekan tombol hijau saja.


“Halo,” sapa Liana.


“Hai, Liana. Aku sudah sampai di Golden City,” ucap suara di seberang.


“Apa mereka juga sudah datang?” tanya Liana.


“Meraka datang bersamaku. Menyebalkan. Aku harus menahan diri di depan orang itu saat anaknya terus berlendotan di lenganku,” keluh orang di seberang.


“hahahahaha... Tahanlah, Sepupu. Nanti malam kau akan bersamaku. Tenang saja,” sahut Liana.


Christopher rupanya menelepon untuk mengabari bahwa dirinya telah tiba di Golden City bersama dengan Moses dan juga Lusy.


“Kau benar, Liana. Ada yang aneh dengan hubungan antara dua orang itu seperti yang kau katakan terakhir kali,” ucap Christopher.

__ADS_1


Sebelah sudut bibir Liana pun terangkat. Tatapan matanya tajam melihat ke depan, seolah saat ini dia tengah melihat targetnya.


“Bagus. Ini semakin bagus. Mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan nanti malam. Semoga sesuatu yang menghebohkan terjadi. Baiklah, sampai jumpa nanti malam,” sahut Liana.


Sambungan pun segera dimatikan oleh Liana. Namun, baru saja dia mencopot earphone dari telinganya, tiba-tiba ponsel berdering kembali, membuat gadis yang tengah fokus menyetir itu pun kembali memasang alat pendengar dan menekan tombol hijau di layar ponselnya.


“Ada apa lagi, Chris?” tanya Liana cepat.


“Chris? Apa maksudmu Christopher Chen?” tanya suara di seberang.


Liana terkejut hingga tanpa sadar menginjak rem, hingga mobil berhenti seketika. Kepalanya nyaris terbentur setang, jika lengannya tak melindungi di depan.


Dia pun kemudian melihat di layar, nama siapa yang tertera di sana.


Gawat! batin Liana.


“Liana. Aku menunggumu! Kau baik-baik saja bukan? Ada apa kau dengan Tuan muda Chen itu, hah? Jadi, kau sedang main-main di belakangku saat aku tak ada?” lanjut orang di seberang yang tak lain adalah kekasih Liana, Falcon.


“Ehm.. Ehem... Hai, Honey. Apa kau sudah sampai?” tanya Liana kikuk.


Dia memukuli kepalanya sendiri karena sudah tertangkap basah oleh kekasihnya.


“Baru saja mendarat, dan aku sudah mendapat kejutannya. Sebaiknya aku minta pilot untuk kembali terbang saja sekarang,” rengek Falcon.


“Eh... Tunggu dulu! Kau tidak bisa pergi sekarang! Kau bilang mau membantuku, bukan?” bujuk Liana.


“Tidak jadi! Sepertinya kau sudah mendapatkan bantuan dari orang lain. Aku pergi saja,” ucap Falcon yang masih merengek.

__ADS_1


“Honey, pleaseeeeeeeee! Kita bertemu sekarang, oke. Aku sedang di perjalanan dari tempat kakekku. Kau mau bertemu di mana? Cafe? Resto? Atau..,” bujuk Liana.


“Apartemenmu!” sela Falcon cepat.


“O... Oke! Kita bertemu di sana. Jangan pergi sekarang. Ingat, kau sudah janji!” ucap Liana.


“Cepatlah! Aku sedang kesal,” sahut Falcon ketus.


“Kalau begitu, ku tutup teleponnya ya. Love u, honey. Muuuaaaaaahhhhhhh!” ucap Liana.


Sambungan pun dimatikan. Liana tak tahu jika di ujung sambungan, Falcon tersenyum-senyum sendiri dengan ucapan dan tingkah gugup Liana. Meski awalnya dia sedikit kesal karena gadisnya salah menyebut nama dan mengira dirinya adalah orang lain.


“Sambutan yang manis,” gumam Falcon.


Sementara Liana, gadis itu segera tancap gas dan menuju ke Golden City untuk menemui kekasihnya yang sedang merengek.


.


.


.


.


Nah kan Keceplosan 🤭ntar malem kalo ketahuan jalan bareng begimane non? 🤦‍♀️


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2