
Sebuah pesawat jet telah mendarat di Golden Airport tepat pukul enam petang. Seorang pria turun dari sana dengan membawa sebuah tas ransel di punggungnya.
“Tuan besar mengatakan jika Anda bebas tinggal di mana pun. Kami tidak akan ikut campur selama Anda menurut dan tidak berusaha kabur,” tutur salah satu pengawal Tuan Harvey yang ikut bersama Falcon.
“Lakukan saja tugas kalian. Aku tak peduli!” sahut Falcon.
Pria itu kemudian pergi dan memanggil sebuah taksi. Dia menuju ke Emerald Hotel, tempat acara akan dilangsungkan.
Saat dia sampai di hotel, iring-iringan mobil Presdir Wang juga telah sampai di sana. Nampak Liana dan Kakek Joseph keluar dari sebuah Limousine yang berhenti tepat di depan pintu masuk.
Saat itu, Falcon tengah berada di depan meja resepsionis hendak mengambil kunci kamar yang sudah dipesannya.
Dia sengaja memakai topi dan menyembunyikan wajahnya, agar tak dilihat boleh Liana.
Gadis itu pun merangkul lengan sang kakek dan berjalan melewati Falcon begitu saja.
Syukurlah kau baik-baik saja. Seminggu tak jumpa, kau tumbuh dewasa dan semakin cantik, batin Falcon.
Pria itu diam-dian mengagumi sosok Liana, yang saat itu telah didandani sehingga terlihat begitu anggun dan berkelas.
Setelah rombongan Kakek Joseph dan Liana naik ke atas, Falcon pun berjalan menuju lift dan menunggu lift yang mana akan membawa ke kamar hotelnya.
Waktu menunjukkan hampir pukul delapan. Falcon telah bersiap pergi ke acara yang diadakan Wang Construction. Dia pun segera menuju ke tempat acara akan dilangsungkan.
Sesampainya di sana, dia diarahkan oleh seseorang untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan. Kebetulan, kursinya berada di meja tengah, sehingga jauh dari jalan masuk yang akan dilalui oleh Liana dan juga Kakek Joseph.
Tepat pukul delapan, kedua orang pemilik perusahaan Wang itu pun masuk ke dalam aula besar tersebut. Liana terus merangkul lengan sang kakek hingga ke meja paling depan.
Dari tempatnya berada, Falcon bisa melihat dengan jelas betapa cantiknya gadis yang selama ini dekat dengannya, dan menjadi kelemahannya di depan sang kakek.
Saat acara inti akan berlangsung, Falcon pergi dari mejanya, dan memilih untuk berada di salah satu sudut ruangan. Dia sengaja berdiri di sana, agar dapat melihat Liana dengan jelas, saat gadis itu berada di atas panggung.
Namun, saat Liana telah naik, gadis yang baru saja membungkuk memberi salam kepada seluruh hadirin itu, justru menangkap keberadaannya Falcon di belakang sana.
Kedua pandangan mereka bertemu dari jarak yang cukup jauh. Untuk beberapa saat, mereka membeku. Namun, sebuah interupsi dari Kakek Joseph, membuat Liana terpaksa menoleh dan melepaskan pandangannya dari pria, yang selama seminggu ini membuat hatinya tak karuan.
“Sampaikan sesuatu pada semua orang,” seru Kakek Joseph.
Pria tua itu mengulurkan microphone kepada cucu perempuannya. Liana pun meraihnya dan kembali menoleh ke depan. Matanya seketika tertuju pada tempat di mana ia melihat keberadaan Falcon tadi.
Namun rupanya, sosok pria yang sudah mengusik hatinya, kini tak lagi berada di sana dan kembali membuatnya kecewa.
“Ayo, Nak,” seru Kakek Joseph membuat Liana tersadar.
__ADS_1
Gadis cantik itu pun melanjutkan acaranya, karena tak ingin membuat malu sang kakek di depan semua hadirin. Terpaksa, dia mengesampingkan urusan pribadinya terlebih dahulu, dan menunggu hingga acara selesai.
...👑👑👑👑👑...
Acara besar Wang Construction malam ini, telah diliput oleh berbagai kantor berita dari berbagai kota di seluruh negeri. Berita besar ini disiarkan secara langsung baik di televisi maupun online.
Di sebuah mansion besar, di sebuah kamar pribadi, seorang pemuda tengah menyaksikan jalannya acara dengan mata yang berbinar.
“Akhirnya kau menemukan kembali keluargamu. Aku turut senang, Liana. Maaf karena aku tak bisa menjadi bagian dari hari bersejarah mu ini,” gumamnya.
Saat dia larut dalam pikirannya, seseorang datang dan mengagetkannya dari belakang.
“Hei, Jagoan! Kulihat kau senang sekali hari ini. Apa ada sesuatu yang bagus?” tanyanya.
“Paman! Kau mengagetkanku!” keluh pemuda tadi.
Pria yang dipanggilnya paman itu pun terkekeh dan memutari sofa yang diduduki keponakannya itu. Dia kemudian duduk di sana bersamanya.
“Syukurlah kau sudah bisa tersenyum. Sejak kakekmu membawamu pulang kemari, wajahmu selalu saja murung. Tapi lihat, sekarang kau justru tersenyum. Katakan pada paman, ada hal baik apa, hem?” seru sang paman.
“Aku hanya sedang menonton acara di televisi,” sahut pemuda itu.
“Benarkah?” sang paman pun menoleh dan melihat ke arah layar datar di depan mereka.
“Paman penasaran, acara apa yang membuatmu bisa sesenang ini,” ucap sang paman.
“Lihat saja sendiri,” sahut si pemuda.
“Apa mereka sedang menyiarkan seorang gadis?” Terka sang paman.
Seketika wajah pemuda itu merona, dan membuat sang paman tergelak.
“Oh, jadi rupanya Tuan muda Chen sedang jatuh cinta. Hahaha...,” kelakar sang paman.
Ya. Pemuda tersebut adalah Christopher Chen. Wartawan sekaligus senior Liana, yang merupakan cucu laki-laki pertaman dari Empire Group.
Sejak dipaksa pulang, dia selalu murung dan lebih senang mengurung diri di kamar. Layaknya seorang tuan muda manja yang merajuk, semua orang berusaha membuat Christopher senang tinggal di rumah. Hal itu, tak lepas dari perintah sang kakek yang ingin agar cucu laki-laki nya itu bersiap untuk belajar mengurus perusahaan.
Namun, pemuda itu merasa tertekan berada di rumah besar keluarganya. Begitu banyak tuntutan dari sang kakek yang membuatnya sesak nafas. Tak ada kebebasan sedikit pun di sana.
Setiap hari hanya perintah dan perintah. Seolah hidupnya telah benar-benar diatur oleh sang kakek, dan tak boleh ada bantahan sedikitpun darinya atau orang lain.
Hanya paman ketiganya saja yang selalu menjadi teman bagi pemuda itu. Seorang tuan muda yang memilih melajang seumur hidup, sebagai bentuk pemberontakan kepada sang ayah.
__ADS_1
Keduanya kini tengah melihat siaran televisi di kamar Christopher, yang selalu terbuka untuk sang paman.
“Aku tidak jatuh cinta, Paman. Aku hanya mengaguminya saja,” Ucap Christopher.
“Ayolah. Kau bisa jujur pada paman. Untuk apa berpura-pura seperti itu,” goda sang paman.
Christopher nampak bersemu. Tak dipungkiri, perasaannya pada Liana memang begitu dalam, hingga dia rela mencari keberadaan gadis itu di tengah pelariannya.
“Baiklah. Karena kau tak mau memberi tahuku, aku semakin penasaran jadinya. Coba kita lihat, seperti apa gadis yang sudah membuat Tuan muda kita bersemu semerah tomat,” ejek sang paman.
Televisi kini telah kembali ke acara utama setelah deretan iklan yang cukup banyak. Saat itu, ditampilkan sebuah pertunjukan musik yang menjadi hiburan di acara tersebut.
Kedua pria beda generasi itu pun terus menunggu sang bintang acara muncul di layar datar tersebut.
Hingga akhirnya, kamera mulai menyorot Kakek Joseph yang tengah berada di atas panggung.
“Presdir Wang?!” gumam sang paman.
“Paman mengenalnya?” tanya Christopher.
Baru akan menjawab, tiba-tiba tubuh sang paman membeku, saat melihat sosok Liana yang sedang duduk di samping Kakek Joseph.
Tanpa disadari, dia bangkit dan mendekati layar televisi. Pandangan matanya seketika berair dan terlihat kerinduan yang teramat. Tangannya terulur begitu saja, dan menyentuh layar yang masih menampilkan dua orang yang berada di atas panggung.
Bisa dilihat dengan jelas, jika tangannya itu menyentuh wajah Liana. Sebutir bening lolos dari pelupuk mata saat tangannya menyentuh layar tersebut.
“Lilian,”
.
.
.
.
Nah lho, siapa tuh si paman-paman? 🤭
jangan lupa ikutan eventnya yah, kali aja bisa dapet THR kecil-kecilan dari othor😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1